REUNI
Oleh : Habib Arham
( Karena kita tidak pernah ada kemampuan untuk memutar kembali waktu yang telah berjalan.. )
Jarum jam baru saja
menjamah angka enam. Pagi pun masih dicekat gerimis lebat. Tiba – tiba
dering telepon menyalak, merampas keheningan yang hampir memuncak.
“Apa kabar kawan ?” seseorang menyapa di loudspeaker.
“Alhamdulillah baik, Rud. Tapi maaf, kemungkinan aku tidak datang di acara nanti,” pria kurus itu menjawab dengan tatap menerawang.
“Aku sangat yakin, kamu pasti akan datang,” suara temannya kembali terdengar namun tidak terlalu jelas, seperti diracaukan tiupan angin keras.
“Kamu tidak sedang memaksaku, bukan ?”
“Aku tidak memaksa. Tapi ada satu hal yang pasti bisa membuatmu berubah pikiran.”
“Satu hal apa ?”
“Admira.”
Pembicaraan itu terhenti sesaat. Nama yang baru saja disebut, membuat lelaki itu seperti mendadak gugup. Rupanya dia perlu mengatur nafas, seolah ingin menyembunyikan benaknya yang cemas.
“Aku yakin kamu sedang berpikir, Arga.”
“Ada apa dengan Admira ?”
“Iya, aku baru saja mendapat kepastian bahwa Admira akan datang di acara reuni,” suara di loudspeaker bersemangat.
“Aku tidak akan berjalan mundur ke masa lalu. Aku sudah punya keluarga, Rud.”
“Setiap orang berkesempatan untuk menghapus ruang silam yang menggelisahkan. Admira adalah bagian terbesar dari sejarah penantianmu. Kamu masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Kamu tentu tidak ingin menyimpan sebuah tanda tanya di sepanjang hidupmu. Aku yakin, pasti kamu akan datang.”
“Kali ini kemungkinan tebakanmu akan salah.”
“Aku masih yakin, bahwa aku adalah satu – satunya pendengar yang baik dari semua ceritamu. Jangan bohongi hati kecilmu ! Kamu pasti ingin bertemu dengan Admira.”
“Aku tidak janji.”
“Sudahlah, sampai ketemu nanti ! O iya, jangan lupa acara dimulai jam delapan tepat,” setelah perkataan itu tiba – tiba terdengar suara telepon yang terputus.
Suasana kembali hening.
***
Di sudut taman, tepatnya di sebuah kursi besi berwarna magenta, Arga duduk sendiri. Sejak beberapa saat yang lalu, pria berambut crew cut itu sengaja menjauh dari hingar bingar acara reuni yang tengah berlangsung di hall. Dia rupanya tidak bisa menikmati riuh canda dan tawa keceriaan dari kawan - kawan lamanya. Pria itu justru lama merenung. Seolah ada ruang hampa yang belum berhasil dia temukan. Seperti ada sebersit harapan di dalam hatinya yang belum mendapati jawaban.
Sebatang anyelir tampak ikut tertunduk. Pucuknya yang menjuntai, sesekali hanya bergerak menjamahi bahu tanah. Gerimis bahkan telah habis. Namun pucuk langit masih disandera oleh gulungan mendung. Angin dingin musim penghujan menghampiri, mengajak angan lelaki itu untuk kembali terpendar ke masa silam.
Di sekolah inilah 15 tahun silam Arga menikmati masa remajanya. Sangat lekat di ingatannya, masa – masa riang ketika dulu masih berseragam putih abu – abu. Dia tidak akan pernah lupa, saat di sela – sela pelajaran, dia sering menyempatkan waktu untuk menyendiri. Menjauhi keramaian untuk sekedar memandangi hijaunya taman.
Rupanya hari ini dia harus memaklumi bahwa fase hidup sudah berjalan begitu jauh.
Rupanya hari ini dia harus kembali mendengar bahwa episode panjang masa remajanya kembali ditayangkan. Berita dan cerita tentang kawan lama kembali hilir mudik. Seolah dia sedang disadarkan, bahwa Tuhan telah menjadikan segala ruang dan peran tanpa ada yang sia – sia.
