KISAH NYATA : CINTA GADIS KECIL "LIE MEI" KEPADA IBUNYA
( Kisah nyata ini dimuat di harian Xia Wen Pao – Cina, pada tahun 2007 )
Diceritakan kembali dengan penyajian bahasa yang berbeda
Oleh : Habib Arham
“Ibu pasti lupa, ini adalah hari istimewa bagi ibu. Aku hanya bisa membelikan biskuit kecil ini untuk hadiahmu, karena uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Selamat ulang tahun ibu..”.
Diceritakan kembali dengan penyajian bahasa yang berbeda
Oleh : Habib Arham
Di pinggiran sebuah kota kecil, hiduplah seorang janda miskin bernama
Siu Lan. Sejak suaminya meninggal, dia hanya hidup bersama anak
perempuannya yang baru berusia tujuh tahunan bernama Lie Mei. Apa hendak
dikata, karena kemiskinanlah yang akhirnya menyebabkan gadis kecil ‘Lie
Mei’ setiap hari harus ikut bekerja membantu ibunya berjualan kue di
pasar. Tidak seperti anak – anak sebayanya, Lie Mei nyaris tidak bisa
menikmati masa kecilnya dengan canda ria. Dia juga tidak pernah bermanja
– manja kepada ibunya.
Suatu hari, saat musim salju tiba.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat kue, Siu Lan melihat keranjang tempat dagangannya sudah rusak. Perempuan itu pun bermaksud pergi ke pasar, sehingga dia berpesan pada putri kecilnya untuk menunggu di rumah.
“Lie Mei, ibu akan pergi ke pasar membeli keranjang kue. Kamu tunggu saja di rumah ya, tidak usah pergi main.”
Gadis kecil Lie Mei pun mengangguk setuju.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat kue, Siu Lan melihat keranjang tempat dagangannya sudah rusak. Perempuan itu pun bermaksud pergi ke pasar, sehingga dia berpesan pada putri kecilnya untuk menunggu di rumah.
“Lie Mei, ibu akan pergi ke pasar membeli keranjang kue. Kamu tunggu saja di rumah ya, tidak usah pergi main.”
Gadis kecil Lie Mei pun mengangguk setuju.
Siu Lan bergegas pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Musim salju
yang dingin dia abaikan. Perempuan itu terus berjalan menepis kebekuan
yang menusuk persendian. Sesampainya di pasar, Siu Lan langsung mencari
barang yang dibutuhkan. Entah mengapa tiba – tiba saja ada perasaan
tidak enak di benaknya. Sehingga segera setelah mendapatkan keranjang
kue yang dia maksud, Siu Lan pun segera pulang.
Udara terasa begitu membekukan. Gerimis salju kembali turun. Perlu
waktu cukup lama bagi Siu Lan untuk menembus kabut dingin sampai dia
kembali di rumah.
Dan apa yang terjadi ? Sesampainya di rumah ternyata perempuan itu tidak menemukan gadis kecilnya, Lie Mei. Seketika saja Siu Lan menjadi sangat marah.
“Anak tidak tahu diri, sudah tahu hidup susah tapi masih juga pergi main – main. Padahal tadi aku sudah pesan agar dia menunggu rumah,” umpatnya dalam hati.
Dan apa yang terjadi ? Sesampainya di rumah ternyata perempuan itu tidak menemukan gadis kecilnya, Lie Mei. Seketika saja Siu Lan menjadi sangat marah.
“Anak tidak tahu diri, sudah tahu hidup susah tapi masih juga pergi main – main. Padahal tadi aku sudah pesan agar dia menunggu rumah,” umpatnya dalam hati.
Akhirnya Siu Lan pun pergi sendiri menjual kue dan dengan maksud
memberikan hukuman untuk Lie Mei, Siu Lan mengunci pintu rumahnya dari
luar, tentu agar anaknya itu tidak dapat masuk ke dalam.
“Lie Mei mesti diberi pelajaran,” pikirnya masih dengan emosi tinggi.
“Lie Mei mesti diberi pelajaran,” pikirnya masih dengan emosi tinggi.
Waktu terus berjalan. Siu Lan harus benar – benar berjuang untuk
menjajakan dagangan kuenya. Perempuan itu harus menyusuri jalan – jalan
kecil di pinggiran kota, mengetuk pintu satu ke pintu yang lain. Dia
terus berjuang menjual dagangannya, dia pun terus mengabaikan rasa lelah
yang kadang terasa membebaninya.
Tetapi kembali lagi, tiba – tiba ada perasaan gelisah menghampiri
batin Siu Lan. Tiba – tiba saja dia merasa telah berbuat salah, tiba –
tiba dia seperti disadarkan bahwa dia telah berbuat begitu kejam
terhadap anaknya, Lie Mei.
“Ya Tuhan, mengapa aku tega berbuat demikian ? Bukankah dia masih sangat kecil ? Dia masih perlu begembira dengan teman sebayanya. Mengapa aku selalu melarangnya bermain ? Tidak seharusnya aku mengunci pintu dan membiarkannya tidak bisa masuk rumah,” gumam Siu Lan dengan perasaan sangat cemas.
“Ya Tuhan, mengapa aku tega berbuat demikian ? Bukankah dia masih sangat kecil ? Dia masih perlu begembira dengan teman sebayanya. Mengapa aku selalu melarangnya bermain ? Tidak seharusnya aku mengunci pintu dan membiarkannya tidak bisa masuk rumah,” gumam Siu Lan dengan perasaan sangat cemas.
Siu Lan pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Siu Lan sangat terkejut. Wajahnya mendadak
pucat pasi. Perempuan itu menemukan Lie Mei, gadis kecilnya, tergeletak
di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk tubuh anaknya yang membeku.
“Lie Mei, Lie Mei,” jerit Siu Lan seraya mengguncang tubuh anaknya.
Siu Lan merasakan tiba – tiba saja langit runtuh menimpanya, ketika menyadari bahwa anaknya ternyata sudah tidak bernyawa.
“Lie Mei, Lie Mei,” jerit Siu Lan seraya mengguncang tubuh anaknya.
Siu Lan merasakan tiba – tiba saja langit runtuh menimpanya, ketika menyadari bahwa anaknya ternyata sudah tidak bernyawa.
Jeritan Siu Lan memecah kebekuan. Ia menangis meraung – raung, tetapi
Lie Mei tetap saja tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong
tubuh kaku anaknya masuk ke rumah. Siu Lan mengguncang – guncang tubuh
putri kecilnya.
“Lie Mei… Lie Mei, maafkan ibu nak.. !!”
“Lie Mei… Lie Mei, maafkan ibu nak.. !!”
Udara serasa berhenti. Suasana mencekam menghampiri.
Tiba – tiba ada sebuah kotak bingkisan kecil terjatuh dari saku baju
anaknya. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya.
Begitu terkejutnya perempuan itu, tangisnya semakin menjadi.
“Maafkan ibu, Lie Mei. Ibu sangat sayang kamu..,” jerit Siu Lan, setelah dia mengetahui bahwa kotak itu ternyata berisi sebuah biskuit kecil yg dibungkus dengan kertas usang. Ada sebaris tulisan yang tidak begitu rapi. Tentu itu adalah tulisan Lie Mei yang memang belum terlalu pintar untuk membuat kata – kata.
“Maafkan ibu, Lie Mei. Ibu sangat sayang kamu..,” jerit Siu Lan, setelah dia mengetahui bahwa kotak itu ternyata berisi sebuah biskuit kecil yg dibungkus dengan kertas usang. Ada sebaris tulisan yang tidak begitu rapi. Tentu itu adalah tulisan Lie Mei yang memang belum terlalu pintar untuk membuat kata – kata.
“Ibu pasti lupa, ini adalah hari istimewa bagi ibu. Aku hanya bisa membelikan biskuit kecil ini untuk hadiahmu, karena uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Selamat ulang tahun ibu..”.
Kesedihan sangat luar biasa mendadak menyentak di dada Siu Lan.
Setumpuk penyesalan dan rasa bersalah seolah harus merontokkan isi
dadanya, air matanya terus mengalir..
“Ampuni dosaku Tuhan.. Maafkan ibu, Nak.. Maafkan ibu, Lie Mei.. Ibu sangat mencintaimu.”
“Ampuni dosaku Tuhan.. Maafkan ibu, Nak.. Maafkan ibu, Lie Mei.. Ibu sangat mencintaimu.”
============================
Salam Persahabatan. Semoga bermanfaat..
Blog : www.habibarham.blogspot.com
Salam Persahabatan. Semoga bermanfaat..
Blog : www.habibarham.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar