SEPENGGAL KISAH CINTA PENYAIR "CHAIRIL ANWAR" YANG MENGHARUKAN
Disajikan secara prosais oleh :
Habib Arham
Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau rakit hitam
‘Kan terdamparkah
atau terserah
Pada putaran hitam ?
Habib Arham
Jika benar cinta adalah kegelisahan, maka gadis cantik bernama
SUMIRAT itu telah mengalaminya. Pandangan pertamanya pada seorang
pemuda, nyaris menghadirkan benih – benih kerinduan yang meluruh dalam.
Tiba – tiba saja sebuah rasa datang dan menyandera kegundahan di
hatinya. Semua berawal di satu hari yang cerah, di paruh musim penghujan
tahun 1943. Ketika itu dirinya tengah berlibur bersama keluarga,
menikmati keindahan Pantai Cilincing di daerah Jakarta Utara. Gadis muda
berusia 20 tahun itu dibuat sangat terpesona saat mendapati seorang
pemuda duduk bersandar pohon di tepi pantai. Lama Mirat tertegun, angin
sejuk tiba – tiba serasa terhenti dan tersenyum di ambang pintu
benaknya,
“Ah siapakah pemuda itu ?” gumamnya berkali – kali.
Pemuda pencuri hatinya terlihat begitu tenang. Seolah tidak perduli
dengan hiruk pikuk dan lalu lalang manusia di sekitarnya. Dia terlalu
sibuk membaca buku, bahkan terlalu seriusnya sampai– sampai dia tidak
menyadari bahwa Mirat tengah memandanginya secara mendalam.
“Siapakah dia ?” gambaran penasaran kembali terlintas, beterbangan rendah di langit cemas.
Sejak saat itu rupanya bayangan si pemuda harus sering hinggap dan
menyita ruang lamunan Sumirat. Bahkan di hari – hari selanjutnya, gadis
kelahiran Paron Madiun yang juga murid dari pelukis Affandi itu harus
merasakan kegelisahan yang begitu hebat. Setiap dia mencoretkan kuas
tinta, di benaknya selalu terbayang sosok pemuda misterius.
Dan babak keajaiban cinta akhirnya datang ! Beberapa minggu setelah
kejadian di Cilincing, Tuhan mengabulkan keinginanan Mirat untuk bertemu
dan berkenalan dengan pemuda pendiam itu.
Ternyata dia adalah seorang penyair yang bernama ‘CHAIRIL ANWAR. Hanya
Chairil muda, belum sebesar seperti saat sekarang. Dia bahkan hanya
seorang pemuda miskin dengan penghasilan yang tidak menentu. Dia hanya
sesosok perenung kesunyian dengan cibiran banyak rekannya. Dia hanya
sosok pemuda dengan masa depan kabur, itulah menurut teman – temannya.
Namun Mirat tidak bisa menyanggah kesucian cinta. Walau kondisi Chairil
sangat jauh dari gelimang harta, namun hal demikian sama sekali tidak
menyurutkan sebuah perasaan suka. Ketertarikan cintanya pada Chairil
begitu kuat.
Seiring berjalannya waktu, Mirat akhirnya bisa dekat dengan Chairil.
Gayung pun bersambut, karena ternyata sang Penyair mempunyai perasaan
yang sama. Kedua insan muda itu mulai terlihat akrab. Mereka seperti
telah siap jika harus menjalani romantika cinta yang pedih perih.
Bagaimana tidak ? Sepasang kekasih itu hanya beberapa kali saja bertemu.
Tidak ada hal – hal besar mereka kabarkan, hanya sesekali berkeliling
menaiki sepeda sembari melihat lorong – lorong jalan pelosok dan bibir
tebing pesawahan. Dorongan cinta sucilah yang menyebabkan Mirat sangat
menikmati perjalanan cinta sangat sederhana. Cinta di hatinya bahkan
sama sekali tidak menuntutnya dengan nilai materi.
Keduanya pun seperti sepasang kekasih yang saling mengisi. Mereka
terikat pada situasi yang serasi dan bersahabat. Ketika Sumirat melukis
dia selalu di temani oleh puisi – puisi karya sang Kekasih. Begitu pun
ketika Chairil menulis dia selalu ditemani oleh lukisan – lukisan gadis
pujaannya. Mereka sangat lekat, persis seperti tinta dengan kertas, atau
cat dengan kanvas.
Tidak berlebihan jika Sumirat sering berkata dengan semangat, “Sungguh ideal kehidupan kami, sungguh menyenangkan”.
Namun bukan babak dunia, jika dia tidak menghadirkan problematikanya !
Tidak semua keinginan akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Begitu
pun dengan kisah cinta keduanya. Ideal bagi Mirat, ternyata sebaliknya
bagi orang tuanya. Hal itu pula yang akhirnya menjadi lobang menganga
dari kisah cinta mereka.