Begitu banyak cerita tentang kawan – kawan lamanya.
Haris, si Jangkung yang dulu sering mencontek saat ulangan. Sekarang menjadi pengusaha kuliner di Bali. Puluhan merk usahanya bahkan sudah berhasil dia waralabakan.
Ikbal, si Jenius yang dulu selalu rangking di kelas. Sekarang sudah menjadi manager di sebuah perusahaan asing. Dia tetap menjadi sosok yang dominan, terbukti ketika dengan bersemangat dia menceritakan kendaraan SUV four wheel drive keluaran Eropa yang konon baru dibelinya.
Susan adalah ketua kelas yang dulu idealis dan selalu aktif di organisasi. Sekarang dia telah menjadi seorang Kepala Sekolah di sebuah yayasan yang sedang berkembang.
Zulkifli, temannya yang cenderung bandel dan sering membolos ketika jam pelajaran. Sekarang dia telah menjadi ustadz di sebuah pesantren modern. Ternyata Zulkifli telah berhasil merubah penampilannya menjadi pribadi yang sangat bijaksana.
Ada lagi berita tentang Andi, seorang teman yang dulu periang dan selalu membuat teman – temannya tersenyum. Ternyata manusia tidak akan bisa menghindar ketika Sang Rabb telah berkehendak. Andi harus mempunyai takdir usia yang begitu muda karena Tuhan telah memanggilnya pulang dalam sebuah peristiwa kecelakaan.
Masih banyak cerita haru, sisi senang, dan perihal mengejutkan yang sejak tadi dia simak .
***
Begitulah dunia ketika semua berjalan tanpa terduga. Begitu pun dengan kedatangan Arga di acara reuni yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Admira. Entah bagaimana awalnya, karena sangat di luar dugaan ketika sosok itu kini benar – benar telah berada di hadapannya.
“Rudi memberitahuku, bahwa kamu sedang berada di sini,” ucapan itu keluar dari bibir Admira, perempuan berparas cantik yang selalu menyunggingkan senyum.
“Satu kehormatan bisa berbincang dengan Ibu Admira yang terhormat.”
“Berbincang dengan teman lama, mengajak kita untuk mengetahui banyak hal bahwa perjalanan hidup ternyata telah jauh bergeser dan berubah,” kembali wanita itu berucap.
Sejujurnya Arga sudah lama berkesimpulan bahwa Admira adalah perempuan yang tidak pernah menghiraukannya. Seseorang yang akhirnya sering menggugat lamunan. Seseorang yang akhirnya menjadi penantian panjang tanpa sempat dia mampu mendekatinya.
“Ya, waktu memang selalu mengajak kita untuk berubah,” Arga berusaha untuk berkata dengan tenang, “O iya, berapa lama kita telah terpisah ?”
“Mmm.. lima belas tahun,” perempuan di depannya menjawab seraya menerawang.
“Lebih tepatnya lima belas tahun lima bulan,” Arga melengkapi. Seolah dia sangat mempersiapkan kalimat tersebut.
“Boleh aku bertanya sesuatu ?” kat - kata Arga sedikit terbata.
“Tentu boleh. Sangat boleh.”
“Mmm.. menurutmu masa lalu itu apa ?”
Wanita di depannya tidak langsung menjawab, namun sejenak mengambil posisi duduk di kursi yang kosong.
“Menurutku, masa lalu adalah tempat yang teramat jauh, melebihi jauhnya bulan dan bintang. Karena dia telah menjadi sisi senang yang hanya bisa kita kenang, atau bahkan hela nafas yang hanya bisa kita hembus lepas. Jangan berharap dia datang, karena kita akan masuk bayang - bayang. Dan jangan menunggunya dengan waktu banyak, karena kita akan jatuh dan terjebak,” jawab Admira sembari menatap langit.
Arga dipaksa terbengong. Agaknya dia sulit percaya bahwa sebuah keajaiban sedang terjadi. Sesuatu yang menurutnya luar biasa karena ternyata seorang Admira rela meluangkan waktu untuk bertemu dan berbicara dengannya.
“Aku setuju dengan filosofimu. Satu hal yang sekarang aku paham, ternyata dirimu sangat cerdas.” Arga berkilah.
