Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

PERUMPAMAAN PASIR DAN BATU

 ( Renungan Persahabatan )



Ada dua orang sahabat tengah melakukan perjalanan menyeberangi padang pasir. Pada suatu tempat, mereka berselisih paham dan terlibat dalam perdebatan. Salah seorang sahabat menampar muka sahabat yang lain. Sahabat yang ditampar hanya terdiam, dia sangat terluka hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, akhirnya ia menulis di pasir :
“HARI INI SAHABAT TERBAIK MENAMPARKU”

Setelah beberapa saat mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan berikutnya, mereka menemukan danau lalu mandi di danau tersebut. Orang yang ditampar tadi terjebak dalam gulungan lumpur dan terlihat mulai tenggelam. Sahabat yang tadi menamparnya pun datang menolong. Dengan bersusah payah akhirnya sahabat yang nyaris tenggelam itu pun berhasil diselamatkan. Dia pun terdiam sesaat, hatinya sangat terharu. Sambil menitikkan air mata, ia menulis kata – kata di atas batu :
“HARI INI SAHABAT TERBAIK TELAH MENYELAMATKANKU”

Sahabat yang menolong berkata, “Tadi saat aku menampar, kamu menulis di pasir. Sekarang ketika aku menolong, tiba - tiba kamu menulis di atas batu, mengapa ?”
Sahabat satunya pun menjawab, “Ketika seseorang melukai hati kita, sebaiknya kita hanya mengingatnya ibarat di atas pasir agar angin maaf segera bisa menghapusnya. Namun, bila seseorang berbuat baik kepada kita, hendaknya kita mengingatnya layaknya mengukir kebaikan itu di batu sehingga angin takkan pernah bisa menghapusnya.”

MENYAPA KEMBALI SUNGAI LUKULO :


Saat Melintasi Kota Lama "Kebumen"




Untuk : Sahabat lamaku yang terpisah jarak dan waktu.

Dalam paruh perjalanan menuju Yogyakarta, di satu pagi yang sarat mengabarkan musim penghujan datang, aku putuskan berhenti sejenak menyapa turunnya kabut di Jalan Deandles Kota Kebumen. Ditemani angin dingin bulan Agustus dan gemerisik pepohonan akasia, aku dapati raut Sungai Lukulo yang sepertinya masih memeluk kantuk.

Tiba – tiba aku temukan kedamaian, saat memandang bentangan ladang menyerupai kanvas luas dengan tumpahan cat warna hijau tegas. Rimbun padi sawah yang merunduk menciumi kening tanah serta gundukan semak rumput yang mirip gugusan pulau kecil di tengah lautan kabut. Semuanya mengingatkanku pada sebuah alenia dari tulisan Fergal Keane, penulis asal Irlandia, dalam bukunya Letter to Daniel :
"…. setiap kali pulang ke Cork pada musim panas, saya tidak dapat menahan keinginan untuk menjenguk St. Declans. Saya akan berhenti di sana selama beberapa waktu, bersandar dalam hangatnya pelukan yang tak terlihat, sambil membayangkan seolah – olah mendengar alunan musik opera dari radio, di tengah jerit suara anak – anak kecil, kemudian seorang wanita memanggil – manggil mereka untuk minum teh…"
Apa yang dirasakan Fergal Keane mungkin sama dengan yang aku rasakan saat ini : kerinduan kota lama !

Mungkin benar bahwa kerinduan adalah ruang batin yang sangat menggelisahkan dalam bahasa apapun. Mungkin benar bahwa kerinduan adalah layaknya kesendirian saat terapung dengan hanya berbekal dayung. Mungkin benar dalam bahasa yang lebih dewasa, kerinduan adalah satu pembelajaran untuk kita jujur tentang keterbatasan sebagai manusia. Kerinduan ibaratnya ujian dalam kubangan lamunan. Kerinduan adalah keharusan untuk terhenyak, menuju pilihan hidup yang lebih bijak.

Menyapa kembali ‘kota lama’. Sepertinya aku harus kembali menyelam, mengenang rentang waktu di tahun – tahun silam. Mengenang bingkai masa muda yang penuh luap harapan, kemanjaan, kebahagiaan, kepolosan, persahabatan, cinta, gurauan bermain, tertawa, menangis sedih, bercita – cita tulus, mendapati senyum ibu, mengaji dengan ayah, dan akhirnya menemukan sebuah garis penentuan yang mengajakku mempercayai sebuah arti kekuasaan Illahi.

