LOVE IS BOULEVARD
( Cerpen Refleksi : ketika kebahagiaan dan tangisan menjadi dua sisi yang berbatas sekat tipis )
Oleh : Habib Arham
Ketika Maulana menguak jendela, udara Subuh masih merajut embun penuh. Hilir Sungai Amandit – salah satu sungai kebanggaan masyarakat
Kalimantan Selatan – terus berkecipak, mengantar pergi gelap sekerat
demi sekerat. Rimbun gelagah pun masih teracak, seolah belum hilang
ingatannya dengan kelelahan petualangan bamboo rafting yang kemarin hari mengantar Maulana melewati rute arum jeram dari Loksado, kota kecil berjarak 130 km di luar Banjarmasin.
Detik – detik waktu yang berjalan, nyaris habis menjadi sisa terakhir bagi Maulana untuk bisa menghirupi aroma sejuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ini pula sisa waktu terakhirnya bisa menyaksikan raut seseorang bernama Admira, gadis asal Banjarmasin yang telah menemani petualangannya sekitar setengah purnama berkeliling Kalimantan. Satu hal yang akhirnya tidak bisa Maulana menjawab, mengapa saat ini dia begitu berat untuk meninggalkan riak Sungai Amandit ?
Inikah kefanaan harap manusia, ketika mereka terlalu terlena dan merasa berat untuk menghadapi sebuah perpisahan ? Hal itukah yang dialami Maulana hari ini ? Entahlah, hatinya hanya bisa mengawang, bahkan beretorika mengulang.
“Bisakah perasaan terdalam seorang wanita meretas jika seseorang mau mendengar dan menyenangkan hatinya yang dirundung cemas ?”
Sejatinya Maulana tak membutuhkan jawaban, karena hatinya telah terjebak.
Yang dia ingat, cerita dilematis itu terawali ketika suatu sore di sebuah sudut Loksado, dia mendapati seorang Admira termenung dengan kesedihan mendalam dan sudut mata berkaca – kaca. Episode cerita pun terus berjalan, seiring udara bertiupan. Naluri terdalam Maulana selalu menuntunnya, dia ingin menenangkan hati Admira.
“Sungguh , aku tulus,” ucapnya. Namun inilah dunia, ketika semua harus berjalan tanpa teduga. Maulana pun tidak akan pernah berencana saat malam – malam selanjutnya justru menghampiri dengan berlembar misteri. Kegelisahan cinta! Dia tidak bisa menghindar, ketika senyuman – senyuman Admira kini selalu hadir dan membuatnya lama termenung sebelum tidur. Keterbatasan manusia menjeratnya, menyuguhkan taman – taman bunga.
Entah, maya atau nyata.
***
Malam
mulai hening, namun udara jengah belum juga berpaling. Ketika sisa
hujan mengering lebih cepat, kini rumput halaman bahkan meluruh
ditanggalkan penat. Seperti ada tabir ketakutan datang saat berkali
lereng Merapi berkhabar tentang mimpi siang.
Di
sebuah rumah di daerah Yogyakarta utara, seorang wanita bernama Safira
masih terpaku di bibir ranjangnya. Sinar lampu pijar cukup jelas
memperlihatkan sesosok bocah tengah tertidur di sampingnya. Agaknya Sang
Bocah diserang rasa lelah karena tidurnya seperti mengandung raut
gelisah. Setidaknya beberapa saat yang lalu dia sempat mengigau :
“Bunda.. bunda, ayah sudah pulang ?”
“Bunda.. bunda, ayah sudah pulang ?”
Sudah
beberapa sore bocah kecil bernama ‘Lala’ itu selalu berdiri berjam –
jam di depan jendela. Seolah sedang mencari sebuah jawaban dari lepas
kerinduan di setiap senja menjelang. Selalu dia menyampaikan petanyaan,
tidak pernah lupa dia ulangi di setiap petang :
“Bunda, kapan ayah pulang ?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kini menjadi pertanyaan yang sangat sulit bagi Safira untuk menjawabnya.
“Sayang, ayah sudah pulang tadi malam, sewaktu Lala masih tidur. Bahkan ayah sempat tidur di samping Lala, sempat memeluk Lala, terus menyanyikan lagu buat Lala,” entah sudah berapa kali Safira menjawab pertanyaan itu dengan kebohongannya.
“Mengapa ayah tidak membangunkan Lala ?”
“Lala masih tidur, makanya ayah tidak berani membangunkan Lala.”
“Memangnya ayah berangkat kerja jam berapa ?’
“Ya, ayah kerjanya jauh.. Jadi ayah harus berangkat pagi – pagi sekali, sebelum Lala bangun.”
“Ah, kasihan ayah. Kalau begitu nanti malam aku akan menunggu ayah. Lala tidak akan tidur sebelum ayah pulang.”
“Bunda, kapan ayah pulang ?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kini menjadi pertanyaan yang sangat sulit bagi Safira untuk menjawabnya.