“Hmm.. kata – katamu berlebihan, Arga.”
Begitu sejuk telinga lelaki itu ketika mendengar namanya disebut oleh wanita di dekatnya.
“Boleh aku bertanya lagi ?” seolah ingin segera menuntaskan sebuah beban di batinnya, Arga kembali bertanya.
Admira memberi isyarat anggukan, menandakan bahwa dia tidak keberatan.
“Benarkah di masa lalu kamu pernah membenci seseorang ? Mungkin tepatnya, membenci seseorang yang dulu sering duduk di taman ini ?”
Kali ini Admira benar - benar tersenyum lebar. Sangat jelas pula jika wanita itu tengah menampakkan raut muka heran, “Atas dasar apa kamu berkesimpulan seperti itu ?”
“Ya, sejak lama aku ingin menanyakan hal ini, namun sepertinya aku tidak pernah punya kesempatan. Setahuku hal itulah yang telah terjadi. Aku hanya mendengar dari seseorang yang lebih dekat denganmu.”
“Aneh sekali, ada orang yang mengatakan seperti itu.”
“Tapi, sekarang kamu bebas menjawab, karena aku siap mendengarnya,” kata - kata Arga hampir tercekat.
“Tidak benar. Sama sekali tidak benar. Dulu aku tidak membenci siapa pun,” Admira menggeleng keras, “Justru yang telah terjadi adalah waktu itu aku sangat mengagumi seseorang.”
“Mengagumi seseorang ? Kalau boleh tahu, siapa orang itu ?”
“Dia adalah seseorang yang dulu sering menyendiri di salah satu sudut halaman sekolah ini.”
Arga tidak bisa menyembunyikan ketika wajahnya tiba – tiba memucat. Perasaan sulit percaya dia buktikan dengan berkali menggelengkan kepala.
“Apakah aku tidak salah mendengar ?”
“Aku yakin lambat laun kamu akan percaya. Kadang – kadang kita memang sulit untuk menebak perasaan seseorang. Persis seperti berkaca di cermin yang retak. Tragisnya, ada sebagian orang yang di dalam hidupnya berkeputusan untuk mengingkari kebenaran perasaan dan memilih menjadi pengagum dalam diam,” Admira menegaskan.
“Sungguh, jawabanmu sangat mengharukan,” bibir Arga gemetar, seperti ada langit penyesalan yang runtuh dan memenuhi ruang di dadanya, “Jika saja kamu mengerti, dahulu seseorang pernah menatapmu dengan banyak menggantungkan harapan. Begitu besar harapan tersebut, sehingga dia sering merasa tersakiti dan terpinggirkan, hanya karena hal - hal kecil yang mungkin tanpa sengaja kamu lakukan.”
“Ya.. kalau hal itu yang memang terjadi, aku mohon maaf, Arga. Aku benar – benar mohon maaf. Aku yakin Tuhan tidak pernah salah memberi kita perasaan, walau kadang dia seperti fatamorgana. Sesuatu yang jauh tiba - tiba serasa bisa kita rengkuh, sebaliknya sesuatu yang berada di depan mata kadang harus menjadi ruang penantian yang sangat lama.”
“Ya, terima kasih Admira. Sekali lagi aku terharu dengan kata – katamu. Namun bagaimanapun aku harus menyadari, bahwa kita tidak tercipta untuk masa lalu. Kita telah ditakdirkan untuk masa sekarang.”
Admira tertunduk, ternyata wanita itu sedang menyembunyikan matanya yang sempat berkaca – kaca.
“Setidaknya aku telah mengetahui, bahwa hal menyakitkan di masa lalu terjadi karena kita berada di jalan pikiran yang berbeda.”
“Ya. Terima kasih, Arga.”
“Aku juga mengucapkan terima kasih yang setulus – tulusnya, atas semua jawabanmu tadi.”
“Sama – sama.”
“Salam untuk keluargamu. Semoga dirimu dikelilingi oleh orang – orang yang selalu membuatmu tersenyum bahagia.”
“Amiin. Doa yang sama untukmu, kawan. Semoga dirimu rela untuk menjadi matahari yang selalu bisa menginspirasiku dari kejauhan.”
