MENYAMBUT GERIMIS
( karena kita tidak bisa memangkas garis panjang penantian )
Oleh : Habib Arham
Oleh : Habib Arham
Langit nyaris tersungkur jatuh, dibebani gumpalan mendung yang
menghambur penuh. Gulungan gelap itu seolah berkali menenggelamkan bahu
cakrawala, menjamahi punggung Yogyakarta sampai ke ufuk barat. Malam ini
ada kabar kegelisahan mendekat, ketika angin awal musim di paruh
Oktober berulang menghampiri ANGGITA, perempuan cantik yang kini
terpekur di lobi Bandara Adi Sucipto. Sudah sejak enam jam yang lalu
batinnya terpasung, nafas beratnya mendekap setiap sudut mata itu
mendapati kedatangan pesawat yang landing di lintasan bandara. Sepintas
tergambar harapan berbinar, namun sebentar saja kembali dirampas raut
kemurungan.
Sebuah jam oval yang terpasang di dinding ruang tunggu sudah menunjuk angka delapan, pertanda waktu sudah sampai di jam 8 malam.
“RANGGA, apakah aku harus percaya bahwa hari ini kau benar – benar akan mempermainkan perasaan
“RANGGA, apakah aku harus percaya bahwa hari ini kau benar – benar akan mempermainkan perasaan
ku ?” berkali perempuan itu bergumam. Tidak ada
yang mendengar, selain sebatang anyelir di sudut tanah yang berkali
terdesak oleh terjangan udara jengah.
Padahal beberapa saat yang lalu seorang petugas di bagian informasi telah berkata,
“Kedatangan pesawat dari Surabaya terakhir jam 19.45. Bandara akan off pukul 21.00 setelah jadwal kedatangan pesawat terakhir dari Denpasar yaitu pukul 20.55. Kami kembali buka esok pagi,” begitulah kira – kira jawaban yang tadi dia terima.
“Kedatangan pesawat dari Surabaya terakhir jam 19.45. Bandara akan off pukul 21.00 setelah jadwal kedatangan pesawat terakhir dari Denpasar yaitu pukul 20.55. Kami kembali buka esok pagi,” begitulah kira – kira jawaban yang tadi dia terima.
“Aku tidak pernah berniat untuk berkesimpulan buruk, namun mengapa kau tidak juga hadir di sini
Rangga ?”
Mata indah itu berkali menerawang rendah, berusaha membuncahkan sisa semangat di batinnya : bahwa sebuah analogi penantian akan segera berbuah kenyataan.
Mata indah itu berkali menerawang rendah, berusaha membuncahkan sisa semangat di batinnya : bahwa sebuah analogi penantian akan segera berbuah kenyataan.
Anggita, satu sosok yang sangat berharap hari ini adalah hari paling
membahagiakan dari deretan nafas panjang masa lalunya. Dia sangat
terlanjur percaya bahwa hari ini, keinginannya untuk bertemu Rangga akan
segera terwujud. Tentu dalam ingatannya masih sangat melekat, bahwa
seorang pria asal Surabaya bernama Rangga selalu mengirimnya kata – kata
yang menyemangati,
“Tunggulah aku di bandara, persis di hari ulang tahunmu tiba. Aku akan datang dari Surabaya. Aku akan membuktikan bahwa peliknya cinta yang kita alami akan menjadi fase nyata dari perjalanan hidup. Aku akan buktikan bahwa cerita masa lalu adalah mata rantai kesunyian yang bisa segera kita putus,” begitulah pesan terakhir yang Anggita terima melalui handphonenya dua hari yang lalu, “Percayalah, aku tidak seperti tokoh Peter Parker dalam film Spider Man yang hanya bisa berkata : ‘Aku akan selalu berdiri di ambang pintumu’. Namun Rangga akan bisa menjadi bagian nyata dalam penantianmu.”
“Tunggulah aku di bandara, persis di hari ulang tahunmu tiba. Aku akan datang dari Surabaya. Aku akan membuktikan bahwa peliknya cinta yang kita alami akan menjadi fase nyata dari perjalanan hidup. Aku akan buktikan bahwa cerita masa lalu adalah mata rantai kesunyian yang bisa segera kita putus,” begitulah pesan terakhir yang Anggita terima melalui handphonenya dua hari yang lalu, “Percayalah, aku tidak seperti tokoh Peter Parker dalam film Spider Man yang hanya bisa berkata : ‘Aku akan selalu berdiri di ambang pintumu’. Namun Rangga akan bisa menjadi bagian nyata dalam penantianmu.”
Angin dingin menghampiri.
Pesawat terakhir dari Surabaya sudah tiba hampir 15 menitan yang
lalu, banyak orang tampak berlalu lalang, namun seseorang yang Anggita
tunggu sejak tadi siang itu belum juga muncul.
Anggita merapatkan bahunya di dinding. Kegelisahan kembali mengganggunya.
Banyak hal melintas di batinnya, namun satu yang paling membuatnya sedih adalah ketika sore tadi di bandara ini dia sempat bertemu dengan sahabat lamanya : Siska.
Anggita masih sangat ingat dengan semua perkataan Siska.
“Anggi, memangnya kamu sedang menunggu siapa ?”
“Mmm.. Aku tidak menunggu siapa –siapa.”
“Tidak mungkin. Pasti kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Mmm, baiklah. Aku sedang menunggu saudara, kebetulan dia kemarin sms katanya mau datang dari Surabaya,” ujar Anggita berkelit.
“Aneh, sudah berapa lama menunggunya ? Memangnya beliau tidak memberitahumu mau datang jam berapa ?”
Banyak hal melintas di batinnya, namun satu yang paling membuatnya sedih adalah ketika sore tadi di bandara ini dia sempat bertemu dengan sahabat lamanya : Siska.
Anggita masih sangat ingat dengan semua perkataan Siska.
“Anggi, memangnya kamu sedang menunggu siapa ?”
“Mmm.. Aku tidak menunggu siapa –siapa.”
“Tidak mungkin. Pasti kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Mmm, baiklah. Aku sedang menunggu saudara, kebetulan dia kemarin sms katanya mau datang dari Surabaya,” ujar Anggita berkelit.
“Aneh, sudah berapa lama menunggunya ? Memangnya beliau tidak memberitahumu mau datang jam berapa ?”
“Itulah salahku, aku lupa bertanya dia pakai pesawat apa, nomor
penerbangan berapa. Ketika tadi siang aku berkali – kali telpon, hand
phonenya tidak aktif. O iya, kok kamu bisa berada di sini juga ?”
“Kalau aku habis dari Bali. Terus transit sebentar ke Surabaya, dan seperti yang kamu lihat, malam ini aku sudah di sini.”
“Syukurlah, rupanya kamu jadi orang sibuk sekarang.”
“Biasa saja, ya belajar membantu bisnis suami,” perempuan bernama Siska kembali menimpali, “O iya, kamu masih ingat dengan Rangga ? Teman kita dulu.”
Pertanyaan tersebut, tentu terdengar seperti petir yang menyambar di dada Anggita.
“Pasti kamu masih ingat, dia kan pemuda yang dulu kamu taksir mati – matian,” Siska menyambung.
“Ahh.. kamu tahu dari mana ?”
“Ya tahu lah..Semua teman lama kita juga tahu.”
“Kalau memang benar iya, terus ada apa dengan Rangga ? Kamu pernah bertemu dia ?”
“Iya benar, aku bertemu dia.”
“O iya, kapan ?”
“Tadi siang ! Tadi siang aku bertemu Rangga di Denpasar, dia sedang ada acara bersama dengan istrinya..”
“Kalau aku habis dari Bali. Terus transit sebentar ke Surabaya, dan seperti yang kamu lihat, malam ini aku sudah di sini.”
“Syukurlah, rupanya kamu jadi orang sibuk sekarang.”
“Biasa saja, ya belajar membantu bisnis suami,” perempuan bernama Siska kembali menimpali, “O iya, kamu masih ingat dengan Rangga ? Teman kita dulu.”
Pertanyaan tersebut, tentu terdengar seperti petir yang menyambar di dada Anggita.
“Pasti kamu masih ingat, dia kan pemuda yang dulu kamu taksir mati – matian,” Siska menyambung.
“Ahh.. kamu tahu dari mana ?”
“Ya tahu lah..Semua teman lama kita juga tahu.”
“Kalau memang benar iya, terus ada apa dengan Rangga ? Kamu pernah bertemu dia ?”
“Iya benar, aku bertemu dia.”
“O iya, kapan ?”
“Tadi siang ! Tadi siang aku bertemu Rangga di Denpasar, dia sedang ada acara bersama dengan istrinya..”
Apa yang disampaikan Siska tentu sangat merontokkan isi dada Anggita, seolah dia merasakan telah dihempaskan begitu kerasnya.
“Benarkah Rangga sedang berada di Bali ? Sedang apa dia di sana ? Tega sekali dia membohongi aku. Tega sekali dia melupakan janjinya padaku,” berulang – ulang Anggita membatin, “Kalau memang dia sedang ada di Bali, mengapa dia tidak memberitahu aku, mengapa handphonenya mendadak tidak bisa dihubungi ? Mengapa dia berani menjanjikan bahwa hari ini akan datang di Yogyakarta ?” Anggita terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.
“Benarkah Rangga sedang berada di Bali ? Sedang apa dia di sana ? Tega sekali dia membohongi aku. Tega sekali dia melupakan janjinya padaku,” berulang – ulang Anggita membatin, “Kalau memang dia sedang ada di Bali, mengapa dia tidak memberitahu aku, mengapa handphonenya mendadak tidak bisa dihubungi ? Mengapa dia berani menjanjikan bahwa hari ini akan datang di Yogyakarta ?” Anggita terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.
Perbincangannya dengan Siska tadi sore, tiba – tiba seperti
menanggalkan semua harapan di benak Anggita. Harapan yang telah sejak
tadi siang dia bangun, kini luluh lantak tercampak ke padang cemas.
Terlebih ketika tadi Siska kembali bertanya,
“Apa kamu akan bertahan di sini Anggita ?”
“Ya Siska, aku akan menunggu sampai kedatangan pesawat terakhir dari Surabaya, nanti malam,” Anggita menjawab dengan suara seperti tercekat di tenggorokan. Anggita masih terus berusaha menerbitkan pengharapan terakhir di relung batinnya, bahwa akan ada keajaiban menggembirakan yang akan dia temui malam hari ini.
“Apa kamu akan bertahan di sini Anggita ?”
“Ya Siska, aku akan menunggu sampai kedatangan pesawat terakhir dari Surabaya, nanti malam,” Anggita menjawab dengan suara seperti tercekat di tenggorokan. Anggita masih terus berusaha menerbitkan pengharapan terakhir di relung batinnya, bahwa akan ada keajaiban menggembirakan yang akan dia temui malam hari ini.
Akhirnya kini pesawat terakhir dari Surabaya benar – benar sudah
tiba. Dan sampai detik ini pun sosok pria yang dia tunggu tidak juga
hadir di hadapannya. Anggita masih bersandar di dinding, sendi kakinya
serasa gemetar.
“Rangga, maafkan aku karena aku tidak akan pernah berusaha melupakanmu. Percayalah aku mencintaimu bukan karena aku membutuhkanmu… tapi aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu,” gumam perempuan cantik itu seraya tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas punggungnya. Sebuah benda yang sepertinya sudah dia persiapkan itu dia buka, dia keluarkan dari bungkusnya. Sebuah kue tar ukuran kecil dia taruh di bangku. Di pasangnya sebuah lilin, dinyalakannya. Sejurus kemudian, dadanya semakin bergolak. Seolah ada dinding menyesakkan yang terus mendesak air matanya untuk jatuh.
“Maafkan aku Tuhan, aku ikhlas dengan semua takdir-Mu. Tadinya aku berharap bahwa minimal selama hidupku Engkau akan mengijinkan aku untuk bertemu dengan seseorang yang sangat aku cintai walau hanya sekali. Aku sadar Tuhan, aku tidak akan merebutnya dari orang lain, aku hanya berharap bisa bertemu dengan dia. Namun jika Engkau memang telah menggariskan takdirku seperti ini, aku ikhlas Tuhan. Mudah – mudahan dia selalu berbahagia, karena takdir mulianya adalah bukan untuk membuat aku seorang yang tersenyum melainkan membuat seribu orang bahagia.” begitulah kata – kata Anggita. Kini air bening di matanya benar – benar tidak kuasa dia cegah.