“Sayang, ayah sudah pulang tadi malam, sewaktu Lala masih tidur. Bahkan ayah sempat tidur di samping Lala, sempat memeluk Lala, terus menyanyikan lagu buat Lala,” entah sudah berapa kali Safira menjawab pertanyaan itu dengan kebohongannya.
“Mengapa ayah tidak membangunkan Lala ?”
“Lala masih tidur, makanya ayah tidak berani membangunkan Lala.”
“Memangnya ayah berangkat kerja jam berapa ?’
“Ya, ayah kerjanya jauh.. Jadi ayah harus berangkat pagi – pagi sekali, sebelum Lala bangun.”
“Ah, kasihan ayah. Kalau begitu nanti malam aku akan menunggu ayah. Lala tidak akan tidur sebelum ayah pulang.”
Sejujurnya
Safira selalu dibuat cemas dengan dengan kata – kata Lala. Untunglah,
bidadari kecilnya masih bisa percaya dengan cerita dan bujukannya,
sehingga dia bisa selalu tidur sebelum gelap betul – betul menjadi
sempurna.
Tetapi
ada yang berbeda dengan malam ini. Safira betul – betul merasa sesak,
hatinya terdesak. Perjalanan waktu seolah berubah menjadi pengembaraan
berat. Wanita itu mendadak sangat terharu, sedih luar biasa. Bertumpuk
penyesalan menyeruak di dadanya.
Lala
adalah sebuah cermin dari Tuhan yang mengetuk dinding perasaannya.
Safira merasakan dirinya tedampar dalam senyap. Dia tidak bisa berdusta,
dua kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah ketidakjujurannya terhadap
Maulana dan bidadari kecilnya, Lala.
Safira betul – betul gelisah, nafasnya habis tertumpah. Dia beranjak, merapat ke koridor jendela. Angannya mengawang, mengembara pekat. Nyaris hanya berteman kehampaan, nyaris hanya lahan gelap dan samudra senyap.
Safira betul – betul gelisah, nafasnya habis tertumpah. Dia beranjak, merapat ke koridor jendela. Angannya mengawang, mengembara pekat. Nyaris hanya berteman kehampaan, nyaris hanya lahan gelap dan samudra senyap.
Waktu terus mengalir, semakin jauh bergulir.
Ketika
tiba – tiba bumi berguncang, Safira tersentak. Wanita itu memucat.
Traumanya terhadap gempa dua tahun silam kembali memuncak. Bergegas di
dekapnya tubuh Lala yang masih tertidur, diraihnya, kemudian
digendongnya bocah itu keluar rumah.
Suasana
di halaman ternyata hanya dipenuhi kesunyian. Hanya terdengar nafasnya
yang terengah dan suara bibirnya yang menggumam istighfar. Ucapan –
ucapan itu terus mengalir, semakin keras, bahkan sempat membangunkan
tidur Sang Bocah dalam dekapannya.
“Kok, bunda menangis ? Kita sedang berada di mana ?” Lala kecil sempat bertanya, rautnya mengggambar ketakutan.
“Sayang, beberapa saat yang lalu ada gempa. Makanya, bunda membawamu keluar dari rumah.”
“Gempa, apakah kita harus takut gempa ? Apakah gempa sama dengan kiamat ?”
“Tentu tidak, sayang. Sudahlah kamu tidak usah takut ya, mudah – mudah tidak terjadi apa – apa.”
“Bunda, aku jadi ingat ayah. Mudah – mudahan ayah tidak takut gempa. Bukankah sebentar lagi ayah pulang. Bunda selalu mengatakan, ayah akan pulang kalau hari sudah malam. Berarti sebentar lagi ayah pulang, Lala akan menunggu ayah.”
“Kok, bunda menangis ? Kita sedang berada di mana ?” Lala kecil sempat bertanya, rautnya mengggambar ketakutan.
“Sayang, beberapa saat yang lalu ada gempa. Makanya, bunda membawamu keluar dari rumah.”
“Gempa, apakah kita harus takut gempa ? Apakah gempa sama dengan kiamat ?”
“Tentu tidak, sayang. Sudahlah kamu tidak usah takut ya, mudah – mudah tidak terjadi apa – apa.”
“Bunda, aku jadi ingat ayah. Mudah – mudahan ayah tidak takut gempa. Bukankah sebentar lagi ayah pulang. Bunda selalu mengatakan, ayah akan pulang kalau hari sudah malam. Berarti sebentar lagi ayah pulang, Lala akan menunggu ayah.”
Safira
tertunduk. Tubuh bocah itu didekapnya lebih erat. Seolah ingin
menyembunyikan kesedihan di hati, berulang kali Safira menciumi rambut
bidadari kecilnya. Namun tetap saja hati wanita itu betul – betul harus
tercabik. Safira tak mampu lagi berkata – kata, ketika akhirnya hanya
air bening yang terasa membasahi sudut matanya.
(BERSAMBUNG ke edisi posting selanjutnya..
Salam sastra ! )
Blog lain : www.habibarham.blog.com
0 komentar:
Posting Komentar