PETUALANGANMU BERAKHIR BUKAN KARENA TERJANGAN BADAI NICOLAS
Mengenang sahabatku : Ld di Cilacap
Badai Nicolas
sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas perairan Samudra
Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat dan
sinarnya lebih sering berselinap di awan pekat. Adalah raut cemas yang
terus membekas, karena kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin
terpaksa harus berhenti di sekitar Teluk Popoh, Besole, Tulungagung
setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.
Kejadian tersebut adalah gambaran dari
surat terakhirmu yang aku terima Pebruari 1999. Kejadian yang
menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi
keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana bila harus berhadapan
dengan kekuasaan Sang Pencipta. Terbukti keberanian dan jiwa petualangmu
pun tetap luluh lantak ketika harus menemui badai dan ombak yang datang
mendadak.
‘Padahal Tuhan menciptaku sebagai pengembara’, itulah retorikamu
yang begitu penuh semangat. Kata – kata yang pernah kamu ucapkan
sewaktu kita harus tersesat dalam petualangan melelahkan untuk
menaklukkan hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di kawasan
Dayeah Luhur. Satu pengalaman berat yang akhirnya menguji kesabaran kita
karena detik waktu bergulir penat. Bahkan serasa hampir sepertiga malam
harus kita habiskan untuk kembali menemukan arah terang menuju
pegunungan Majenang.
Sahabat,
kisah pertemanan kita ibarat rangkaian analogi kehidupan yang menyentuh
jiwa. Tuhan telah sempurna menggambar keseimbangan dunia, antara siang
dan malam, antara baik dan buruk, antara mimpi dan kenyataan, bahkan
antara hidup dan kematian.
Bukankah
kita selalu percaya, bahwa hidup dan mati adalah perjalanan penuh
misteri, karena hanya Illahi yang mengetahui ? Manusia bisa saja
menyusun rencana, manusia bisa saja menebak bayang – bayang, namun tetap
saja Yang Maha Kuasa akan menggariskan. Apa yang kita banggakan belum
tentu menjadi kenyataan membahagiakan.Termasuk apa yang kita takuti juga
belum tentu akan datang mengakhiri.
Seperti
kisah hidupmu, kawan. Kemirisanmu terhadap badai Nicolas hanya sebatas
rasa cemas, karena ternyata keberanian pengembaraanmu justru harus habis
dengan peristiwa yang lebih tragis. Bukan karena terjangan badai dan
ombak, tetapi karena kecelakaan yang alangkah menyentak.
Sungguh
tidak pernah terlintas di benakku, ketika tiba – tiba berita itu datang
merontokkan dada. Suatu siang menjelang Idul Fitri 1419 H, di ruas
jalan berliku di daerah Lumbir ( sekitar 40 km arah barat Kota
Purwokerto ), daerah yang sering kamu kagumi sebagai lukisan alam yang
indah, harus menjadi saksi bisu saat kisah hidupmu, mimpi – mimpimu, dan
semua rencana panjangmu harus berakhir begitu cepat.
(
Sahabat, namun aku selalu ingat satu kalimat yang dulu kita sama – sama
percaya : pengalaman pahit tidak untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan
guru sejati. Hal itulah yang rupanya mengilhamiku untuk menuangkan
sedikit cerita pertemanan kita – walaupun dalam setting dan alur berbeda – dalam sebuah novel persahabatan berjudul ‘LA CAUDA’.
Akhirnya, teriring salam dan doaku untukmu : semoga Tuhan memberi ketenangan dan kelapangan. Selamat jalan kawan ! )
=================================
Blog lain : www.habibarham.blog.com
0 komentar:
Posting Komentar