Adalah masa – masa kecil. Ketika dulu aku sering menghabiskan pagi, melewati hamparan sawah yang hanya berjarak ratusan meter di belakang rumah. Berjalan kaki sembari bergelayut di lengan ayah yang terasa bersaraf kesabaran. Saat itu aku senantiasa menyelinapkan berlembar kertas kosong di saku baju. Sesampainya di tempat yang lebih tinggi, selalu kuminta ayah untuk duduk sejenak : menyaksikan lembu – lembu pembajak yang keluar dari arah perkampungan selatan, menyaksikan burung – burung putih terbang mengawang menyerupai perca – perca kertas. Saat itulah aku mulai gemar menulis puisi. Aku sering menyampaikan cita – cita,” aku ingin menjadi seorang Kahlil Gibran atau Victor Hugo.” Namun ayah tidak pernah menjawab, hanya mengangkat bahu dan mengulas senyum. “Kamu terlalu bersemangat nak,” hanya itu kata beliau. Masih juga kuingat ketika setiap sore di musim penghujan, aku sering berlama – lama duduk di belakang jendela. Menyimak dongeng dari ibu sembari mencermati guyuran air hujan yang turun membuncah. Ibu sosok yang sangat penyayang. Dapat aku rasakan setiap beliau berkali mengelus rambutku sembari bertutur pesan tentang kehidupan.

Hal lain yang sangat membekas adalah ketika hari siang selalu berhambur keriangan dari gurauan mereka kawan - kawan sebaya. Mereka begitu polos, mereka selalu tersenyum lepas. Sungguh menjadi begitu terbatasnya jiwa, ketika merasakan ruang usia berjalan begitu cepatnya.

Hingga akhirnya aku tersadar bahwa fase waktu ternyata sudah bergeser begitu jauh. Waktu hanya datang sekali, begitulah kita tidak pernah mampu mengulangnya kembali. Aku tersadar bahwa riak perjalanan telah tersusun oleh Sang Pemahat Keputusan. Manusia hanya bisa berusaha melihat, ketika  garis masa harus berjalan tanpa memberi isyarat. Termasuk ketika Tuhan saat itu menunjukkan, satu pelajaran yang sangat mendewasakan. Kawanku, aku kabarkan : bahwa orang - orang tercinta telah meninggalkan, di saat aku masih dalam pengembaraan.

Cerita itu agaknya telah terlarut dalam wajah ‘kota lama’. Sering membangunkanku tengah malam. Hingga dalam episode perjalanan aku betul -betul menemukan kesimpulan, bahwa kerinduan bukan sekedar kegelisahan. Kerinduan adalah satu kesadaran hati yang menuntut ketegaran dan keikhlasan diri.

Termasuk pagi ini, ketika akhirnya pendengaranku diserbu desis riak Sungai Lukulo. Baiklah, rupanya aku harus menyudahi kontemplasi. Aku harus kembali beranjak, meninggalkan air coklat Lukulo yang terus berkecipak. Pagi ini kuhempaskan nafas silam, menghembuskannya dengan satu filosofi mendalam : jadikan masa lalu sebagai guru. Karena hari ini adalah ikhtiar mawas diri dan hari esok adalah rencana yang lebih elok. Aamiin ya Rabb.

( Aku sempat meraih kertas dan menulis sebuah kalimat :
Untuk sahabat kota lamaku, yang kini terpisah jarak dan waktu. Semoga kita akan tetap berkawan, layaknya langit dan lautan. Kita memang terpisah jauh, namun suatu saat pasti akan bertemu. Karena pada waktunya air laut pasti menguap dan dia akan terbang tinggi ke langit menjadi gumpalan mendung dan awan )
Semoga..

PROSAIS PELABUHAN TANJUNG INTAN

Satu sore aku berdiri, menyabung persendian dengan udara dingin Segara Anakan. Bulan telah terbit lebih dini, menyembul di antara lambung – lambung kapal yang menyandarkan bayangan memanjang. Berulangkali denyut nadi keletihan Pelabuhan Tanjung Intan terdengar. Namun tetap saja ketika warna senja menguasai seluruh permukaan laut, kapal – kapal serentak menyalakan lampu suar. Melahirkan satu pemandangan menyerupai miniatur kota yang terdampar.



Tiba – tiba saja sebuah sisi abstrak menghampiri, mengajakku berkontemplasi. Entah mengapa selalu kutemukan kerinduan yang menggaung di kota ini. Entah mengapa panorama pucuk mangrove seolah menjadi pertanyaan yang sukar aku jawab dengan tepat. Mungkinkah ini menjadi analogi yang selalu sarankan senyuman tulus ? Atau setidaknya mengajakku kembali mengingat, saat suatu hari di salah satu sudut kota seseorang menanyaiku:
‘Mengapa engkau lebih memilih untuk memaafkan dia ?’