“Selamat jalan, wahai bagian nyata hidupku ! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Angin terhenti, seolah berat menyaksikan langkah keduanya untuk saling menjauh pergi.
***
Arga benar – benar beranjak. Perasaan haru dan lega menggelayutinya silih berganti. Dia mengucap syukur bahwa sebuah tanda tanya yang tersimpan bertahun – tahun akhirnya telah terjawab.
“Maafkan hamba ya Rabb, jika hamba telah salah dengan sebuah keadaan dan perasaan,” tak henti – hentinya dia berucap lirih.
Sesampainya di halaman parkir, pria itu sempat bersandar di dinding. Dia meraih selembar kertas dan menulisinya dengan sebuah catatan :
( Perasaan adalah ruang samar,
dia bukan sejauh yang terlihat kasat mata,
namun sedalam apa yang mampu kita percaya.
Percaya jika dia bukan sebatas mendatangi atau didatangi,
meninggalkan atau ditinggalkan
dan meraih atau diraih.
Tidak ada yang menang atau terbuang,
karena pemenang sejati adalah dia yang lebih tulus menerima
jika kebahagiaan seseorang menyadarkannya untuk melangkah pergi...
Karena hidup adalah bertahan dengan arus cobaan
dan berusaha berprasangka baik untuk mengarungi sisa waktu
demi merengkuh rahasia terindah-Nya )
Mendung mulai bergeser. Matahari yang mengintip dari celah rekahnya menggambar bayang hitam di sisi pohon cemara yang mencuat di halaman parkir. Diiringi hembusan angin paruh musim, Arga segera menyalakan engine sportbike-nya. Ketika terdengar suara mesin yang meraung, dia telah melesat ke jalan raya. Suasana yang lengang memberinya kesempatan untuk menarik trotle gas sampai menyentuh RPM red line. Beban di hatinya sengaja dia lepas, dinikmatinya hembusan alam bebas.
“Seperti halnya perjalanan matahari, ketika aku merasa begitu dekat dengan kehidupan seseorang, merasakan kesedihan dan kebahagiaan di dalam hatinya, maka senjalah yang kembali menyadarkanku bahwa pada saatnya nanti, matahari pun akan tenggelam dan menyimpan segalanya.”
***
“Apa kabar kawan ?” seseorang menyapa di loudspeaker.
“Alhamdulillah baik, Rud. Tapi maaf, kemungkinan aku tidak datang di acara nanti,” pria kurus itu menjawab dengan tatap menerawang.
“Aku sangat yakin, kamu pasti akan datang,” suara temannya kembali terdengar namun tidak terlalu jelas, seperti diracaukan tiupan angin keras.
“Kamu tidak sedang memaksaku, bukan ?”
“Aku tidak memaksa. Tapi ada satu hal yang pasti bisa membuatmu berubah pikiran.”
“Satu hal apa ?”
“Admira.”
Pembicaraan itu terhenti sesaat. Nama yang baru saja disebut, membuat lelaki itu seperti mendadak gugup. Rupanya dia perlu mengatur nafas, seolah ingin menyembunyikan benaknya yang cemas.
“Aku yakin kamu sedang berpikir, Arga.”
“Ada apa dengan Admira ?”
“Iya, aku baru saja mendapat kepastian bahwa Admira akan datang di acara reuni,” suara di loudspeaker bersemangat.
“Aku tidak akan berjalan mundur ke masa lalu. Aku sudah punya keluarga, Rud.”
“Setiap orang berkesempatan untuk menghapus ruang silam yang menggelisahkan. Admira adalah bagian terbesar dari sejarah penantianmu. Kamu masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Kamu tentu tidak ingin menyimpan sebuah tanda tanya di sepanjang hidupmu. Aku yakin, pasti kamu akan datang.”
“Kali ini kemungkinan tebakanmu akan salah.”
“Aku masih yakin, bahwa aku adalah satu – satunya pendengar yang baik dari semua ceritamu. Jangan bohongi hati kecilmu ! Kamu pasti ingin bertemu dengan Admira.”
“Aku tidak janji.”
“Sudahlah, sampai ketemu nanti ! O iya, jangan lupa acara dimulai jam delapan tepat,” setelah perkataan itu tiba – tiba terdengar suara telepon yang terputus.
