Saat Melintasi Kota Lama "Kebumen"
Untuk : Sahabat lamaku yang terpisah jarak dan waktu.
Dalam paruh perjalanan menuju Yogyakarta, di satu pagi yang sarat
mengabarkan musim penghujan datang, aku putuskan berhenti sejenak menyapa turunnya kabut di Jalan Deandles Kota Kebumen. Ditemani angin dingin
bulan Agustus dan gemerisik pepohonan akasia,
aku dapati raut Sungai Lukulo yang sepertinya masih memeluk kantuk.
Tiba –
tiba aku temukan kedamaian, saat memandang bentangan ladang
menyerupai kanvas luas dengan tumpahan cat warna hijau tegas. Rimbun padi sawah yang merunduk menciumi kening tanah serta gundukan semak
rumput yang mirip gugusan pulau kecil di tengah lautan kabut.
Semuanya mengingatkanku pada sebuah alenia dari tulisan Fergal Keane,
penulis asal Irlandia, dalam bukunya Letter to Daniel :
"…. setiap
kali pulang ke Cork pada musim panas, saya tidak dapat menahan keinginan
untuk menjenguk St. Declans. Saya akan berhenti di sana selama beberapa
waktu, bersandar dalam hangatnya pelukan yang tak terlihat, sambil
membayangkan seolah – olah mendengar alunan musik opera dari radio, di
tengah jerit suara anak – anak kecil, kemudian seorang wanita memanggil –
manggil mereka untuk minum teh…"
Apa yang dirasakan Fergal Keane
mungkin sama dengan yang aku rasakan saat ini : kerinduan kota lama !
Mungkin benar bahwa kerinduan adalah ruang batin yang sangat
menggelisahkan dalam bahasa apapun. Mungkin benar bahwa kerinduan adalah layaknya kesendirian saat terapung dengan
hanya berbekal dayung. Mungkin benar dalam bahasa yang lebih dewasa,
kerinduan adalah satu pembelajaran untuk kita jujur tentang keterbatasan
sebagai manusia. Kerinduan ibaratnya ujian dalam kubangan lamunan. Kerinduan adalah keharusan untuk terhenyak, menuju pilihan hidup yang lebih bijak.
Menyapa kembali ‘kota lama’. Sepertinya aku harus kembali menyelam, mengenang rentang waktu di tahun – tahun silam. Mengenang
bingkai masa muda yang penuh luap harapan, kemanjaan, kebahagiaan,
kepolosan, persahabatan, cinta, gurauan bermain, tertawa, menangis
sedih, bercita – cita tulus, mendapati senyum ibu, mengaji dengan ayah,
dan akhirnya menemukan sebuah garis penentuan yang mengajakku mempercayai sebuah arti kekuasaan Illahi.
Adalah masa – masa kecil. Ketika dulu aku sering menghabiskan pagi,
melewati hamparan sawah yang hanya berjarak ratusan meter di
belakang rumah. Berjalan kaki sembari bergelayut di lengan ayah yang
terasa bersaraf kesabaran. Saat itu aku senantiasa
menyelinapkan berlembar kertas kosong di saku baju. Sesampainya
di tempat yang lebih tinggi, selalu kuminta ayah untuk duduk
sejenak : menyaksikan lembu – lembu pembajak yang keluar dari arah
perkampungan selatan, menyaksikan burung – burung putih terbang
mengawang menyerupai perca – perca kertas. Saat itulah aku mulai gemar menulis puisi. Aku
sering menyampaikan cita – cita,” aku ingin menjadi seorang Kahlil
Gibran atau Victor Hugo.” Namun ayah tidak pernah menjawab, hanya mengangkat bahu dan mengulas senyum. “Kamu terlalu bersemangat nak,” hanya itu kata beliau. Masih juga kuingat ketika setiap sore di musim penghujan, aku sering berlama – lama duduk di belakang jendela. Menyimak dongeng dari ibu sembari mencermati guyuran air hujan yang
turun membuncah. Ibu sosok yang sangat penyayang. Dapat aku rasakan setiap
beliau berkali mengelus rambutku sembari bertutur pesan tentang
kehidupan.
Hal lain yang sangat membekas adalah ketika hari siang selalu berhambur keriangan dari gurauan mereka kawan - kawan sebaya. Mereka begitu polos, mereka selalu tersenyum lepas. Sungguh menjadi begitu terbatasnya jiwa, ketika merasakan ruang usia berjalan begitu cepatnya.
Hingga akhirnya aku tersadar
bahwa fase waktu ternyata sudah bergeser begitu jauh. Waktu hanya datang sekali, begitulah kita tidak pernah mampu mengulangnya kembali. Aku tersadar bahwa riak perjalanan telah tersusun oleh Sang Pemahat Keputusan. Manusia hanya bisa berusaha melihat, ketika garis masa harus
berjalan tanpa memberi isyarat. Termasuk ketika Tuhan saat itu menunjukkan, satu
pelajaran yang sangat mendewasakan. Kawanku, aku kabarkan : bahwa orang - orang tercinta telah
meninggalkan, di saat aku masih dalam pengembaraan.
Cerita itu agaknya telah terlarut
dalam wajah ‘kota lama’. Sering membangunkanku tengah malam. Hingga dalam episode perjalanan aku betul -betul menemukan
kesimpulan, bahwa kerinduan bukan sekedar kegelisahan. Kerinduan adalah satu kesadaran hati yang menuntut ketegaran dan keikhlasan diri.
Termasuk pagi ini, ketika akhirnya
pendengaranku diserbu desis riak Sungai Lukulo. Baiklah, rupanya aku harus
menyudahi kontemplasi. Aku harus kembali beranjak,
meninggalkan air coklat Lukulo yang terus berkecipak. Pagi ini kuhempaskan nafas silam, menghembuskannya
dengan satu filosofi mendalam : jadikan masa lalu sebagai guru. Karena hari ini adalah ikhtiar mawas diri dan hari esok adalah
rencana yang lebih elok. Aamiin ya Rabb.
( Aku sempat meraih kertas dan menulis sebuah kalimat :
Untuk sahabat kota lamaku, yang kini terpisah jarak dan waktu.
Semoga kita akan tetap berkawan, layaknya langit dan lautan. Kita memang terpisah jauh, namun suatu saat pasti akan bertemu. Karena pada waktunya air laut pasti menguap dan dia akan terbang tinggi ke langit menjadi gumpalan mendung dan awan )
Semoga..