Ah, setahuku itulah pertanyaanmu yang sering mengiang begitu dekat.

‘Memaafkan adalah kemenangan yang sulit didapat. Hal itulah yang menyebabkanku selalu berusaha untuk bisa meraihnya. Aku percaya, nilai baik seseorang terkadang lebih tinggi dari sekedar yang kita lihat. Bahkan, kebaikan besar sering pula terselimuti oleh rahasia yang besar. Sehingga sejatinya hanyalah Tuhan yang bisa membaca segala sesuatu dengan adil.’ 

Itulah kata – kataku yang akhirnya disudahi oleh suasana langit yang bersemburat merah saga dan warna pasir yang berangsur dicengkeram gelap.
Seperti juga sore ini, kata – kata itu kembali menyadarkanku : tentang sebuah keterbatasan, tentang kefanaan manusia.

Akhirnya ketika sayup adzan mendekat, aku menyudahi kontemplasi dengan sebuah tulisan :
semoga kita bisa belajar setiap senja menjelang,
karena bulan di langit tidak pernah membatasi atau mengakhiri,
melainkan membantu menerangi jalan,
ketika kita terkadang melangkah di kegelapan.

==========================
Blog lain : www.habibarham.blog.com 

PETUALANGANMU BERAKHIR BUKAN KARENA TERJANGAN BADAI NICOLAS

Mengenang sahabatku : Ld di Cilacap

 

Badai Nicolas sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas perairan Samudra Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat dan sinarnya lebih sering berselinap di awan pekat. Adalah raut cemas yang terus membekas, karena kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin terpaksa harus berhenti di sekitar Teluk Popoh, Besole, Tulungagung setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.

Kejadian tersebut adalah gambaran dari surat terakhirmu yang aku terima Pebruari 1999. Kejadian yang menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana bila harus berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Terbukti keberanian dan jiwa petualangmu pun tetap luluh lantak ketika harus menemui badai dan ombak yang datang mendadak.

‘Padahal Tuhan menciptaku sebagai pengembara’, itulah retorikamu yang begitu penuh semangat. Kata – kata yang pernah kamu ucapkan sewaktu kita harus tersesat dalam petualangan melelahkan untuk menaklukkan hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di kawasan Dayeah Luhur. Satu pengalaman berat yang akhirnya menguji kesabaran kita karena detik waktu bergulir penat. Bahkan serasa hampir sepertiga malam harus kita habiskan untuk kembali menemukan arah terang menuju pegunungan Majenang.

Sahabat, kisah pertemanan kita ibarat rangkaian analogi kehidupan yang menyentuh jiwa. Tuhan telah sempurna menggambar keseimbangan dunia, antara siang dan malam, antara baik dan buruk, antara mimpi dan kenyataan, bahkan antara hidup dan kematian.

Bukankah kita selalu percaya, bahwa hidup dan mati adalah perjalanan penuh misteri, karena hanya Illahi yang mengetahui ? Manusia bisa saja menyusun rencana, manusia bisa saja menebak bayang – bayang, namun tetap saja Yang Maha Kuasa akan menggariskan. Apa yang kita banggakan belum tentu menjadi kenyataan membahagiakan.Termasuk apa yang kita takuti juga belum tentu akan datang mengakhiri.

Seperti kisah hidupmu, kawan. Kemirisanmu terhadap badai Nicolas hanya sebatas rasa cemas, karena ternyata keberanian pengembaraanmu justru harus habis dengan peristiwa yang lebih tragis. Bukan karena terjangan badai dan ombak, tetapi karena kecelakaan yang alangkah menyentak.

Sungguh tidak pernah terlintas di benakku, ketika tiba – tiba berita itu datang merontokkan dada. Suatu siang menjelang Idul Fitri 1419 H, di ruas jalan berliku di daerah Lumbir ( sekitar 40 km arah barat Kota Purwokerto ), daerah yang sering kamu kagumi sebagai lukisan alam yang indah, harus menjadi saksi bisu saat kisah hidupmu, mimpi – mimpimu, dan semua rencana panjangmu harus berakhir begitu cepat.

( Sahabat, namun aku selalu ingat satu kalimat yang dulu kita sama – sama percaya : pengalaman pahit tidak untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan guru sejati. Hal itulah yang rupanya mengilhamiku untuk menuangkan sedikit cerita pertemanan kita – walaupun dalam setting dan alur berbeda – dalam sebuah novel persahabatan berjudul ‘LA CAUDA’.

Akhirnya, teriring salam dan doaku untukmu : semoga Tuhan memberi ketenangan dan kelapangan. Selamat jalan kawan ! )

=================================