Suasana kembali hening.
***
Di sudut taman, tepatnya di sebuah kursi besi berwarna magenta, Arga duduk sendiri. Sejak beberapa saat yang lalu, pria berambut crew cut itu sengaja menjauh dari hingar bingar acara reuni yang tengah berlangsung di hall. Dia rupanya tidak bisa menikmati riuh canda dan tawa keceriaan dari kawan - kawan lamanya. Pria itu justru lama merenung. Seolah ada ruang hampa yang belum berhasil dia temukan. Seperti ada sebersit harapan di dalam hatinya yang belum mendapati jawaban.
Sebatang anyelir tampak ikut tertunduk. Pucuknya yang menjuntai, sesekali hanya bergerak menjamahi bahu tanah. Gerimis bahkan telah habis. Namun pucuk langit masih disandera oleh gulungan mendung. Angin dingin musim penghujan menghampiri, mengajak angan lelaki itu untuk kembali terpendar ke masa silam.
Di sekolah inilah 15 tahun silam Arga menikmati masa remajanya. Sangat lekat di ingatannya, masa – masa riang ketika dulu masih berseragam putih abu – abu. Dia tidak akan pernah lupa, saat di sela – sela pelajaran, dia sering menyempatkan waktu untuk menyendiri. Menjauhi keramaian untuk sekedar memandangi hijaunya taman.
Rupanya hari ini dia harus memaklumi bahwa fase hidup sudah berjalan begitu jauh.
Rupanya hari ini dia harus kembali mendengar bahwa episode panjang masa remajanya kembali ditayangkan. Berita dan cerita tentang kawan lama kembali hilir mudik. Seolah dia sedang disadarkan, bahwa Tuhan telah menjadikan segala ruang dan peran tanpa ada yang sia – sia.
Begitu banyak cerita tentang kawan – kawan lamanya.
Haris, si Jangkung yang dulu sering mencontek saat ulangan. Sekarang menjadi pengusaha kuliner di Bali. Puluhan merk usahanya bahkan sudah berhasil dia waralabakan.
Ikbal, si Jenius yang dulu selalu rangking di kelas. Sekarang sudah menjadi manager di sebuah perusahaan asing. Dia tetap menjadi sosok yang dominan, terbukti ketika dengan bersemangat dia menceritakan kendaraan SUV four wheel drive keluaran Eropa yang konon baru dibelinya.
Susan adalah ketua kelas yang dulu idealis dan selalu aktif di organisasi. Sekarang dia telah menjadi seorang Kepala Sekolah di sebuah yayasan yang sedang berkembang.
Zulkifli, temannya yang cenderung bandel dan sering membolos ketika jam pelajaran. Sekarang dia telah menjadi ustadz di sebuah pesantren modern. Ternyata Zulkifli telah berhasil merubah penampilannya menjadi pribadi yang sangat bijaksana.
Ada lagi berita tentang Andi, seorang teman yang dulu periang dan selalu membuat teman – temannya tersenyum. Ternyata manusia tidak akan bisa menghindar ketika Sang Rabb telah berkehendak. Andi harus mempunyai takdir usia yang begitu muda karena Tuhan telah memanggilnya pulang dalam sebuah peristiwa kecelakaan.
Masih banyak cerita haru, sisi senang, dan perihal mengejutkan yang sejak tadi dia simak .
***
Begitulah dunia ketika semua berjalan tanpa terduga. Begitu pun dengan kedatangan Arga di acara reuni yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Admira. Entah bagaimana awalnya, karena sangat di luar dugaan ketika sosok itu kini benar – benar telah berada di hadapannya.
“Rudi memberitahuku, bahwa kamu sedang berada di sini,” ucapan itu keluar dari bibir Admira, perempuan berparas cantik yang selalu menyunggingkan senyum.
“Satu kehormatan bisa berbincang dengan Ibu Admira yang terhormat.”
“Berbincang dengan teman lama, mengajak kita untuk mengetahui banyak hal bahwa perjalanan hidup ternyata telah jauh bergeser dan berubah,” kembali wanita itu berucap.
Sejujurnya Arga sudah lama berkesimpulan bahwa Admira adalah perempuan yang tidak pernah menghiraukannya. Seseorang yang akhirnya sering menggugat lamunan. Seseorang yang akhirnya menjadi penantian panjang tanpa sempat dia mampu mendekatinya.
“Ya, waktu memang selalu mengajak kita untuk berubah,” Arga berusaha untuk berkata dengan tenang, “O iya, berapa lama kita telah terpisah ?”
“Mmm.. lima belas tahun,” perempuan di depannya menjawab seraya menerawang.
“Lebih tepatnya lima belas tahun lima bulan,” Arga melengkapi. Seolah dia sangat mempersiapkan kalimat tersebut.
“Boleh aku bertanya sesuatu ?” kat - kata Arga sedikit terbata.
“Tentu boleh. Sangat boleh.”
“Mmm.. menurutmu masa lalu itu apa ?”
Wanita di depannya tidak langsung menjawab, namun sejenak mengambil posisi duduk di kursi yang kosong.
“Menurutku, masa lalu adalah tempat yang teramat jauh, melebihi jauhnya bulan dan bintang. Karena dia telah menjadi sisi senang yang hanya bisa kita kenang, atau bahkan hela nafas yang hanya bisa kita hembus lepas. Jangan berharap dia datang, karena kita akan masuk bayang - bayang. Dan jangan menunggunya dengan waktu banyak, karena kita akan jatuh dan terjebak,” jawab Admira sembari menatap langit.
Arga dipaksa terbengong. Agaknya dia sulit percaya bahwa sebuah keajaiban sedang terjadi. Sesuatu yang menurutnya luar biasa karena ternyata seorang Admira rela meluangkan waktu untuk bertemu dan berbicara dengannya.
“Aku setuju dengan filosofimu. Satu hal yang sekarang aku paham, ternyata dirimu sangat cerdas.” Arga berkilah.
“Hmm.. kata – katamu berlebihan, Arga.”
Begitu sejuk telinga lelaki itu ketika mendengar namanya disebut oleh wanita di dekatnya.
“Boleh aku bertanya lagi ?” seolah ingin segera menuntaskan sebuah beban di batinnya, Arga kembali bertanya.
Admira memberi isyarat anggukan, menandakan bahwa dia tidak keberatan.
“Benarkah di masa lalu kamu pernah membenci seseorang ? Mungkin tepatnya, membenci seseorang yang dulu sering duduk di taman ini ?”
Kali ini Admira benar - benar tersenyum lebar. Sangat jelas pula jika wanita itu tengah menampakkan raut muka heran, “Atas dasar apa kamu berkesimpulan seperti itu ?”
“Ya, sejak lama aku ingin menanyakan hal ini, namun sepertinya aku tidak pernah punya kesempatan. Setahuku hal itulah yang telah terjadi. Aku hanya mendengar dari seseorang yang lebih dekat denganmu.”
“Aneh sekali, ada orang yang mengatakan seperti itu.”
“Tapi, sekarang kamu bebas menjawab, karena aku siap mendengarnya,” kata - kata Arga hampir tercekat.
“Tidak benar. Sama sekali tidak benar. Dulu aku tidak membenci siapa pun,” Admira menggeleng keras, “Justru yang telah terjadi adalah waktu itu aku sangat mengagumi seseorang.”
“Mengagumi seseorang ? Kalau boleh tahu, siapa orang itu ?”
“Dia adalah seseorang yang dulu sering menyendiri di salah satu sudut halaman sekolah ini.”
Arga tidak bisa menyembunyikan ketika wajahnya tiba – tiba memucat. Perasaan sulit percaya dia buktikan dengan berkali menggelengkan kepala.
“Apakah aku tidak salah mendengar ?”
“Aku yakin lambat laun kamu akan percaya. Kadang – kadang kita memang sulit untuk menebak perasaan seseorang. Persis seperti berkaca di cermin yang retak. Tragisnya, ada sebagian orang yang di dalam hidupnya berkeputusan untuk mengingkari kebenaran perasaan dan memilih menjadi pengagum dalam diam,” Admira menegaskan.