“Rangga, maafkan aku karena aku tidak akan pernah berusaha melupakanmu. Percayalah aku mencintaimu bukan karena aku membutuhkanmu… tapi aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu,” gumam perempuan cantik itu seraya tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas punggungnya. Sebuah benda yang sepertinya sudah dia persiapkan itu dia buka, dia keluarkan dari bungkusnya. Sebuah kue tar ukuran kecil dia taruh di bangku. Di pasangnya sebuah lilin, dinyalakannya. Sejurus kemudian, dadanya semakin bergolak. Seolah ada dinding menyesakkan yang terus mendesak air matanya untuk jatuh.
“Maafkan aku Tuhan, aku ikhlas dengan semua takdir-Mu. Tadinya aku berharap bahwa minimal selama hidupku Engkau akan mengijinkan aku untuk bertemu dengan seseorang yang sangat aku cintai walau hanya sekali. Aku sadar Tuhan, aku tidak akan merebutnya dari orang lain, aku hanya berharap bisa bertemu dengan dia. Namun jika Engkau memang telah menggariskan takdirku seperti ini, aku ikhlas Tuhan. Mudah – mudahan dia selalu berbahagia, karena takdir mulianya adalah bukan untuk membuat aku seorang yang tersenyum melainkan membuat seribu orang bahagia.” begitulah kata – kata Anggita. Kini air bening di matanya benar – benar tidak kuasa dia cegah.
Udara masih berhembus dingin, tanpa suara.
Perlu menunggu beberapa saat sampai batinnya tenang, akhirnya Aggita
melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu bandara. Dia benar – benar
memperoleh kesimpulan, bahwa dia hari ini Tuhan telah mengajarinya
tentang sebuah ketegaran yang luar biasa.
***
Sepuluh menitan kemudian, pesawat terakhir dengan tujuan Denpasar –
Yogyakarta tiba di Bandara Adi Sucipto. Gerimis turun menyambutnya.
Angin pun meniupkan hawa dingin.
***
Rangga lama termenung di depan koridor jendela ruang tunggu Bandara Adi Sucipto.
Berkali – kali pria itu merapatkan kedua tanggannya di depan wajah, seolah ada rasa bersalah yang singgah.
“Anggita, di manakah kamu sekarang ? Apakah kamu telah lama
menungguku ? Dimanakah kamu sekarang ? Tahukah kamu bahwa hari ini aku benar – benar datang untuk memenuhi janji. Aku ingin melihatmu di dunia nyata, aku ingin melihatmu tersenyum,” kata – kata itu menggumam gemetar di bibir Rangga.
Berkali – kali pria itu merapatkan kedua tanggannya di depan wajah, seolah ada rasa bersalah yang singgah.
“Anggita, di manakah kamu sekarang ? Apakah kamu telah lama
menungguku ? Dimanakah kamu sekarang ? Tahukah kamu bahwa hari ini aku benar – benar datang untuk memenuhi janji. Aku ingin melihatmu di dunia nyata, aku ingin melihatmu tersenyum,” kata – kata itu menggumam gemetar di bibir Rangga.
Udara lembab kembali menyebar menyusuri langit – langit rendah bandara yang semakin kosong.
“Ampunilah aku Tuhan, jika aku telah salah dengan perasaan ini. Ampunilah jika aku sangat berharap agar di sisa hidupku ini aku bisa bertemu sekali lagi saja dengan dia. Izinkan untuk menjelaskan kepada Anggita apa yang sebenarnya telah terjadi. Haruskah Anggita pergi dari hidupku dengan cara seperti ini ? Di manakah letak kesalahan ini ? Tuhan, apakah aku bersalah jika aku berniat untuk meluruskan sebuah kesalahpahaman yang pernah terjadi ?” pria itu merapatkan kedua ujung jaketnya dengan tangan.
“Anggita, semoga suatu saat engkau akan tahu, bahwa hari ini aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk datang di sini. Semoga suatu saat kamu akan tahu bahwa hari ini aku benar – benar berjuang agar aku bisa meninggalkan Denpasar demi menemuimu. Semoga suatu saat kamu akan tahu, bahwa sampai detik ini aku pun tidak bisa lagi menghubungi handphonemu. Aku tidak punya lagi nomormu, semua nomor teman – temanku juga hilang. Hpku hilang sejak aku sampai di Bali kemarin.”
“Ampunilah aku Tuhan, jika aku telah salah dengan perasaan ini. Ampunilah jika aku sangat berharap agar di sisa hidupku ini aku bisa bertemu sekali lagi saja dengan dia. Izinkan untuk menjelaskan kepada Anggita apa yang sebenarnya telah terjadi. Haruskah Anggita pergi dari hidupku dengan cara seperti ini ? Di manakah letak kesalahan ini ? Tuhan, apakah aku bersalah jika aku berniat untuk meluruskan sebuah kesalahpahaman yang pernah terjadi ?” pria itu merapatkan kedua ujung jaketnya dengan tangan.
“Anggita, semoga suatu saat engkau akan tahu, bahwa hari ini aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk datang di sini. Semoga suatu saat kamu akan tahu bahwa hari ini aku benar – benar berjuang agar aku bisa meninggalkan Denpasar demi menemuimu. Semoga suatu saat kamu akan tahu, bahwa sampai detik ini aku pun tidak bisa lagi menghubungi handphonemu. Aku tidak punya lagi nomormu, semua nomor teman – temanku juga hilang. Hpku hilang sejak aku sampai di Bali kemarin.”
“Jika aku diizinkan bertanya kepada Tuhan, aku ingin mengetahui
mengapa Tuhan memberiku perasaan ini. Jika benar cinta ini datang di
waktu yang tidak tepat, maka cukup aku saja yang menanggung dosa dan
perasaan ini. Keinginan dalam hidupku adalah agar dirimu mengetahui
bahwa aku sangat mencintaimu, dalam kondisi apapun. Jika pun Tuhan tidak
akan pernah mengizinkan kita untuk bertemu, jika pun Tuhan tidak pernah
mengizinkan aku untuk bisa memilikimu, ajarilah aku cara untuk
memaklumi ya.. Rabbi..”
Rangga benar –benar terduduk lesu di bangku tunggu, kesedihannya
semakin membuncah, ketika tiba – tiba sudut matanya menemukan sebuah
benda. Ya, sebuah kue tar yang mungkin beberapa saat lalu sengaja
ditinggalkan oleh seseorang di atas sebuah bangku bercat biru toska. Ada
sebuah kertas kecil terselip di atasnya. Sederet kalimat yang tertulis
sempat dia baca dan seketika pula membuat batinnya tercabik :
JIKA TUHAN MENGIZINKAN, MAKA HARI INI ADALAH HARI YANG SANGAT BERBAHAGIA, KARENA AKU DIBERI KESEMPATAN DALAM SISA HIDUPKU INI UNTUK BERTEMU DENGAN SEORANG YANG SANGAT AKU CINTAI.
JIKA TUHAN MENGIZINKAN, MAKA HARI INI ADALAH HARI YANG SANGAT BERBAHAGIA, KARENA AKU DIBERI KESEMPATAN DALAM SISA HIDUPKU INI UNTUK BERTEMU DENGAN SEORANG YANG SANGAT AKU CINTAI.
Rangga benar – benar tertunduk bisu. Dia paham itu pasti tulisan Anggita.
”Anggita, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat membuat hatimu sakit. Percayalah aku tidak akan pernah lupa dengan kata – katamu dulu : setiap malam tiba, tunggulah aku di sana, karena aku akan datang melengkapi mimpi – mimpi indahmu.”
”Anggita, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat membuat hatimu sakit. Percayalah aku tidak akan pernah lupa dengan kata – katamu dulu : setiap malam tiba, tunggulah aku di sana, karena aku akan datang melengkapi mimpi – mimpi indahmu.”
Malam semakin merangkak larut. Gelap, dan semakin menyekap.
============================
Seperti yang dimuat di :
Blog : www.habibarham.blog.com
0 komentar:
Posting Komentar