Hingga di satu waktu Sumirat pun harus betul – betul meninggalkan
Jakarta. Dia diminta pulang oleh orang tuanya di Paron, Madiun, Jawa
Timur. Seketika selubung mendung tiba – tiba seperti menggulung. Namun
Chairil dengan tatapan penuh semangat tetap berusaha meyakinkan
kekasihnya,
“Dalam waktu dekat aku akan menyusulmu ke Madiun. Aku akan datang
menemui orang tuamu dan menyampaikan keinginanku untuk melamarmu
kekasihku.”
Akhirnya janji itu pun benar – benar ditepati oleh Chairil. Dia
memberanikan diri untuk menemui orang tua Mirat di Paron Madiun. Walau
dengan mudah bisa ditebak, bahwa saat itu Chairil harus diterima dengan
pandangan sinis oleh adik – adik Mirat. Tentu mereka dengan jelas akan
menilai bahwa yang datang melamar hanya seorang pemuda dengan pekerjaan
dan penghasilan yang tidak menjanjikan masa depan.
Perjuangan Chairil muda memang tidak begitu saja terhenti. Terbukti
dalam surat – surat Chairil Anwar kepada HB Yassin pada bulan Maret
1944, dia banyak menceritakan tentang sebagian suratnya yang dikirim ke
alamat R.M Djojosepoetro, Paron. Dugaan terakhir, inilah nama ayahanda
Sumirat.
”Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal di hari kemudian
karena aku akan sanggup membuktikan bahwa karya – karyaku ini bermutu
dan berharga tinggi. Jangan putus asa Mirat aku akan terus berjuang
untuk memberi bukti” begitulah kata – kata Chairil selalu dengan
bersemangat.
Meski tidak bisa dipungkiri, bayang – bayang keraguan kadang
berselinap mengiringi semak panjang perjuangan Chairil. Tergambar dari
sajak – sajak yang ditulisnya :
Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau rakit hitam
‘Kan terdamparkah
atau terserah
Pada putaran hitam ?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapkah kami atau
Mengikut juga bayangan itu
Masih berdekapkah kami atau
Mengikut juga bayangan itu
Bahkan saat melamar Mirat, dia hanya membawa lembaran sajak, keberanian dan keyakian yang kuat akan cinta pada kekasihnya.
Namun kuasa Tuhan harus berbicara, bahwa sesuatu harus berjalan tanpa
kita duga. Chairil harus bisa menerima ketika pada akhirnya yang
membekas di ingatannya adalah kata – kata orang tua Sumirat :
“Kamu cari kerja dulu yang baik dan tetap, nanti kita bicarakan lagi.“
Seingatnya, kalimat itu pulalah yang akhirnya membuncahkan lelehan air
mata di wajah Sumirat. Mungkin di sinilah letak kelemahan manusia, bahwa
kita selalu menginginkan lebih dari apa yang seharusnya terjadi.
Chairil tersadar bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa
melawan sekat tinggi yang seolah akan segera dibangun oleh orang tua
Mirat untuk memisahkan cintanya.
“Dia adalah pemuda pilihan hatiku” itu satu – satunya pembelaan dari Mirat kepada orang tuanya yang sempat Chairil dengar.
Setelah kejadian itu, Chairil pun meninggalkan Paron. Dia pergi
meninggalkan setumpuk kertas dan catatan syair yang menjadi kenangan
mendalam bagi Sumirat.
Sejak itu kisah cinta mereka harus terpisah sekat jarak dan waktu.
Hanya beberapa kali mereka bisa berkirim surat. Baik Chiaril maupun
Sumirat harus merasakan diri mereka terperangkap dalam kesendirian
mendalam, tidak pernah mereka menyangka bahwa sebuah perasaan harus
benar – benar terampas.
“Sajak – sajak yang ditulisnya banyak tertuju kepadaku” begitu Sumirat sering bertutur untuk menghibur.
Chairil Anwar seolah menjadi penyair yang dibesarkan oleh rasa sakit
hati. Tidak berlebihan jika dalam salah satu puisinya saat itu, dia
menulis dengan sebutan ‘untuk tunanganku, Mirat.’ Sebuah ungkapan yang
barangkali hanya bertujuan untuk mengobati kegelisahannya pada perasaan
menyesakkan dada.
SAJAK PUTIH – buat tunanganku Mirat
besandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senja
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita mati datang tidak membelah
Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…..
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senja
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita mati datang tidak membelah
Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…..
Setelah kepergian Chairil, penindasan tentara Jepang mulai berkobar.
