Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC

LOVE IS BOULEVARD

( Cerpen Refleksi : ketika kebahagiaan dan tangisan menjadi dua sisi yang berbatas sekat tipis )

Oleh : Habib Arham



Ketika Maulana menguak jendela, udara Subuh masih merajut embun penuh. Hilir Sungai Amandit – salah satu sungai kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan – terus berkecipak, mengantar pergi gelap sekerat demi sekerat. Rimbun gelagah pun masih teracak, seolah belum hilang ingatannya dengan kelelahan petualangan bamboo rafting yang kemarin hari mengantar Maulana melewati rute arum jeram dari Loksado, kota kecil berjarak 130 km di luar Banjarmasin.
 
Pengalaman yang begitu berkesan. Mengarungi arus deras sungai yang lepas, melewati balai – balai Dayak Meratus yang dijumpai di kanan kiri, juga keindahan menakjubkan dari kawasan Gunung Kantawanyang. Belum lagi lukisan alam maha sempurna di daerah Kandangan. Rupanya saat ini semuanya menjadi sangat lekat dan singkat, begitu Maulana sadar bahwa tengah hari nanti rombongannya harus segera kembali menyebarangi Selat Bali.

Detik – detik waktu yang berjalan, nyaris habis menjadi sisa terakhir bagi Maulana untuk bisa menghirupi aroma sejuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ini pula sisa waktu terakhirnya bisa menyaksikan raut seseorang bernama Admira, gadis asal Banjarmasin yang telah menemani petualangannya sekitar setengah purnama berkeliling Kalimantan. Satu hal yang akhirnya tidak bisa Maulana menjawab, mengapa saat ini dia begitu berat untuk meninggalkan riak Sungai Amandit ?

Inikah kefanaan harap manusia, ketika mereka terlalu terlena dan merasa berat untuk menghadapi sebuah perpisahan ? Hal itukah yang dialami Maulana hari ini ? Entahlah, hatinya hanya bisa mengawang, bahkan beretorika mengulang.
“Bisakah perasaan terdalam seorang wanita meretas jika seseorang mau mendengar dan menyenangkan hatinya yang dirundung cemas ?”
Sejatinya Maulana tak membutuhkan jawaban, karena hatinya telah terjebak.

Yang dia ingat, cerita dilematis itu terawali ketika suatu sore di sebuah sudut Loksado, dia mendapati seorang Admira termenung dengan kesedihan mendalam dan sudut mata berkaca – kaca. Episode cerita pun terus berjalan, seiring udara bertiupan. Naluri terdalam Maulana selalu menuntunnya, dia ingin menenangkan hati Admira.
“Sungguh , aku tulus,” ucapnya. Namun inilah dunia, ketika semua harus berjalan tanpa teduga. Maulana pun tidak akan pernah berencana saat malam – malam selanjutnya justru menghampiri dengan berlembar misteri. Kegelisahan cinta! Dia tidak bisa menghindar, ketika senyuman – senyuman Admira kini selalu hadir dan membuatnya lama termenung sebelum tidur. Keterbatasan manusia menjeratnya, menyuguhkan taman – taman bunga. 
Entah, maya atau nyata.



***

Malam mulai hening, namun udara jengah belum juga berpaling. Ketika sisa hujan mengering lebih cepat, kini rumput halaman bahkan meluruh ditanggalkan penat. Seperti ada tabir ketakutan datang saat berkali lereng Merapi berkhabar tentang mimpi siang.

Di sebuah rumah di daerah Yogyakarta utara, seorang wanita bernama Safira masih terpaku di bibir ranjangnya. Sinar lampu pijar cukup jelas memperlihatkan sesosok bocah tengah tertidur di sampingnya. Agaknya Sang Bocah diserang rasa lelah karena tidurnya seperti mengandung raut gelisah. Setidaknya beberapa saat yang lalu dia sempat mengigau :
“Bunda.. bunda, ayah sudah pulang ?”

Sudah beberapa sore bocah kecil bernama ‘Lala’ itu selalu berdiri berjam – jam di depan jendela. Seolah sedang mencari sebuah jawaban dari lepas kerinduan di setiap senja menjelang. Selalu dia menyampaikan petanyaan, tidak pernah lupa dia ulangi di setiap petang :
“Bunda, kapan ayah pulang ?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kini menjadi pertanyaan yang sangat sulit bagi Safira untuk menjawabnya.
“Sayang, ayah sudah pulang tadi malam, sewaktu Lala masih tidur. Bahkan ayah sempat tidur di samping Lala, sempat memeluk Lala, terus menyanyikan lagu buat Lala,” entah sudah berapa kali Safira menjawab pertanyaan itu dengan kebohongannya.
“Mengapa ayah tidak membangunkan Lala ?”
“Lala masih tidur, makanya ayah tidak berani membangunkan Lala.”
“Memangnya ayah berangkat kerja jam berapa ?’
“Ya, ayah kerjanya jauh.. Jadi ayah harus berangkat pagi – pagi sekali, sebelum Lala bangun.”
“Ah, kasihan ayah. Kalau begitu nanti malam aku akan menunggu ayah. Lala tidak akan tidur sebelum ayah pulang.”
Sejujurnya Safira selalu dibuat cemas dengan dengan kata – kata Lala. Untunglah, bidadari kecilnya masih bisa percaya dengan cerita dan bujukannya, sehingga dia bisa selalu tidur sebelum gelap betul – betul menjadi sempurna.

Tetapi ada yang berbeda dengan malam ini. Safira betul – betul merasa sesak, hatinya terdesak. Perjalanan waktu seolah berubah menjadi pengembaraan berat. Wanita itu mendadak sangat terharu, sedih luar biasa. Bertumpuk penyesalan menyeruak di dadanya.

Lala adalah sebuah cermin dari Tuhan yang mengetuk dinding perasaannya. Safira merasakan dirinya tedampar dalam senyap. Dia tidak bisa berdusta, dua kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah ketidakjujurannya terhadap Maulana dan bidadari kecilnya, Lala.
Safira betul – betul gelisah, nafasnya habis tertumpah. Dia beranjak, merapat ke koridor jendela. Angannya mengawang, mengembara pekat. Nyaris hanya berteman kehampaan, nyaris hanya lahan gelap dan samudra senyap.

Waktu terus mengalir, semakin jauh bergulir.

Ketika tiba – tiba bumi berguncang, Safira tersentak. Wanita itu memucat. Traumanya terhadap gempa dua tahun silam kembali memuncak. Bergegas di dekapnya tubuh Lala yang masih tertidur, diraihnya, kemudian digendongnya bocah itu keluar rumah.

Suasana di halaman ternyata hanya dipenuhi kesunyian. Hanya terdengar nafasnya yang terengah dan suara bibirnya yang menggumam istighfar. Ucapan – ucapan itu terus mengalir, semakin keras, bahkan sempat membangunkan tidur Sang Bocah dalam dekapannya.
“Kok, bunda menangis ? Kita sedang berada di mana ?” Lala kecil sempat bertanya, rautnya mengggambar ketakutan.
“Sayang, beberapa saat yang lalu ada gempa. Makanya, bunda membawamu keluar dari rumah.”
“Gempa, apakah kita harus takut gempa ? Apakah gempa sama dengan kiamat ?”
“Tentu tidak, sayang. Sudahlah kamu tidak usah takut ya, mudah – mudah tidak terjadi apa – apa.”
“Bunda, aku jadi ingat ayah. Mudah – mudahan ayah tidak takut gempa. Bukankah sebentar lagi ayah pulang. Bunda selalu mengatakan, ayah akan pulang kalau hari sudah malam. Berarti sebentar lagi ayah pulang, Lala akan menunggu ayah.”

Safira tertunduk. Tubuh bocah itu didekapnya lebih erat. Seolah ingin menyembunyikan kesedihan di hati, berulang kali Safira menciumi rambut bidadari kecilnya. Namun tetap saja hati wanita itu betul – betul harus tercabik. Safira tak mampu lagi berkata – kata, ketika akhirnya hanya air bening yang terasa membasahi sudut matanya.

(BERSAMBUNG ke edisi posting selanjutnya..
Salam sastra ! )

0 komentar:

Posting Komentar