Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC

PETUALANGANMU BERAKHIR BUKAN KARENA TERJANGAN BADAI NICOLAS

Mengenang sahabatku : Ld di Cilacap

 

Badai Nicolas sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas perairan Samudra Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat dan sinarnya lebih sering berselinap di awan pekat. Adalah raut cemas yang terus membekas, karena kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin terpaksa harus berhenti di sekitar Teluk Popoh, Besole, Tulungagung setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.

Kejadian tersebut adalah gambaran dari surat terakhirmu yang aku terima Pebruari 1999. Kejadian yang menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana bila harus berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Terbukti keberanian dan jiwa petualangmu pun tetap luluh lantak ketika harus menemui badai dan ombak yang datang mendadak.

‘Padahal Tuhan menciptaku sebagai pengembara’, itulah retorikamu yang begitu penuh semangat. Kata – kata yang pernah kamu ucapkan sewaktu kita harus tersesat dalam petualangan melelahkan untuk menaklukkan hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di kawasan Dayeah Luhur. Satu pengalaman berat yang akhirnya menguji kesabaran kita karena detik waktu bergulir penat. Bahkan serasa hampir sepertiga malam harus kita habiskan untuk kembali menemukan arah terang menuju pegunungan Majenang.

Sahabat, kisah pertemanan kita ibarat rangkaian analogi kehidupan yang menyentuh jiwa. Tuhan telah sempurna menggambar keseimbangan dunia, antara siang dan malam, antara baik dan buruk, antara mimpi dan kenyataan, bahkan antara hidup dan kematian.

Bukankah kita selalu percaya, bahwa hidup dan mati adalah perjalanan penuh misteri, karena hanya Illahi yang mengetahui ? Manusia bisa saja menyusun rencana, manusia bisa saja menebak bayang – bayang, namun tetap saja Yang Maha Kuasa akan menggariskan. Apa yang kita banggakan belum tentu menjadi kenyataan membahagiakan.Termasuk apa yang kita takuti juga belum tentu akan datang mengakhiri.

Seperti kisah hidupmu, kawan. Kemirisanmu terhadap badai Nicolas hanya sebatas rasa cemas, karena ternyata keberanian pengembaraanmu justru harus habis dengan peristiwa yang lebih tragis. Bukan karena terjangan badai dan ombak, tetapi karena kecelakaan yang alangkah menyentak.

Sungguh tidak pernah terlintas di benakku, ketika tiba – tiba berita itu datang merontokkan dada. Suatu siang menjelang Idul Fitri 1419 H, di ruas jalan berliku di daerah Lumbir ( sekitar 40 km arah barat Kota Purwokerto ), daerah yang sering kamu kagumi sebagai lukisan alam yang indah, harus menjadi saksi bisu saat kisah hidupmu, mimpi – mimpimu, dan semua rencana panjangmu harus berakhir begitu cepat.

( Sahabat, namun aku selalu ingat satu kalimat yang dulu kita sama – sama percaya : pengalaman pahit tidak untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan guru sejati. Hal itulah yang rupanya mengilhamiku untuk menuangkan sedikit cerita pertemanan kita – walaupun dalam setting dan alur berbeda – dalam sebuah novel persahabatan berjudul ‘LA CAUDA’.

Akhirnya, teriring salam dan doaku untukmu : semoga Tuhan memberi ketenangan dan kelapangan. Selamat jalan kawan ! )

=================================

0 komentar:

Posting Komentar