“Sungguh, jawabanmu sangat mengharukan,” bibir Arga gemetar, seperti ada langit penyesalan yang runtuh dan memenuhi ruang di dadanya, “Jika saja kamu mengerti, dahulu seseorang pernah menatapmu dengan banyak menggantungkan harapan. Begitu besar harapan tersebut, sehingga dia sering merasa tersakiti dan terpinggirkan, hanya karena hal - hal kecil yang mungkin tanpa sengaja kamu lakukan.”
“Ya.. kalau hal itu yang memang terjadi, aku mohon maaf, Arga. Aku benar – benar mohon maaf. Aku yakin Tuhan tidak pernah salah memberi kita perasaan, walau kadang dia seperti fatamorgana. Sesuatu yang jauh tiba - tiba serasa bisa kita rengkuh, sebaliknya sesuatu yang berada di depan mata kadang harus menjadi ruang penantian yang sangat lama.”
“Ya, terima kasih Admira. Sekali lagi aku terharu dengan kata – katamu. Namun bagaimanapun aku harus menyadari, bahwa kita tidak tercipta untuk masa lalu. Kita telah ditakdirkan untuk masa sekarang.”
Admira tertunduk, ternyata wanita itu sedang menyembunyikan matanya yang sempat berkaca – kaca.
“Setidaknya aku telah mengetahui, bahwa hal menyakitkan di masa lalu terjadi karena kita berada di jalan pikiran yang berbeda.”
“Ya. Terima kasih, Arga.”
“Aku juga mengucapkan terima kasih yang setulus – tulusnya, atas semua jawabanmu tadi.”
“Sama – sama.”
“Salam untuk keluargamu. Semoga dirimu dikelilingi oleh orang – orang yang selalu membuatmu tersenyum bahagia.”
“Amiin. Doa yang sama untukmu, kawan. Semoga dirimu rela untuk menjadi matahari yang selalu bisa menginspirasiku dari kejauhan.”
“Selamat jalan, wahai bagian nyata hidupku ! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Angin terhenti, seolah berat menyaksikan langkah keduanya untuk saling menjauh pergi.
***
Arga benar – benar beranjak. Perasaan haru dan lega menggelayutinya silih berganti. Dia mengucap syukur bahwa sebuah tanda tanya yang tersimpan bertahun – tahun akhirnya telah terjawab.
“Maafkan hamba ya Rabb, jika hamba telah salah dengan sebuah keadaan dan perasaan,” tak henti – hentinya dia berucap lirih.
Sesampainya di halaman parkir, pria itu sempat bersandar di dinding. Dia meraih selembar kertas dan menulisinya dengan sebuah catatan :
( Perasaan adalah ruang samar,
dia bukan sejauh yang terlihat kasat mata,
namun sedalam apa yang mampu kita percaya.
Percaya jika dia bukan sebatas mendatangi atau didatangi,
meninggalkan atau ditinggalkan
dan meraih atau diraih.
Tidak ada yang menang atau terbuang,
karena pemenang sejati adalah dia yang lebih tulus menerima
jika kebahagiaan seseorang menyadarkannya untuk melangkah pergi...
Karena hidup adalah bertahan dengan arus cobaan
dan berusaha berprasangka baik untuk mengarungi sisa waktu
demi merengkuh rahasia terindah-Nya )
Mendung mulai bergeser. Matahari yang mengintip dari celah rekahnya menggambar bayang hitam di sisi pohon cemara yang mencuat di halaman parkir. Diiringi hembusan angin paruh musim, Arga segera menyalakan engine sportbike-nya. Ketika terdengar suara mesin yang meraung, dia telah melesat ke jalan raya. Suasana yang lengang memberinya kesempatan untuk menarik trotle gas sampai menyentuh RPM red line. Beban di hatinya sengaja dia lepas, dinikmatinya hembusan alam bebas.
“Seperti halnya perjalanan matahari, ketika aku merasa begitu dekat dengan kehidupan seseorang, merasakan kesedihan dan kebahagiaan di dalam hatinya, maka senjalah yang kembali menyadarkanku bahwa pada saatnya nanti, matahari pun akan tenggelam dan menyimpan segalanya.”
***
Blog : www.habibarham.blogspot.com