Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

REUNI

Oleh : Habib Arham

( Karena kita tidak pernah ada kemampuan untuk memutar kembali waktu yang telah berjalan.. )

  Jarum jam baru saja menjamah angka enam. Pagi pun masih dicekat gerimis lebat. Tiba – tiba dering telepon menyalak, merampas keheningan yang hampir memuncak.
“Apa kabar kawan ?” seseorang menyapa di loudspeaker.
“Alhamdulillah baik, Rud. Tapi maaf, kemungkinan aku tidak datang di acara nanti,” pria kurus itu menjawab dengan tatap menerawang.
“Aku sangat yakin, kamu pasti akan datang,” suara temannya kembali terdengar namun tidak terlalu jelas, seperti diracaukan tiupan angin keras.
“Kamu tidak sedang memaksaku, bukan ?”
“Aku tidak memaksa. Tapi ada satu hal yang pasti bisa membuatmu berubah pikiran.”
“Satu hal apa ?”
“Admira.”
Pembicaraan itu terhenti sesaat. Nama yang baru saja disebut, membuat lelaki itu seperti mendadak gugup. Rupanya dia perlu mengatur nafas, seolah ingin menyembunyikan benaknya yang cemas.
“Aku yakin kamu sedang berpikir, Arga.”
“Ada apa dengan Admira ?”
“Iya, aku baru saja mendapat kepastian bahwa Admira akan datang di acara reuni,” suara di loudspeaker bersemangat.
“Aku tidak akan berjalan mundur ke masa lalu. Aku sudah punya keluarga, Rud.”
“Setiap orang berkesempatan untuk menghapus ruang silam yang menggelisahkan. Admira adalah bagian terbesar dari sejarah penantianmu. Kamu masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Kamu tentu tidak ingin menyimpan sebuah tanda tanya di sepanjang hidupmu. Aku yakin, pasti kamu akan datang.”
“Kali ini kemungkinan tebakanmu akan salah.”
“Aku masih yakin, bahwa aku adalah satu – satunya pendengar yang baik dari semua ceritamu. Jangan bohongi hati kecilmu ! Kamu pasti ingin bertemu dengan Admira.”
“Aku tidak janji.”
“Sudahlah, sampai ketemu nanti ! O iya, jangan lupa acara dimulai jam delapan tepat,” setelah perkataan itu tiba – tiba terdengar suara telepon yang terputus.

Suasana kembali hening.

***

Di sudut taman, tepatnya di sebuah kursi besi berwarna magenta, Arga duduk sendiri. Sejak beberapa saat yang lalu, pria berambut crew cut itu sengaja menjauh dari hingar bingar acara reuni yang tengah berlangsung di hall. Dia rupanya tidak bisa menikmati riuh canda dan tawa keceriaan dari kawan - kawan lamanya. Pria itu justru lama merenung. Seolah ada ruang hampa yang belum berhasil dia temukan. Seperti ada sebersit harapan di dalam hatinya yang belum mendapati jawaban.

Sebatang anyelir tampak ikut tertunduk. Pucuknya yang menjuntai, sesekali hanya bergerak menjamahi bahu tanah. Gerimis bahkan telah habis. Namun pucuk langit masih disandera oleh gulungan mendung. Angin dingin musim penghujan menghampiri, mengajak angan lelaki itu untuk kembali terpendar ke masa silam.

Di sekolah inilah 15 tahun silam Arga menikmati masa remajanya. Sangat lekat di ingatannya, masa – masa riang ketika dulu masih berseragam putih abu – abu. Dia tidak akan pernah lupa, saat di sela – sela pelajaran, dia sering menyempatkan waktu untuk menyendiri. Menjauhi keramaian untuk sekedar memandangi hijaunya taman.

Rupanya hari ini dia harus memaklumi bahwa fase hidup sudah berjalan begitu jauh.
Rupanya hari ini dia harus kembali mendengar bahwa episode panjang masa remajanya kembali ditayangkan. Berita dan cerita tentang kawan lama kembali hilir mudik. Seolah dia sedang disadarkan, bahwa Tuhan telah menjadikan segala ruang dan peran tanpa ada yang sia – sia.

Begitu banyak cerita tentang kawan – kawan lamanya.

Haris, si Jangkung yang dulu sering mencontek saat ulangan. Sekarang menjadi pengusaha kuliner di Bali. Puluhan merk usahanya bahkan sudah berhasil dia waralabakan.
Ikbal, si Jenius yang dulu selalu rangking di kelas. Sekarang sudah menjadi manager di sebuah perusahaan asing. Dia tetap menjadi sosok yang dominan, terbukti ketika dengan bersemangat dia menceritakan kendaraan SUV four wheel drive keluaran Eropa yang konon baru dibelinya.
Susan adalah ketua kelas yang dulu idealis dan selalu aktif di organisasi. Sekarang dia telah menjadi seorang Kepala Sekolah di sebuah yayasan yang sedang berkembang.
Zulkifli, temannya yang cenderung bandel dan sering membolos ketika jam pelajaran. Sekarang dia telah menjadi ustadz di sebuah pesantren modern. Ternyata Zulkifli telah berhasil merubah penampilannya menjadi pribadi yang sangat bijaksana.
Ada lagi berita tentang Andi, seorang teman yang dulu periang dan selalu membuat teman – temannya tersenyum. Ternyata manusia tidak akan bisa menghindar ketika Sang Rabb telah berkehendak. Andi harus mempunyai takdir usia yang begitu muda karena Tuhan telah memanggilnya pulang dalam sebuah peristiwa kecelakaan.

Masih banyak cerita haru, sisi senang, dan perihal mengejutkan yang sejak tadi dia simak .

***
Begitulah dunia ketika semua berjalan tanpa terduga. Begitu pun dengan kedatangan Arga di acara reuni yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Admira. Entah bagaimana awalnya, karena sangat di luar dugaan ketika sosok itu kini benar – benar telah berada di hadapannya.

“Rudi memberitahuku, bahwa kamu sedang berada di sini,” ucapan itu keluar dari bibir Admira, perempuan berparas cantik yang selalu menyunggingkan senyum.
“Satu kehormatan bisa berbincang dengan Ibu Admira yang terhormat.”
“Berbincang dengan teman lama, mengajak kita untuk mengetahui banyak hal bahwa perjalanan hidup ternyata telah jauh bergeser dan berubah,” kembali wanita itu berucap.

Sejujurnya Arga sudah lama berkesimpulan bahwa Admira adalah perempuan yang tidak pernah menghiraukannya. Seseorang yang akhirnya sering menggugat lamunan. Seseorang yang akhirnya menjadi penantian panjang tanpa sempat dia mampu mendekatinya.
“Ya, waktu memang selalu mengajak kita untuk berubah,” Arga berusaha untuk berkata dengan tenang, “O iya, berapa lama kita telah terpisah ?”
“Mmm.. lima belas tahun,” perempuan di depannya menjawab seraya menerawang.
“Lebih tepatnya lima belas tahun lima bulan,” Arga melengkapi. Seolah dia sangat mempersiapkan kalimat tersebut.

“Boleh aku bertanya sesuatu ?” kat - kata Arga sedikit terbata.
“Tentu boleh. Sangat boleh.”
“Mmm.. menurutmu masa lalu itu apa ?”
Wanita di depannya tidak langsung menjawab, namun sejenak mengambil posisi duduk di kursi yang kosong.
“Menurutku, masa lalu adalah tempat yang teramat jauh, melebihi jauhnya bulan dan bintang. Karena dia telah menjadi sisi senang yang hanya bisa kita kenang, atau bahkan hela nafas yang hanya bisa kita hembus lepas. Jangan berharap dia datang, karena kita akan masuk bayang - bayang. Dan jangan menunggunya dengan waktu banyak, karena kita akan jatuh dan terjebak,” jawab Admira sembari menatap langit.

Arga dipaksa terbengong. Agaknya dia sulit percaya bahwa sebuah keajaiban sedang terjadi. Sesuatu yang menurutnya luar biasa karena ternyata seorang Admira rela meluangkan waktu untuk bertemu dan berbicara dengannya.
“Aku setuju dengan filosofimu. Satu hal yang sekarang aku paham, ternyata dirimu sangat cerdas.” Arga berkilah.
“Hmm.. kata – katamu berlebihan, Arga.”
Begitu sejuk telinga lelaki itu ketika mendengar namanya disebut oleh wanita di dekatnya.
“Boleh aku bertanya lagi ?” seolah ingin segera menuntaskan sebuah beban di batinnya, Arga kembali bertanya.
Admira memberi isyarat anggukan, menandakan bahwa dia tidak keberatan.
“Benarkah di masa lalu kamu pernah membenci seseorang ? Mungkin tepatnya, membenci seseorang yang dulu sering duduk di taman ini ?”

Kali ini Admira benar - benar tersenyum lebar. Sangat jelas pula jika wanita itu tengah menampakkan raut muka heran, “Atas dasar apa kamu berkesimpulan seperti itu ?”
“Ya, sejak lama aku ingin menanyakan hal ini, namun sepertinya aku tidak pernah punya kesempatan. Setahuku hal itulah yang telah terjadi. Aku hanya mendengar dari seseorang yang lebih dekat denganmu.”
“Aneh sekali, ada orang yang mengatakan seperti itu.”
“Tapi, sekarang kamu bebas menjawab, karena aku siap mendengarnya,” kata - kata Arga hampir tercekat.
“Tidak benar. Sama sekali tidak benar. Dulu aku tidak membenci siapa pun,” Admira menggeleng keras, “Justru yang telah terjadi adalah waktu itu aku sangat mengagumi seseorang.”
“Mengagumi seseorang ? Kalau boleh tahu, siapa orang itu ?”
“Dia adalah seseorang yang dulu sering menyendiri di salah satu sudut halaman sekolah ini.”

Arga tidak bisa menyembunyikan ketika wajahnya tiba – tiba memucat. Perasaan sulit percaya dia buktikan dengan berkali menggelengkan kepala.
“Apakah aku tidak salah mendengar ?”
“Aku yakin lambat laun kamu akan percaya. Kadang – kadang kita memang sulit untuk menebak perasaan seseorang. Persis seperti berkaca di cermin yang retak. Tragisnya, ada sebagian orang yang di dalam hidupnya berkeputusan untuk mengingkari kebenaran perasaan dan memilih menjadi pengagum dalam diam,” Admira menegaskan.
“Sungguh, jawabanmu sangat mengharukan,” bibir Arga gemetar, seperti ada langit penyesalan yang runtuh dan memenuhi ruang di dadanya, “Jika saja kamu mengerti, dahulu seseorang pernah menatapmu dengan banyak menggantungkan harapan. Begitu besar harapan tersebut, sehingga dia sering merasa tersakiti dan terpinggirkan, hanya karena hal - hal kecil yang mungkin tanpa sengaja kamu lakukan.”
“Ya.. kalau hal itu yang memang terjadi, aku mohon maaf, Arga. Aku benar – benar mohon maaf. Aku yakin Tuhan tidak pernah salah memberi kita perasaan, walau kadang dia seperti fatamorgana. Sesuatu yang jauh tiba - tiba serasa bisa kita rengkuh, sebaliknya sesuatu yang berada di depan mata kadang harus menjadi ruang penantian yang sangat lama.”
“Ya, terima kasih Admira. Sekali lagi aku terharu dengan kata – katamu. Namun bagaimanapun aku harus menyadari, bahwa kita tidak tercipta untuk masa lalu. Kita telah ditakdirkan untuk masa sekarang.”

Admira tertunduk, ternyata wanita itu sedang menyembunyikan matanya yang sempat berkaca – kaca.
“Setidaknya aku telah mengetahui, bahwa hal menyakitkan di masa lalu terjadi karena kita berada di jalan pikiran yang berbeda.”
“Ya. Terima kasih, Arga.”
“Aku juga mengucapkan terima kasih yang setulus – tulusnya, atas semua jawabanmu tadi.”
“Sama – sama.”
“Salam untuk keluargamu. Semoga dirimu dikelilingi oleh orang – orang yang selalu membuatmu tersenyum bahagia.”
“Amiin. Doa yang sama untukmu, kawan. Semoga dirimu rela untuk menjadi matahari yang selalu bisa menginspirasiku dari kejauhan.”
“Selamat jalan, wahai bagian nyata hidupku ! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”

Angin terhenti, seolah berat menyaksikan langkah keduanya untuk saling menjauh pergi.

***

Arga benar – benar beranjak. Perasaan haru dan lega menggelayutinya silih berganti. Dia mengucap syukur bahwa sebuah tanda tanya yang tersimpan bertahun – tahun akhirnya telah terjawab.
“Maafkan hamba ya Rabb, jika hamba telah salah dengan sebuah keadaan dan perasaan,” tak henti – hentinya dia berucap lirih.

Sesampainya di halaman parkir, pria itu sempat bersandar di dinding. Dia meraih selembar kertas dan menulisinya dengan sebuah catatan :

( Perasaan adalah ruang samar,
dia bukan sejauh yang terlihat kasat mata,
namun sedalam apa yang mampu kita percaya.
Percaya jika dia bukan sebatas mendatangi atau didatangi,
meninggalkan atau ditinggalkan
dan meraih atau diraih.
Tidak ada yang menang atau terbuang,
karena pemenang sejati adalah dia yang lebih tulus menerima
jika kebahagiaan seseorang menyadarkannya untuk melangkah pergi...
Karena hidup adalah bertahan dengan arus cobaan
dan berusaha berprasangka baik untuk mengarungi sisa waktu
demi merengkuh rahasia terindah-Nya )

Mendung mulai bergeser. Matahari yang mengintip dari celah rekahnya menggambar bayang hitam di sisi pohon cemara yang mencuat di halaman parkir. Diiringi hembusan angin paruh musim, Arga segera menyalakan engine sportbike-nya. Ketika terdengar suara mesin yang meraung, dia telah melesat ke jalan raya. Suasana yang lengang memberinya kesempatan untuk menarik trotle gas sampai menyentuh RPM red line. Beban di hatinya sengaja dia lepas, dinikmatinya hembusan alam bebas.

“Seperti halnya perjalanan matahari, ketika aku merasa begitu dekat dengan kehidupan seseorang, merasakan kesedihan dan kebahagiaan di dalam hatinya, maka senjalah yang kembali menyadarkanku bahwa pada saatnya nanti, matahari pun akan tenggelam dan menyimpan segalanya.”

***

Blog : www.habibarham.blogspot.com

PROSAIS PELABUHAN TANJUNG INTAN

Satu sore aku berdiri, menyabung persendian dengan udara dingin Segara Anakan. Bulan telah terbit lebih dini, menyembul di antara lambung – lambung kapal yang menyandarkan bayangan memanjang. Berulangkali denyut nadi keletihan Pelabuhan Tanjung Intan terdengar. Namun tetap saja ketika warna senja menguasai seluruh permukaan laut, kapal – kapal serentak menyalakan lampu suar. Melahirkan satu pemandangan menyerupai miniatur kota yang terdampar.



Tiba – tiba saja sebuah sisi abstrak menghampiri, mengajakku berkontemplasi. Entah mengapa selalu kutemukan kerinduan yang menggaung di kota ini. Entah mengapa panorama pucuk mangrove seolah menjadi pertanyaan yang sukar aku jawab dengan tepat. Mungkinkah ini menjadi analogi yang selalu sarankan senyuman tulus ? Atau setidaknya mengajakku kembali mengingat, saat suatu hari di salah satu sudut kota seseorang menanyaiku:
‘Mengapa engkau lebih memilih untuk memaafkan dia ?’


Ah, setahuku itulah pertanyaanmu yang sering mengiang begitu dekat.

‘Memaafkan adalah kemenangan yang sulit didapat. Hal itulah yang menyebabkanku selalu berusaha untuk bisa meraihnya. Aku percaya, nilai baik seseorang terkadang lebih tinggi dari sekedar yang kita lihat. Bahkan, kebaikan besar sering pula terselimuti oleh rahasia yang besar. Sehingga sejatinya hanyalah Tuhan yang bisa membaca segala sesuatu dengan adil.’ 

Itulah kata – kataku yang akhirnya disudahi oleh suasana langit yang bersemburat merah saga dan warna pasir yang berangsur dicengkeram gelap.
Seperti juga sore ini, kata – kata itu kembali menyadarkanku : tentang sebuah keterbatasan, tentang kefanaan manusia.

Akhirnya ketika sayup adzan mendekat, aku menyudahi kontemplasi dengan sebuah tulisan :
semoga kita bisa belajar setiap senja menjelang,
karena bulan di langit tidak pernah membatasi atau mengakhiri,
melainkan membantu menerangi jalan,
ketika kita terkadang melangkah di kegelapan.

==========================
Blog lain : www.habibarham.blog.com 

PETUALANGANMU BERAKHIR BUKAN KARENA TERJANGAN BADAI NICOLAS

Mengenang sahabatku : Ld di Cilacap

 

Badai Nicolas sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas perairan Samudra Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat dan sinarnya lebih sering berselinap di awan pekat. Adalah raut cemas yang terus membekas, karena kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin terpaksa harus berhenti di sekitar Teluk Popoh, Besole, Tulungagung setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.

Kejadian tersebut adalah gambaran dari surat terakhirmu yang aku terima Pebruari 1999. Kejadian yang menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana bila harus berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Terbukti keberanian dan jiwa petualangmu pun tetap luluh lantak ketika harus menemui badai dan ombak yang datang mendadak.

‘Padahal Tuhan menciptaku sebagai pengembara’, itulah retorikamu yang begitu penuh semangat. Kata – kata yang pernah kamu ucapkan sewaktu kita harus tersesat dalam petualangan melelahkan untuk menaklukkan hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di kawasan Dayeah Luhur. Satu pengalaman berat yang akhirnya menguji kesabaran kita karena detik waktu bergulir penat. Bahkan serasa hampir sepertiga malam harus kita habiskan untuk kembali menemukan arah terang menuju pegunungan Majenang.

Sahabat, kisah pertemanan kita ibarat rangkaian analogi kehidupan yang menyentuh jiwa. Tuhan telah sempurna menggambar keseimbangan dunia, antara siang dan malam, antara baik dan buruk, antara mimpi dan kenyataan, bahkan antara hidup dan kematian.

Bukankah kita selalu percaya, bahwa hidup dan mati adalah perjalanan penuh misteri, karena hanya Illahi yang mengetahui ? Manusia bisa saja menyusun rencana, manusia bisa saja menebak bayang – bayang, namun tetap saja Yang Maha Kuasa akan menggariskan. Apa yang kita banggakan belum tentu menjadi kenyataan membahagiakan.Termasuk apa yang kita takuti juga belum tentu akan datang mengakhiri.

Seperti kisah hidupmu, kawan. Kemirisanmu terhadap badai Nicolas hanya sebatas rasa cemas, karena ternyata keberanian pengembaraanmu justru harus habis dengan peristiwa yang lebih tragis. Bukan karena terjangan badai dan ombak, tetapi karena kecelakaan yang alangkah menyentak.

Sungguh tidak pernah terlintas di benakku, ketika tiba – tiba berita itu datang merontokkan dada. Suatu siang menjelang Idul Fitri 1419 H, di ruas jalan berliku di daerah Lumbir ( sekitar 40 km arah barat Kota Purwokerto ), daerah yang sering kamu kagumi sebagai lukisan alam yang indah, harus menjadi saksi bisu saat kisah hidupmu, mimpi – mimpimu, dan semua rencana panjangmu harus berakhir begitu cepat.

( Sahabat, namun aku selalu ingat satu kalimat yang dulu kita sama – sama percaya : pengalaman pahit tidak untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan guru sejati. Hal itulah yang rupanya mengilhamiku untuk menuangkan sedikit cerita pertemanan kita – walaupun dalam setting dan alur berbeda – dalam sebuah novel persahabatan berjudul ‘LA CAUDA’.

Akhirnya, teriring salam dan doaku untukmu : semoga Tuhan memberi ketenangan dan kelapangan. Selamat jalan kawan ! )

=================================

LOVE IS BOULEVARD

( Cerpen Refleksi : ketika kebahagiaan dan tangisan menjadi dua sisi yang berbatas sekat tipis )

Oleh : Habib Arham



Ketika Maulana menguak jendela, udara Subuh masih merajut embun penuh. Hilir Sungai Amandit – salah satu sungai kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan – terus berkecipak, mengantar pergi gelap sekerat demi sekerat. Rimbun gelagah pun masih teracak, seolah belum hilang ingatannya dengan kelelahan petualangan bamboo rafting yang kemarin hari mengantar Maulana melewati rute arum jeram dari Loksado, kota kecil berjarak 130 km di luar Banjarmasin.
 
Pengalaman yang begitu berkesan. Mengarungi arus deras sungai yang lepas, melewati balai – balai Dayak Meratus yang dijumpai di kanan kiri, juga keindahan menakjubkan dari kawasan Gunung Kantawanyang. Belum lagi lukisan alam maha sempurna di daerah Kandangan. Rupanya saat ini semuanya menjadi sangat lekat dan singkat, begitu Maulana sadar bahwa tengah hari nanti rombongannya harus segera kembali menyebarangi Selat Bali.

Detik – detik waktu yang berjalan, nyaris habis menjadi sisa terakhir bagi Maulana untuk bisa menghirupi aroma sejuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ini pula sisa waktu terakhirnya bisa menyaksikan raut seseorang bernama Admira, gadis asal Banjarmasin yang telah menemani petualangannya sekitar setengah purnama berkeliling Kalimantan. Satu hal yang akhirnya tidak bisa Maulana menjawab, mengapa saat ini dia begitu berat untuk meninggalkan riak Sungai Amandit ?

Inikah kefanaan harap manusia, ketika mereka terlalu terlena dan merasa berat untuk menghadapi sebuah perpisahan ? Hal itukah yang dialami Maulana hari ini ? Entahlah, hatinya hanya bisa mengawang, bahkan beretorika mengulang.
“Bisakah perasaan terdalam seorang wanita meretas jika seseorang mau mendengar dan menyenangkan hatinya yang dirundung cemas ?”
Sejatinya Maulana tak membutuhkan jawaban, karena hatinya telah terjebak.

Yang dia ingat, cerita dilematis itu terawali ketika suatu sore di sebuah sudut Loksado, dia mendapati seorang Admira termenung dengan kesedihan mendalam dan sudut mata berkaca – kaca. Episode cerita pun terus berjalan, seiring udara bertiupan. Naluri terdalam Maulana selalu menuntunnya, dia ingin menenangkan hati Admira.
“Sungguh , aku tulus,” ucapnya. Namun inilah dunia, ketika semua harus berjalan tanpa teduga. Maulana pun tidak akan pernah berencana saat malam – malam selanjutnya justru menghampiri dengan berlembar misteri. Kegelisahan cinta! Dia tidak bisa menghindar, ketika senyuman – senyuman Admira kini selalu hadir dan membuatnya lama termenung sebelum tidur. Keterbatasan manusia menjeratnya, menyuguhkan taman – taman bunga. 
Entah, maya atau nyata.



***

Malam mulai hening, namun udara jengah belum juga berpaling. Ketika sisa hujan mengering lebih cepat, kini rumput halaman bahkan meluruh ditanggalkan penat. Seperti ada tabir ketakutan datang saat berkali lereng Merapi berkhabar tentang mimpi siang.

Di sebuah rumah di daerah Yogyakarta utara, seorang wanita bernama Safira masih terpaku di bibir ranjangnya. Sinar lampu pijar cukup jelas memperlihatkan sesosok bocah tengah tertidur di sampingnya. Agaknya Sang Bocah diserang rasa lelah karena tidurnya seperti mengandung raut gelisah. Setidaknya beberapa saat yang lalu dia sempat mengigau :
“Bunda.. bunda, ayah sudah pulang ?”

Sudah beberapa sore bocah kecil bernama ‘Lala’ itu selalu berdiri berjam – jam di depan jendela. Seolah sedang mencari sebuah jawaban dari lepas kerinduan di setiap senja menjelang. Selalu dia menyampaikan petanyaan, tidak pernah lupa dia ulangi di setiap petang :
“Bunda, kapan ayah pulang ?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kini menjadi pertanyaan yang sangat sulit bagi Safira untuk menjawabnya.
“Sayang, ayah sudah pulang tadi malam, sewaktu Lala masih tidur. Bahkan ayah sempat tidur di samping Lala, sempat memeluk Lala, terus menyanyikan lagu buat Lala,” entah sudah berapa kali Safira menjawab pertanyaan itu dengan kebohongannya.
“Mengapa ayah tidak membangunkan Lala ?”
“Lala masih tidur, makanya ayah tidak berani membangunkan Lala.”
“Memangnya ayah berangkat kerja jam berapa ?’
“Ya, ayah kerjanya jauh.. Jadi ayah harus berangkat pagi – pagi sekali, sebelum Lala bangun.”
“Ah, kasihan ayah. Kalau begitu nanti malam aku akan menunggu ayah. Lala tidak akan tidur sebelum ayah pulang.”
Sejujurnya Safira selalu dibuat cemas dengan dengan kata – kata Lala. Untunglah, bidadari kecilnya masih bisa percaya dengan cerita dan bujukannya, sehingga dia bisa selalu tidur sebelum gelap betul – betul menjadi sempurna.

Tetapi ada yang berbeda dengan malam ini. Safira betul – betul merasa sesak, hatinya terdesak. Perjalanan waktu seolah berubah menjadi pengembaraan berat. Wanita itu mendadak sangat terharu, sedih luar biasa. Bertumpuk penyesalan menyeruak di dadanya.

Lala adalah sebuah cermin dari Tuhan yang mengetuk dinding perasaannya. Safira merasakan dirinya tedampar dalam senyap. Dia tidak bisa berdusta, dua kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah ketidakjujurannya terhadap Maulana dan bidadari kecilnya, Lala.
Safira betul – betul gelisah, nafasnya habis tertumpah. Dia beranjak, merapat ke koridor jendela. Angannya mengawang, mengembara pekat. Nyaris hanya berteman kehampaan, nyaris hanya lahan gelap dan samudra senyap.

Waktu terus mengalir, semakin jauh bergulir.

Ketika tiba – tiba bumi berguncang, Safira tersentak. Wanita itu memucat. Traumanya terhadap gempa dua tahun silam kembali memuncak. Bergegas di dekapnya tubuh Lala yang masih tertidur, diraihnya, kemudian digendongnya bocah itu keluar rumah.

Suasana di halaman ternyata hanya dipenuhi kesunyian. Hanya terdengar nafasnya yang terengah dan suara bibirnya yang menggumam istighfar. Ucapan – ucapan itu terus mengalir, semakin keras, bahkan sempat membangunkan tidur Sang Bocah dalam dekapannya.
“Kok, bunda menangis ? Kita sedang berada di mana ?” Lala kecil sempat bertanya, rautnya mengggambar ketakutan.
“Sayang, beberapa saat yang lalu ada gempa. Makanya, bunda membawamu keluar dari rumah.”
“Gempa, apakah kita harus takut gempa ? Apakah gempa sama dengan kiamat ?”
“Tentu tidak, sayang. Sudahlah kamu tidak usah takut ya, mudah – mudah tidak terjadi apa – apa.”
“Bunda, aku jadi ingat ayah. Mudah – mudahan ayah tidak takut gempa. Bukankah sebentar lagi ayah pulang. Bunda selalu mengatakan, ayah akan pulang kalau hari sudah malam. Berarti sebentar lagi ayah pulang, Lala akan menunggu ayah.”

Safira tertunduk. Tubuh bocah itu didekapnya lebih erat. Seolah ingin menyembunyikan kesedihan di hati, berulang kali Safira menciumi rambut bidadari kecilnya. Namun tetap saja hati wanita itu betul – betul harus tercabik. Safira tak mampu lagi berkata – kata, ketika akhirnya hanya air bening yang terasa membasahi sudut matanya.

(BERSAMBUNG ke edisi posting selanjutnya..
Salam sastra ! )

KISAH NYATA : CINTA GADIS KECIL "LIE MEI" KEPADA IBUNYA

( Kisah nyata ini dimuat di harian Xia Wen Pao – Cina, pada tahun 2007 )
Diceritakan kembali dengan penyajian bahasa yang berbeda
Oleh : Habib Arham


 
Di pinggiran sebuah kota kecil, hiduplah seorang janda miskin bernama Siu Lan. Sejak suaminya meninggal, dia hanya hidup bersama anak perempuannya yang baru berusia tujuh tahunan bernama Lie Mei. Apa hendak dikata, karena kemiskinanlah yang akhirnya menyebabkan gadis kecil ‘Lie Mei’ setiap hari harus ikut bekerja membantu ibunya berjualan kue di pasar. Tidak seperti anak – anak sebayanya, Lie Mei nyaris tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan canda ria. Dia juga tidak pernah bermanja – manja kepada ibunya. 

Suatu hari, saat musim salju tiba.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat kue, Siu Lan melihat keranjang tempat dagangannya sudah rusak. Perempuan itu pun bermaksud pergi ke pasar, sehingga dia berpesan pada putri kecilnya untuk menunggu di rumah.
“Lie Mei, ibu akan pergi ke pasar membeli keranjang kue. Kamu tunggu saja di rumah ya, tidak usah pergi main.”
Gadis kecil Lie Mei pun mengangguk setuju.

Siu Lan bergegas pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Musim salju yang dingin dia abaikan. Perempuan itu terus berjalan menepis kebekuan yang menusuk persendian. Sesampainya di pasar, Siu Lan langsung mencari barang yang dibutuhkan. Entah mengapa tiba – tiba saja ada perasaan tidak enak di benaknya. Sehingga segera setelah mendapatkan keranjang kue yang dia maksud, Siu Lan pun segera pulang.

Udara terasa begitu membekukan. Gerimis salju kembali turun. Perlu waktu cukup lama bagi Siu Lan untuk menembus kabut dingin sampai dia kembali di rumah.
Dan apa yang terjadi ? Sesampainya di rumah ternyata perempuan itu tidak menemukan gadis kecilnya, Lie Mei. Seketika saja Siu Lan menjadi sangat marah.
“Anak tidak tahu diri, sudah tahu hidup susah tapi masih juga pergi main – main. Padahal tadi aku sudah pesan agar dia menunggu rumah,” umpatnya dalam hati.
Akhirnya Siu Lan pun pergi sendiri menjual kue dan dengan maksud memberikan hukuman untuk Lie Mei, Siu Lan mengunci pintu rumahnya dari luar, tentu agar anaknya itu tidak dapat masuk ke dalam.
“Lie Mei mesti diberi pelajaran,” pikirnya masih dengan emosi tinggi.

Waktu terus berjalan. Siu Lan harus benar – benar berjuang untuk menjajakan dagangan kuenya. Perempuan itu harus menyusuri jalan – jalan kecil di pinggiran kota, mengetuk pintu satu ke pintu yang lain. Dia terus berjuang menjual dagangannya, dia pun terus mengabaikan rasa lelah yang kadang terasa membebaninya.
Tetapi kembali lagi, tiba – tiba ada perasaan gelisah menghampiri batin Siu Lan. Tiba – tiba saja dia merasa telah berbuat salah, tiba – tiba dia seperti disadarkan bahwa dia telah berbuat begitu kejam terhadap anaknya, Lie Mei.
“Ya Tuhan, mengapa aku tega berbuat demikian ? Bukankah dia masih sangat kecil ? Dia masih perlu begembira dengan teman sebayanya. Mengapa aku selalu melarangnya bermain ? Tidak seharusnya aku mengunci pintu dan membiarkannya tidak bisa masuk rumah,” gumam Siu Lan dengan perasaan sangat cemas.

Siu Lan pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Siu Lan sangat terkejut. Wajahnya mendadak pucat pasi. Perempuan itu menemukan Lie Mei, gadis kecilnya, tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk tubuh anaknya yang membeku.
“Lie Mei, Lie Mei,” jerit Siu Lan seraya mengguncang tubuh anaknya.
Siu Lan merasakan tiba – tiba saja langit runtuh menimpanya, ketika menyadari bahwa anaknya ternyata sudah tidak bernyawa. 

Jeritan Siu Lan memecah kebekuan. Ia menangis meraung – raung, tetapi Lie Mei tetap saja tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong tubuh kaku anaknya masuk ke rumah. Siu Lan mengguncang – guncang tubuh putri kecilnya.
“Lie Mei… Lie Mei, maafkan ibu nak.. !!” 

Udara serasa berhenti. Suasana mencekam menghampiri.
Tiba – tiba ada sebuah kotak bingkisan kecil terjatuh dari saku baju anaknya. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Begitu terkejutnya perempuan itu, tangisnya semakin menjadi.
“Maafkan ibu, Lie Mei. Ibu sangat sayang kamu..,” jerit Siu Lan, setelah dia mengetahui bahwa kotak itu ternyata berisi sebuah biskuit kecil yg dibungkus dengan kertas usang. Ada sebaris tulisan yang tidak begitu rapi. Tentu itu adalah tulisan Lie Mei yang memang belum terlalu pintar untuk membuat kata – kata.

“Ibu pasti lupa, ini adalah hari istimewa bagi ibu. Aku hanya bisa membelikan biskuit kecil ini untuk hadiahmu, karena uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Selamat ulang tahun ibu..”.
Kesedihan sangat luar biasa mendadak menyentak di dada Siu Lan. Setumpuk penyesalan dan rasa bersalah seolah harus merontokkan isi dadanya, air matanya terus mengalir..
“Ampuni dosaku Tuhan.. Maafkan ibu, Nak.. Maafkan ibu, Lie Mei.. Ibu sangat mencintaimu.”
============================
Salam Persahabatan. Semoga bermanfaat..
Blog : www.habibarham.blogspot.com

MENYAMBUT GERIMIS

( karena kita tidak bisa memangkas  garis panjang penantian )
Oleh : Habib Arham



Langit nyaris tersungkur jatuh, dibebani gumpalan mendung yang menghambur penuh. Gulungan gelap itu seolah berkali menenggelamkan bahu cakrawala, menjamahi punggung Yogyakarta sampai ke ufuk barat. Malam ini ada kabar kegelisahan mendekat, ketika angin awal musim di paruh Oktober berulang menghampiri ANGGITA, perempuan cantik yang kini terpekur di lobi Bandara Adi Sucipto. Sudah sejak enam jam yang lalu batinnya terpasung, nafas beratnya mendekap setiap sudut mata itu mendapati kedatangan pesawat yang landing di lintasan bandara. Sepintas tergambar harapan berbinar, namun sebentar saja kembali dirampas raut kemurungan.
Sebuah jam oval yang terpasang di dinding ruang tunggu sudah menunjuk angka delapan, pertanda waktu sudah sampai di jam 8 malam.
“RANGGA, apakah aku harus percaya bahwa hari ini kau benar – benar akan mempermainkan perasaan
ku ?” berkali perempuan itu bergumam. Tidak ada yang mendengar, selain sebatang anyelir di sudut tanah yang berkali terdesak oleh terjangan udara jengah.
Padahal beberapa saat yang lalu seorang petugas di bagian informasi telah berkata,
“Kedatangan pesawat dari Surabaya terakhir jam 19.45. Bandara akan off pukul 21.00 setelah jadwal kedatangan pesawat terakhir dari Denpasar yaitu pukul 20.55. Kami kembali buka esok pagi,” begitulah kira – kira jawaban yang tadi dia terima.
“Aku tidak pernah berniat untuk berkesimpulan buruk, namun mengapa kau tidak juga hadir di sini 
Rangga ?”
Mata indah itu berkali menerawang rendah, berusaha membuncahkan sisa semangat di batinnya : bahwa sebuah analogi penantian akan segera berbuah kenyataan.
Anggita, satu sosok yang sangat berharap hari ini adalah hari paling membahagiakan dari deretan nafas panjang masa lalunya. Dia sangat terlanjur percaya bahwa hari ini, keinginannya untuk bertemu Rangga akan segera terwujud. Tentu dalam ingatannya masih sangat melekat, bahwa seorang pria asal Surabaya bernama Rangga selalu mengirimnya kata – kata yang menyemangati,
“Tunggulah aku di bandara, persis di hari ulang tahunmu tiba. Aku akan datang dari Surabaya. Aku akan membuktikan bahwa peliknya cinta yang kita alami akan menjadi fase nyata dari perjalanan hidup. Aku akan buktikan bahwa cerita masa lalu adalah mata rantai kesunyian yang bisa segera kita putus,” begitulah pesan terakhir yang Anggita terima melalui handphonenya dua hari yang lalu, “Percayalah, aku tidak seperti tokoh Peter Parker dalam film Spider Man yang hanya bisa berkata : ‘Aku akan selalu berdiri di ambang pintumu’. Namun Rangga akan bisa menjadi bagian nyata dalam penantianmu.”
Angin dingin menghampiri. 
Pesawat terakhir dari Surabaya sudah tiba hampir 15 menitan yang lalu, banyak orang tampak berlalu lalang, namun seseorang yang Anggita tunggu sejak tadi siang itu belum juga muncul.
Anggita merapatkan bahunya di dinding. Kegelisahan kembali mengganggunya.
Banyak hal melintas di batinnya, namun satu yang paling membuatnya sedih adalah ketika sore tadi di bandara ini dia sempat bertemu dengan sahabat lamanya : Siska.
Anggita masih sangat ingat dengan semua perkataan Siska.
“Anggi, memangnya kamu sedang menunggu siapa ?”
“Mmm.. Aku tidak menunggu siapa –siapa.”
“Tidak mungkin. Pasti kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Mmm, baiklah. Aku sedang menunggu saudara, kebetulan dia kemarin sms katanya mau datang dari Surabaya,” ujar Anggita berkelit.
“Aneh, sudah berapa lama menunggunya ? Memangnya beliau tidak memberitahumu mau datang jam berapa ?”
“Itulah salahku, aku lupa bertanya dia pakai pesawat apa, nomor penerbangan berapa. Ketika tadi siang aku berkali – kali telpon, hand phonenya tidak aktif. O iya, kok kamu bisa berada di sini juga ?”
“Kalau aku habis dari Bali. Terus transit sebentar ke Surabaya, dan seperti yang kamu lihat, malam ini aku sudah di sini.”
“Syukurlah, rupanya kamu jadi orang sibuk sekarang.”
“Biasa saja, ya belajar membantu bisnis suami,” perempuan bernama Siska kembali menimpali, “O iya, kamu masih ingat dengan Rangga ? Teman kita dulu.”
Pertanyaan tersebut, tentu terdengar seperti petir yang menyambar di dada Anggita.
“Pasti kamu masih ingat, dia kan pemuda yang dulu kamu taksir mati – matian,” Siska menyambung.
“Ahh.. kamu tahu dari mana ?”
“Ya tahu lah..Semua teman lama kita juga tahu.”
“Kalau memang benar iya, terus ada apa dengan Rangga ? Kamu pernah bertemu dia ?”
“Iya benar, aku bertemu dia.”
“O iya, kapan ?”
“Tadi siang ! Tadi siang aku bertemu Rangga di Denpasar, dia sedang ada acara bersama dengan istrinya..”
Apa yang disampaikan Siska tentu sangat merontokkan isi dada Anggita, seolah dia merasakan telah dihempaskan begitu kerasnya.
“Benarkah Rangga sedang berada di Bali ? Sedang apa dia di sana ? Tega sekali dia membohongi aku. Tega sekali dia melupakan janjinya padaku,” berulang – ulang Anggita membatin, “Kalau memang dia sedang ada di Bali, mengapa dia tidak memberitahu aku, mengapa handphonenya mendadak tidak bisa dihubungi ? Mengapa dia berani menjanjikan bahwa hari ini akan datang di Yogyakarta ?” Anggita terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.
Perbincangannya dengan Siska tadi sore, tiba – tiba seperti menanggalkan semua harapan di benak Anggita. Harapan yang telah sejak tadi siang dia bangun, kini luluh lantak tercampak ke padang cemas. Terlebih ketika tadi Siska kembali bertanya,
“Apa kamu akan bertahan di sini Anggita ?”
“Ya Siska, aku akan menunggu sampai kedatangan pesawat terakhir dari Surabaya, nanti malam,” Anggita menjawab dengan suara seperti tercekat di tenggorokan. Anggita masih terus berusaha menerbitkan pengharapan terakhir di relung batinnya, bahwa akan ada keajaiban menggembirakan yang akan dia temui malam hari ini.
Akhirnya kini pesawat terakhir dari Surabaya benar – benar sudah tiba. Dan sampai detik ini pun sosok pria yang dia tunggu tidak juga hadir di hadapannya. Anggita masih bersandar di dinding, sendi kakinya serasa gemetar.
“Rangga, maafkan aku karena aku tidak akan pernah berusaha melupakanmu. Percayalah aku mencintaimu bukan karena aku membutuhkanmu… tapi aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu,” gumam perempuan cantik itu seraya tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas punggungnya. Sebuah benda yang sepertinya sudah dia persiapkan itu dia buka, dia keluarkan dari bungkusnya. Sebuah kue tar ukuran kecil dia taruh di bangku. Di pasangnya sebuah lilin, dinyalakannya. Sejurus kemudian, dadanya semakin bergolak. Seolah ada dinding menyesakkan yang terus mendesak air matanya untuk jatuh.

“Maafkan aku Tuhan, aku ikhlas dengan semua takdir-Mu. Tadinya aku berharap bahwa minimal selama hidupku Engkau akan mengijinkan aku untuk bertemu dengan seseorang yang sangat aku cintai walau hanya sekali. Aku sadar Tuhan, aku tidak akan merebutnya dari orang lain, aku hanya berharap bisa bertemu dengan dia. Namun jika Engkau memang telah menggariskan takdirku seperti ini, aku ikhlas Tuhan. Mudah – mudahan dia selalu berbahagia, karena takdir mulianya adalah bukan untuk membuat aku seorang yang tersenyum melainkan membuat seribu orang bahagia.” begitulah kata – kata Anggita. Kini air bening di matanya benar – benar tidak kuasa dia cegah.
Udara masih berhembus dingin, tanpa suara.
Perlu menunggu beberapa saat sampai batinnya tenang, akhirnya Aggita melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu bandara. Dia benar – benar memperoleh kesimpulan, bahwa dia hari ini Tuhan telah mengajarinya tentang sebuah ketegaran yang luar biasa.
***
Sepuluh menitan kemudian, pesawat terakhir dengan tujuan Denpasar – Yogyakarta tiba di Bandara Adi Sucipto. Gerimis turun menyambutnya. Angin pun meniupkan hawa dingin.
***
Rangga lama termenung di depan koridor jendela ruang tunggu Bandara Adi Sucipto.
Berkali – kali pria itu merapatkan kedua tanggannya di depan wajah, seolah ada rasa bersalah yang singgah.
“Anggita, di manakah kamu sekarang ? Apakah kamu telah lama 
menungguku ? Dimanakah kamu sekarang ? Tahukah kamu bahwa hari ini aku benar – benar datang untuk memenuhi janji. Aku ingin melihatmu di dunia nyata, aku ingin melihatmu tersenyum,” kata – kata itu menggumam gemetar di bibir Rangga.
Udara lembab kembali menyebar menyusuri langit – langit rendah bandara yang semakin kosong.
“Ampunilah aku Tuhan, jika aku telah salah dengan perasaan ini. Ampunilah jika aku sangat berharap agar di sisa hidupku ini aku bisa bertemu sekali lagi saja dengan dia. Izinkan untuk menjelaskan kepada Anggita apa yang sebenarnya telah terjadi. Haruskah Anggita pergi dari hidupku dengan cara seperti ini ? Di manakah letak kesalahan ini ? Tuhan, apakah aku bersalah jika aku berniat untuk meluruskan sebuah kesalahpahaman yang pernah terjadi ?” pria itu merapatkan kedua ujung jaketnya dengan tangan.
“Anggita, semoga suatu saat engkau akan tahu, bahwa hari ini aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk datang di sini. Semoga suatu saat kamu akan tahu bahwa hari ini aku benar – benar berjuang agar aku bisa meninggalkan Denpasar demi menemuimu. Semoga suatu saat kamu akan tahu, bahwa sampai detik ini aku pun tidak bisa lagi menghubungi handphonemu. Aku tidak punya lagi nomormu, semua nomor teman – temanku juga hilang. Hpku hilang sejak aku sampai di Bali kemarin.”
“Jika aku diizinkan bertanya kepada Tuhan, aku ingin mengetahui mengapa Tuhan memberiku perasaan ini. Jika benar cinta ini datang di waktu yang tidak tepat, maka cukup aku saja yang menanggung dosa dan perasaan ini. Keinginan dalam hidupku adalah agar dirimu mengetahui bahwa aku sangat mencintaimu, dalam kondisi apapun. Jika pun Tuhan tidak akan pernah mengizinkan kita untuk bertemu, jika pun Tuhan tidak pernah mengizinkan aku untuk bisa memilikimu, ajarilah aku cara untuk memaklumi ya.. Rabbi..” 
Rangga benar –benar terduduk lesu di bangku tunggu, kesedihannya semakin membuncah, ketika tiba – tiba sudut matanya menemukan sebuah benda. Ya, sebuah kue tar yang mungkin beberapa saat lalu sengaja ditinggalkan oleh seseorang di atas sebuah bangku bercat biru toska. Ada sebuah kertas kecil terselip di atasnya. Sederet kalimat yang tertulis sempat dia baca dan seketika pula membuat batinnya tercabik :
JIKA TUHAN MENGIZINKAN, MAKA HARI INI ADALAH HARI YANG SANGAT BERBAHAGIA, KARENA AKU DIBERI KESEMPATAN DALAM SISA HIDUPKU INI UNTUK BERTEMU DENGAN SEORANG YANG SANGAT AKU CINTAI.
Rangga benar – benar tertunduk bisu. Dia paham itu pasti tulisan Anggita.
”Anggita, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat membuat hatimu sakit. Percayalah aku tidak akan pernah lupa dengan kata – katamu dulu : setiap malam tiba, tunggulah aku di sana, karena aku akan datang melengkapi mimpi – mimpi indahmu.” 
Malam semakin merangkak larut. Gelap, dan semakin menyekap.
============================
Seperti yang dimuat di :

SEPENGGAL KISAH CINTA PENYAIR "CHAIRIL ANWAR" YANG MENGHARUKAN

Disajikan secara prosais oleh :
Habib Arham



Jika benar cinta adalah kegelisahan, maka gadis cantik bernama SUMIRAT itu telah mengalaminya. Pandangan pertamanya pada seorang pemuda, nyaris menghadirkan benih – benih kerinduan yang meluruh dalam. Tiba – tiba saja sebuah rasa datang dan menyandera kegundahan di hatinya. Semua berawal di satu hari yang cerah, di paruh musim penghujan tahun 1943. Ketika itu dirinya tengah berlibur bersama keluarga, menikmati keindahan Pantai Cilincing di daerah Jakarta Utara. Gadis muda berusia 20 tahun itu dibuat sangat terpesona saat mendapati seorang pemuda duduk bersandar pohon di tepi pantai. Lama Mirat tertegun, angin sejuk tiba – tiba serasa terhenti dan tersenyum di ambang pintu benaknya,
“Ah siapakah pemuda itu ?” gumamnya berkali – kali.

Pemuda pencuri hatinya terlihat begitu tenang. Seolah tidak perduli dengan hiruk pikuk dan lalu lalang manusia di sekitarnya. Dia terlalu sibuk membaca buku, bahkan terlalu seriusnya sampai– sampai dia tidak menyadari bahwa Mirat tengah memandanginya secara mendalam.
“Siapakah dia ?” gambaran penasaran kembali terlintas, beterbangan rendah di langit cemas.
Sejak saat itu rupanya bayangan si pemuda harus sering hinggap dan menyita ruang lamunan Sumirat. Bahkan di hari – hari selanjutnya, gadis kelahiran Paron Madiun yang juga murid dari pelukis Affandi itu harus merasakan kegelisahan yang begitu hebat. Setiap dia mencoretkan kuas tinta, di benaknya selalu terbayang sosok pemuda misterius.
Dan babak keajaiban cinta akhirnya datang ! Beberapa minggu setelah kejadian di Cilincing, Tuhan mengabulkan keinginanan Mirat untuk bertemu dan berkenalan dengan pemuda pendiam itu.
Ternyata dia adalah seorang penyair yang bernama ‘CHAIRIL ANWAR. Hanya Chairil muda, belum sebesar seperti saat sekarang. Dia bahkan hanya seorang pemuda miskin dengan penghasilan yang tidak menentu. Dia hanya sesosok perenung kesunyian dengan cibiran banyak rekannya. Dia hanya sosok pemuda dengan masa depan kabur, itulah menurut teman – temannya. Namun Mirat tidak bisa menyanggah kesucian cinta. Walau kondisi Chairil sangat jauh dari gelimang harta, namun hal demikian sama sekali tidak menyurutkan sebuah perasaan suka. Ketertarikan cintanya pada Chairil begitu kuat.

Seiring berjalannya waktu, Mirat akhirnya bisa dekat dengan Chairil. Gayung pun bersambut, karena ternyata sang Penyair mempunyai perasaan yang sama. Kedua insan muda itu mulai terlihat akrab. Mereka seperti telah siap jika harus menjalani romantika cinta yang pedih perih. Bagaimana tidak ? Sepasang kekasih itu hanya beberapa kali saja bertemu. Tidak ada hal – hal besar mereka kabarkan, hanya sesekali berkeliling menaiki sepeda sembari melihat lorong – lorong jalan pelosok dan bibir tebing pesawahan. Dorongan cinta sucilah yang menyebabkan Mirat sangat menikmati perjalanan cinta sangat sederhana. Cinta di hatinya bahkan sama sekali tidak menuntutnya dengan nilai materi.
Keduanya pun seperti sepasang kekasih yang saling mengisi. Mereka terikat pada situasi yang serasi dan bersahabat. Ketika Sumirat melukis dia selalu di temani oleh puisi – puisi karya sang Kekasih. Begitu pun ketika Chairil menulis dia selalu ditemani oleh lukisan – lukisan gadis pujaannya. Mereka sangat lekat, persis seperti tinta dengan kertas, atau cat dengan kanvas.
Tidak berlebihan jika Sumirat sering berkata dengan semangat, “Sungguh ideal kehidupan kami, sungguh menyenangkan”. 

Namun bukan babak dunia, jika dia tidak menghadirkan problematikanya ! Tidak semua keinginan akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Begitu pun dengan kisah cinta keduanya. Ideal bagi Mirat, ternyata sebaliknya bagi orang tuanya. Hal itu pula yang akhirnya menjadi lobang menganga dari kisah cinta mereka. 
Hingga di satu waktu Sumirat pun harus betul – betul meninggalkan Jakarta. Dia diminta pulang oleh orang tuanya di Paron, Madiun, Jawa Timur. Seketika selubung mendung tiba – tiba seperti menggulung. Namun Chairil dengan tatapan penuh semangat tetap berusaha meyakinkan kekasihnya,
“Dalam waktu dekat aku akan menyusulmu ke Madiun. Aku akan datang menemui orang tuamu dan menyampaikan keinginanku untuk melamarmu kekasihku.”

Akhirnya janji itu pun benar – benar ditepati oleh Chairil. Dia memberanikan diri untuk menemui orang tua Mirat di Paron Madiun. Walau dengan mudah bisa ditebak, bahwa saat itu Chairil harus diterima dengan pandangan sinis oleh adik – adik Mirat. Tentu mereka dengan jelas akan menilai bahwa yang datang melamar hanya seorang pemuda dengan pekerjaan dan penghasilan yang tidak menjanjikan masa depan. 

Perjuangan Chairil muda memang tidak begitu saja terhenti. Terbukti dalam surat – surat Chairil Anwar kepada HB Yassin pada bulan Maret 1944, dia banyak menceritakan tentang sebagian suratnya yang dikirim ke alamat R.M Djojosepoetro, Paron. Dugaan terakhir, inilah nama ayahanda Sumirat.
”Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal di hari kemudian karena aku akan sanggup membuktikan bahwa karya – karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan putus asa Mirat aku akan terus berjuang untuk memberi bukti” begitulah kata – kata Chairil selalu dengan bersemangat.
Meski tidak bisa dipungkiri, bayang – bayang keraguan kadang berselinap mengiringi semak panjang perjuangan Chairil. Tergambar dari sajak – sajak yang ditulisnya :

Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau rakit hitam
‘Kan terdamparkah
atau terserah
Pada putaran hitam ?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapkah kami atau
Mengikut juga bayangan itu

Bahkan saat melamar Mirat, dia hanya membawa lembaran sajak, keberanian dan keyakian yang kuat akan cinta pada kekasihnya.
Namun kuasa Tuhan harus berbicara, bahwa sesuatu harus berjalan tanpa kita duga. Chairil harus bisa menerima ketika pada akhirnya yang membekas di ingatannya adalah kata – kata orang tua Sumirat :
“Kamu cari kerja dulu yang baik dan tetap, nanti kita bicarakan lagi.“
Seingatnya, kalimat itu pulalah yang akhirnya membuncahkan lelehan air mata di wajah Sumirat. Mungkin di sinilah letak kelemahan manusia, bahwa kita selalu menginginkan lebih dari apa yang seharusnya terjadi. Chairil tersadar bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa melawan sekat tinggi yang seolah akan segera dibangun oleh orang tua Mirat untuk memisahkan cintanya.
“Dia adalah pemuda pilihan hatiku” itu satu – satunya pembelaan dari Mirat kepada orang tuanya yang sempat Chairil dengar. 

Setelah kejadian itu, Chairil pun meninggalkan Paron. Dia pergi meninggalkan setumpuk kertas dan catatan syair yang menjadi kenangan mendalam bagi Sumirat. 
Sejak itu kisah cinta mereka harus terpisah sekat jarak dan waktu. Hanya beberapa kali mereka bisa berkirim surat. Baik Chiaril maupun Sumirat harus merasakan diri mereka terperangkap dalam kesendirian mendalam, tidak pernah mereka menyangka bahwa sebuah perasaan harus benar – benar terampas. 
“Sajak – sajak yang ditulisnya banyak tertuju kepadaku” begitu Sumirat sering bertutur untuk menghibur. 

Chairil Anwar seolah menjadi penyair yang dibesarkan oleh rasa sakit hati. Tidak berlebihan jika dalam salah satu puisinya saat itu, dia menulis dengan sebutan ‘untuk tunanganku, Mirat.’ Sebuah ungkapan yang barangkali hanya bertujuan untuk mengobati kegelisahannya pada perasaan menyesakkan dada.
SAJAK PUTIH – buat tunanganku Mirat
besandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senja


sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku


hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita mati datang tidak membelah


Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…..


Setelah kepergian Chairil, penindasan tentara Jepang mulai berkobar. Kekacauan pun meluas, merambah juga sampai ke Desa Paron. Akibat dari sebuah pertempuran suatu hari terjadi kebakaran hebat di daerah tersebut. Kebakaran itu begitu besar, bahkan ikut membakar rumah Sumirat. Tak bisa dihindari lagi, kopor berisi buku – buku dan berkas tulisan Chairil yang disimpan Mirat ikut terbakar. Kenangan dari pujaan hatinya yang tersisa hanyalah sedikit catatan memori dan sajak yang berhasil diselamatkan, sedang sebagian besar lainnya telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya jangkauan dirinya untuk bisa bertemu dengan Chairil.

Tahun demi tahun berjalan dengan rasa menyesakkan. Walaupun keduanya saling menyukai, namun Sumirat telah benar – benar terpisah dengan Chairil. Dia sudah tidak bisa lagi berkomunikasi. Dia hanya bisa sedikit mendengar kabar. Hingga akhirnya pada tahun 1946, raut kesedihan Sumirat harus benar – benar tergambar ketika dia mendengar kabar bahwa Chairil Anwar telah menikah dengan seorang perempuan bernama Hapsah Wiriaredja. Entah ada rahasia apa di balik jalan cerita tersebut, namun seorang Sumirat harus lama belajar tentang bahasa ketegaran.
“Selamat berbahagia bersamanya, kekasih sejatiku,” ucap Mirat dengan mata berkaca – kaca.

Belum berselang lama. Bahkan hanya beberapa tahun berjalan, tepatnya pada 28 April 1949, puncak kesedihan Mirat pun harus benar – benar terlengkapi. Sungguh berat angin musim harus mengabarinya sebuah berita. Di wajah Mirat seperti tergambar bentangan langit yang runtuh ke bumi. Sebuah berita yang merontokkan isi dadanya : Chairil Anwar meninggal dalam usia 27 tahun !
“Aku akan selalu menyayangimu. Selamat jalan pujanggaku. Selalu aku berdoa untukmu,” di depan orang tuanya, Mirat tak kuasa meneriakkan kesedihan itu.
Seorang Chairil adalah sebuah keindahan. Bukan hanya bagi Sumirat, namun juga bagi orang – orang yang mengapresiasi karya – karyanya. Hidup Chairil berjalan sangat singkat, dia pun harus meninggal dalam lilitan kemiskinan. Dia bahkan tidak sempat menikmati kebesaran dari karya – karyanya. Ternyata Chairil pun belum mampu mewujudkan kata – kata indahnya tentang cinta di masa hidupnya yang nyata.

Chairil pun bukan sosok yang punya keistimewaan tentang mencintai. Tidak banyak orang tahu, bahwa dia ternyata tak kuasa melepas nafas panjang masa lalunya. Chairil masih menyimpan kenangan, hasrat dan rasa cinta yang besar pada Mirat, cinta sejatinya. Bahkan pun ketika dia sudah menikah dengan orang lain. Terbukti dari puisi yang terakhir sempat ditulisnya bercerita tentang kerinduannya pada Mirat. Puisi yang sempat ditulisnya di tahun 1949, beberapa waktu sebelum dia tutup usia.
Mungkin saja saat itu Chairil merasakan isyarat kerinduan pada seseorang yang pernah menjadi cinta sejatinya. Barangkali itulah isyarat tentang impian cintanya yang harus benar – benar terrpisah abadi oleh : KEMATIAN. Sungguh mengharukan !

Dan inilah puisi untuk Mirat yang terakhir Chairil tulis :

Mirat Muda, Chairil Muda – 1949 
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisah matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah


Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
Dan tunjukan dengan pasti dimana
Menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan


Dianya pada Chairil makin sehati,
Hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan chairil dengan deras
Menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati.


“Kini Chairil sudah tiada, penyair yang sepanjang hidupnya aku kagumi dan kudambakan, sebagai seorang penyair besar dari zamannya. Dia benar, Chairil telah membuktikan dirinya orang besar, seperti yang selalu dikatakannya kepadaku dulu.” itulah kata – kata Sumirat ketika ingatannya harus terlempar untuk mengenang cintanya pada seorang kekasih.
***
Kita tidak akan menyimpulkan kisah ini.
“Mencintai seseorang, mungkin hal yang mudah. Namun untuk memiliki seutuhnya seseorang yang kita cintai, itu yang tidak mudah !”
Semoga bermanfaat. 
Wassalam.
==========================
fans page : http://www.facebook.com/Catatan.KangHabibArham