Kekacauan pun meluas, merambah juga sampai ke Desa Paron. Akibat dari
sebuah pertempuran suatu hari terjadi kebakaran hebat di daerah
tersebut. Kebakaran itu begitu besar, bahkan ikut membakar rumah
Sumirat. Tak bisa dihindari lagi, kopor berisi buku – buku dan berkas
tulisan Chairil yang disimpan Mirat ikut terbakar. Kenangan dari pujaan
hatinya yang tersisa hanyalah sedikit catatan memori dan sajak yang
berhasil diselamatkan, sedang sebagian besar lainnya telah lenyap
bersamaan dengan lenyapnya jangkauan dirinya untuk bisa bertemu dengan
Chairil.
Tahun demi tahun berjalan dengan rasa menyesakkan. Walaupun keduanya
saling menyukai, namun Sumirat telah benar – benar terpisah dengan
Chairil. Dia sudah tidak bisa lagi berkomunikasi. Dia hanya bisa sedikit
mendengar kabar. Hingga akhirnya pada tahun 1946, raut kesedihan
Sumirat harus benar – benar tergambar ketika dia mendengar kabar bahwa
Chairil Anwar telah menikah dengan seorang perempuan bernama Hapsah
Wiriaredja. Entah ada rahasia apa di balik jalan cerita tersebut, namun
seorang Sumirat harus lama belajar tentang bahasa ketegaran.
“Selamat berbahagia bersamanya, kekasih sejatiku,” ucap Mirat dengan mata berkaca – kaca.
Belum berselang lama. Bahkan hanya beberapa tahun berjalan, tepatnya
pada 28 April 1949, puncak kesedihan Mirat pun harus benar – benar
terlengkapi. Sungguh berat angin musim harus mengabarinya sebuah berita.
Di wajah Mirat seperti tergambar bentangan langit yang runtuh ke bumi.
Sebuah berita yang merontokkan isi dadanya : Chairil Anwar meninggal
dalam usia 27 tahun !
“Aku akan selalu menyayangimu. Selamat jalan pujanggaku. Selalu aku
berdoa untukmu,” di depan orang tuanya, Mirat tak kuasa meneriakkan
kesedihan itu.
Seorang Chairil adalah sebuah keindahan. Bukan hanya bagi Sumirat,
namun juga bagi orang – orang yang mengapresiasi karya – karyanya. Hidup
Chairil berjalan sangat singkat, dia pun harus meninggal dalam lilitan
kemiskinan. Dia bahkan tidak sempat menikmati kebesaran dari karya –
karyanya. Ternyata Chairil pun belum mampu mewujudkan kata – kata
indahnya tentang cinta di masa hidupnya yang nyata.
Chairil pun bukan sosok yang punya keistimewaan tentang mencintai.
Tidak banyak orang tahu, bahwa dia ternyata tak kuasa melepas nafas
panjang masa lalunya. Chairil masih menyimpan kenangan, hasrat dan rasa
cinta yang besar pada Mirat, cinta sejatinya. Bahkan pun ketika dia
sudah menikah dengan orang lain. Terbukti dari puisi yang terakhir
sempat ditulisnya bercerita tentang kerinduannya pada Mirat. Puisi yang
sempat ditulisnya di tahun 1949, beberapa waktu sebelum dia tutup usia.
Mungkin saja saat itu Chairil merasakan isyarat kerinduan pada seseorang
yang pernah menjadi cinta sejatinya. Barangkali itulah isyarat tentang
impian cintanya yang harus benar – benar terrpisah abadi oleh :
KEMATIAN. Sungguh mengharukan !
Dan inilah puisi untuk Mirat yang terakhir Chairil tulis :
Mirat Muda, Chairil Muda – 1949
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisah matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah
Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
Dan tunjukan dengan pasti dimana
Menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan
Dianya pada Chairil makin sehati,
Hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan chairil dengan deras
Menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati.
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisah matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah
Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
Dan tunjukan dengan pasti dimana
Menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan
Dianya pada Chairil makin sehati,
Hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan chairil dengan deras
Menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati.
“Kini Chairil sudah tiada, penyair yang sepanjang hidupnya aku kagumi
dan kudambakan, sebagai seorang penyair besar dari zamannya. Dia benar,
Chairil telah membuktikan dirinya orang besar, seperti yang selalu
dikatakannya kepadaku dulu.” itulah kata – kata Sumirat ketika
ingatannya harus terlempar untuk mengenang cintanya pada seorang
kekasih.
***
Kita tidak akan menyimpulkan kisah ini.
“Mencintai seseorang, mungkin hal yang mudah. Namun untuk memiliki seutuhnya seseorang yang kita cintai, itu yang tidak mudah !”
Semoga bermanfaat.
Wassalam.
Wassalam.
==========================
fans page : http://www.facebook.com/Catatan.KangHabibArham
blog : www.habibarham.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar