Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC

DALAM ISTANA BULAN

Oleh : Habib Arham



gagang kesturi yang tersisa di kaca gerimis
kembalikan selembar ingatanku
saat bersama kita coretkan pengembaraan
setiap amsal maghrib kaburkan garis punggung kita
berhias langkah yang selalu terpijar
dialah
kekasihku yang terbang mengejar istana bulan

 
( dialah kekasihku
yang kian sempurna kantongi berjuta keheningan
hingga alangkah jauhnya menggapaimu kini )


begitu tiap kutahlilkan gurat keningmu
wajah mungil yang berlari berselimut senjakala
senantiasa di gerbang istana bulan
kau nampak kenakan baju petang
suaramu mesra menggelinding bagai butir – butir tahmid
mengajakku,
mari mengembara jauh


paras kesturi yang kulepas sendiri
di luas negeri malam
agaknya kembali hadiriku di surau ini
hingga terjaga aku berdoa :
tuhan,
pertemukan aku dengan kekasihku di istana bulan-mu


kebumen, 1996

================================

Blog lain : www.habibarham.blog.com

KISAH NYATA : CINTA GADIS KECIL "LIE MEI" KEPADA IBUNYA

( Kisah nyata ini dimuat di harian Xia Wen Pao – Cina, pada tahun 2007 )
Diceritakan kembali dengan penyajian bahasa yang berbeda
Oleh : Habib Arham


 
Di pinggiran sebuah kota kecil, hiduplah seorang janda miskin bernama Siu Lan. Sejak suaminya meninggal, dia hanya hidup bersama anak perempuannya yang baru berusia tujuh tahunan bernama Lie Mei. Apa hendak dikata, karena kemiskinanlah yang akhirnya menyebabkan gadis kecil ‘Lie Mei’ setiap hari harus ikut bekerja membantu ibunya berjualan kue di pasar. Tidak seperti anak – anak sebayanya, Lie Mei nyaris tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan canda ria. Dia juga tidak pernah bermanja – manja kepada ibunya. 

Suatu hari, saat musim salju tiba.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat kue, Siu Lan melihat keranjang tempat dagangannya sudah rusak. Perempuan itu pun bermaksud pergi ke pasar, sehingga dia berpesan pada putri kecilnya untuk menunggu di rumah.
“Lie Mei, ibu akan pergi ke pasar membeli keranjang kue. Kamu tunggu saja di rumah ya, tidak usah pergi main.”
Gadis kecil Lie Mei pun mengangguk setuju.

Siu Lan bergegas pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Musim salju yang dingin dia abaikan. Perempuan itu terus berjalan menepis kebekuan yang menusuk persendian. Sesampainya di pasar, Siu Lan langsung mencari barang yang dibutuhkan. Entah mengapa tiba – tiba saja ada perasaan tidak enak di benaknya. Sehingga segera setelah mendapatkan keranjang kue yang dia maksud, Siu Lan pun segera pulang.

Udara terasa begitu membekukan. Gerimis salju kembali turun. Perlu waktu cukup lama bagi Siu Lan untuk menembus kabut dingin sampai dia kembali di rumah.
Dan apa yang terjadi ? Sesampainya di rumah ternyata perempuan itu tidak menemukan gadis kecilnya, Lie Mei. Seketika saja Siu Lan menjadi sangat marah.
“Anak tidak tahu diri, sudah tahu hidup susah tapi masih juga pergi main – main. Padahal tadi aku sudah pesan agar dia menunggu rumah,” umpatnya dalam hati.
Akhirnya Siu Lan pun pergi sendiri menjual kue dan dengan maksud memberikan hukuman untuk Lie Mei, Siu Lan mengunci pintu rumahnya dari luar, tentu agar anaknya itu tidak dapat masuk ke dalam.
“Lie Mei mesti diberi pelajaran,” pikirnya masih dengan emosi tinggi.

Waktu terus berjalan. Siu Lan harus benar – benar berjuang untuk menjajakan dagangan kuenya. Perempuan itu harus menyusuri jalan – jalan kecil di pinggiran kota, mengetuk pintu satu ke pintu yang lain. Dia terus berjuang menjual dagangannya, dia pun terus mengabaikan rasa lelah yang kadang terasa membebaninya.
Tetapi kembali lagi, tiba – tiba ada perasaan gelisah menghampiri batin Siu Lan. Tiba – tiba saja dia merasa telah berbuat salah, tiba – tiba dia seperti disadarkan bahwa dia telah berbuat begitu kejam terhadap anaknya, Lie Mei.
“Ya Tuhan, mengapa aku tega berbuat demikian ? Bukankah dia masih sangat kecil ? Dia masih perlu begembira dengan teman sebayanya. Mengapa aku selalu melarangnya bermain ? Tidak seharusnya aku mengunci pintu dan membiarkannya tidak bisa masuk rumah,” gumam Siu Lan dengan perasaan sangat cemas.

Siu Lan pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Siu Lan sangat terkejut. Wajahnya mendadak pucat pasi. Perempuan itu menemukan Lie Mei, gadis kecilnya, tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk tubuh anaknya yang membeku.
“Lie Mei, Lie Mei,” jerit Siu Lan seraya mengguncang tubuh anaknya.
Siu Lan merasakan tiba – tiba saja langit runtuh menimpanya, ketika menyadari bahwa anaknya ternyata sudah tidak bernyawa. 

Jeritan Siu Lan memecah kebekuan. Ia menangis meraung – raung, tetapi Lie Mei tetap saja tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong tubuh kaku anaknya masuk ke rumah. Siu Lan mengguncang – guncang tubuh putri kecilnya.
“Lie Mei… Lie Mei, maafkan ibu nak.. !!” 

Udara serasa berhenti. Suasana mencekam menghampiri.
Tiba – tiba ada sebuah kotak bingkisan kecil terjatuh dari saku baju anaknya. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Begitu terkejutnya perempuan itu, tangisnya semakin menjadi.
“Maafkan ibu, Lie Mei. Ibu sangat sayang kamu..,” jerit Siu Lan, setelah dia mengetahui bahwa kotak itu ternyata berisi sebuah biskuit kecil yg dibungkus dengan kertas usang. Ada sebaris tulisan yang tidak begitu rapi. Tentu itu adalah tulisan Lie Mei yang memang belum terlalu pintar untuk membuat kata – kata.

“Ibu pasti lupa, ini adalah hari istimewa bagi ibu. Aku hanya bisa membelikan biskuit kecil ini untuk hadiahmu, karena uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Selamat ulang tahun ibu..”.
Kesedihan sangat luar biasa mendadak menyentak di dada Siu Lan. Setumpuk penyesalan dan rasa bersalah seolah harus merontokkan isi dadanya, air matanya terus mengalir..
“Ampuni dosaku Tuhan.. Maafkan ibu, Nak.. Maafkan ibu, Lie Mei.. Ibu sangat mencintaimu.”
============================
Salam Persahabatan. Semoga bermanfaat..
Blog : www.habibarham.blogspot.com

MENYAMBUT GERIMIS

( karena kita tidak bisa memangkas  garis panjang penantian )
Oleh : Habib Arham



Langit nyaris tersungkur jatuh, dibebani gumpalan mendung yang menghambur penuh. Gulungan gelap itu seolah berkali menenggelamkan bahu cakrawala, menjamahi punggung Yogyakarta sampai ke ufuk barat. Malam ini ada kabar kegelisahan mendekat, ketika angin awal musim di paruh Oktober berulang menghampiri ANGGITA, perempuan cantik yang kini terpekur di lobi Bandara Adi Sucipto. Sudah sejak enam jam yang lalu batinnya terpasung, nafas beratnya mendekap setiap sudut mata itu mendapati kedatangan pesawat yang landing di lintasan bandara. Sepintas tergambar harapan berbinar, namun sebentar saja kembali dirampas raut kemurungan.
Sebuah jam oval yang terpasang di dinding ruang tunggu sudah menunjuk angka delapan, pertanda waktu sudah sampai di jam 8 malam.
“RANGGA, apakah aku harus percaya bahwa hari ini kau benar – benar akan mempermainkan perasaan
ku ?” berkali perempuan itu bergumam. Tidak ada yang mendengar, selain sebatang anyelir di sudut tanah yang berkali terdesak oleh terjangan udara jengah.
Padahal beberapa saat yang lalu seorang petugas di bagian informasi telah berkata,
“Kedatangan pesawat dari Surabaya terakhir jam 19.45. Bandara akan off pukul 21.00 setelah jadwal kedatangan pesawat terakhir dari Denpasar yaitu pukul 20.55. Kami kembali buka esok pagi,” begitulah kira – kira jawaban yang tadi dia terima.
“Aku tidak pernah berniat untuk berkesimpulan buruk, namun mengapa kau tidak juga hadir di sini 
Rangga ?”
Mata indah itu berkali menerawang rendah, berusaha membuncahkan sisa semangat di batinnya : bahwa sebuah analogi penantian akan segera berbuah kenyataan.
Anggita, satu sosok yang sangat berharap hari ini adalah hari paling membahagiakan dari deretan nafas panjang masa lalunya. Dia sangat terlanjur percaya bahwa hari ini, keinginannya untuk bertemu Rangga akan segera terwujud. Tentu dalam ingatannya masih sangat melekat, bahwa seorang pria asal Surabaya bernama Rangga selalu mengirimnya kata – kata yang menyemangati,
“Tunggulah aku di bandara, persis di hari ulang tahunmu tiba. Aku akan datang dari Surabaya. Aku akan membuktikan bahwa peliknya cinta yang kita alami akan menjadi fase nyata dari perjalanan hidup. Aku akan buktikan bahwa cerita masa lalu adalah mata rantai kesunyian yang bisa segera kita putus,” begitulah pesan terakhir yang Anggita terima melalui handphonenya dua hari yang lalu, “Percayalah, aku tidak seperti tokoh Peter Parker dalam film Spider Man yang hanya bisa berkata : ‘Aku akan selalu berdiri di ambang pintumu’. Namun Rangga akan bisa menjadi bagian nyata dalam penantianmu.”
Angin dingin menghampiri. 
Pesawat terakhir dari Surabaya sudah tiba hampir 15 menitan yang lalu, banyak orang tampak berlalu lalang, namun seseorang yang Anggita tunggu sejak tadi siang itu belum juga muncul.
Anggita merapatkan bahunya di dinding. Kegelisahan kembali mengganggunya.
Banyak hal melintas di batinnya, namun satu yang paling membuatnya sedih adalah ketika sore tadi di bandara ini dia sempat bertemu dengan sahabat lamanya : Siska.
Anggita masih sangat ingat dengan semua perkataan Siska.
“Anggi, memangnya kamu sedang menunggu siapa ?”
“Mmm.. Aku tidak menunggu siapa –siapa.”
“Tidak mungkin. Pasti kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Mmm, baiklah. Aku sedang menunggu saudara, kebetulan dia kemarin sms katanya mau datang dari Surabaya,” ujar Anggita berkelit.
“Aneh, sudah berapa lama menunggunya ? Memangnya beliau tidak memberitahumu mau datang jam berapa ?”
“Itulah salahku, aku lupa bertanya dia pakai pesawat apa, nomor penerbangan berapa. Ketika tadi siang aku berkali – kali telpon, hand phonenya tidak aktif. O iya, kok kamu bisa berada di sini juga ?”
“Kalau aku habis dari Bali. Terus transit sebentar ke Surabaya, dan seperti yang kamu lihat, malam ini aku sudah di sini.”
“Syukurlah, rupanya kamu jadi orang sibuk sekarang.”
“Biasa saja, ya belajar membantu bisnis suami,” perempuan bernama Siska kembali menimpali, “O iya, kamu masih ingat dengan Rangga ? Teman kita dulu.”
Pertanyaan tersebut, tentu terdengar seperti petir yang menyambar di dada Anggita.
“Pasti kamu masih ingat, dia kan pemuda yang dulu kamu taksir mati – matian,” Siska menyambung.
“Ahh.. kamu tahu dari mana ?”
“Ya tahu lah..Semua teman lama kita juga tahu.”
“Kalau memang benar iya, terus ada apa dengan Rangga ? Kamu pernah bertemu dia ?”
“Iya benar, aku bertemu dia.”
“O iya, kapan ?”
“Tadi siang ! Tadi siang aku bertemu Rangga di Denpasar, dia sedang ada acara bersama dengan istrinya..”
Apa yang disampaikan Siska tentu sangat merontokkan isi dada Anggita, seolah dia merasakan telah dihempaskan begitu kerasnya.
“Benarkah Rangga sedang berada di Bali ? Sedang apa dia di sana ? Tega sekali dia membohongi aku. Tega sekali dia melupakan janjinya padaku,” berulang – ulang Anggita membatin, “Kalau memang dia sedang ada di Bali, mengapa dia tidak memberitahu aku, mengapa handphonenya mendadak tidak bisa dihubungi ? Mengapa dia berani menjanjikan bahwa hari ini akan datang di Yogyakarta ?” Anggita terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.
Perbincangannya dengan Siska tadi sore, tiba – tiba seperti menanggalkan semua harapan di benak Anggita. Harapan yang telah sejak tadi siang dia bangun, kini luluh lantak tercampak ke padang cemas. Terlebih ketika tadi Siska kembali bertanya,
“Apa kamu akan bertahan di sini Anggita ?”
“Ya Siska, aku akan menunggu sampai kedatangan pesawat terakhir dari Surabaya, nanti malam,” Anggita menjawab dengan suara seperti tercekat di tenggorokan. Anggita masih terus berusaha menerbitkan pengharapan terakhir di relung batinnya, bahwa akan ada keajaiban menggembirakan yang akan dia temui malam hari ini.
Akhirnya kini pesawat terakhir dari Surabaya benar – benar sudah tiba. Dan sampai detik ini pun sosok pria yang dia tunggu tidak juga hadir di hadapannya. Anggita masih bersandar di dinding, sendi kakinya serasa gemetar.
“Rangga, maafkan aku karena aku tidak akan pernah berusaha melupakanmu. Percayalah aku mencintaimu bukan karena aku membutuhkanmu… tapi aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu,” gumam perempuan cantik itu seraya tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas punggungnya. Sebuah benda yang sepertinya sudah dia persiapkan itu dia buka, dia keluarkan dari bungkusnya. Sebuah kue tar ukuran kecil dia taruh di bangku. Di pasangnya sebuah lilin, dinyalakannya. Sejurus kemudian, dadanya semakin bergolak. Seolah ada dinding menyesakkan yang terus mendesak air matanya untuk jatuh.

“Maafkan aku Tuhan, aku ikhlas dengan semua takdir-Mu. Tadinya aku berharap bahwa minimal selama hidupku Engkau akan mengijinkan aku untuk bertemu dengan seseorang yang sangat aku cintai walau hanya sekali. Aku sadar Tuhan, aku tidak akan merebutnya dari orang lain, aku hanya berharap bisa bertemu dengan dia. Namun jika Engkau memang telah menggariskan takdirku seperti ini, aku ikhlas Tuhan. Mudah – mudahan dia selalu berbahagia, karena takdir mulianya adalah bukan untuk membuat aku seorang yang tersenyum melainkan membuat seribu orang bahagia.” begitulah kata – kata Anggita. Kini air bening di matanya benar – benar tidak kuasa dia cegah.
Udara masih berhembus dingin, tanpa suara.
Perlu menunggu beberapa saat sampai batinnya tenang, akhirnya Aggita melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu bandara. Dia benar – benar memperoleh kesimpulan, bahwa dia hari ini Tuhan telah mengajarinya tentang sebuah ketegaran yang luar biasa.
***
Sepuluh menitan kemudian, pesawat terakhir dengan tujuan Denpasar – Yogyakarta tiba di Bandara Adi Sucipto. Gerimis turun menyambutnya. Angin pun meniupkan hawa dingin.
***
Rangga lama termenung di depan koridor jendela ruang tunggu Bandara Adi Sucipto.
Berkali – kali pria itu merapatkan kedua tanggannya di depan wajah, seolah ada rasa bersalah yang singgah.
“Anggita, di manakah kamu sekarang ? Apakah kamu telah lama 
menungguku ? Dimanakah kamu sekarang ? Tahukah kamu bahwa hari ini aku benar – benar datang untuk memenuhi janji. Aku ingin melihatmu di dunia nyata, aku ingin melihatmu tersenyum,” kata – kata itu menggumam gemetar di bibir Rangga.
Udara lembab kembali menyebar menyusuri langit – langit rendah bandara yang semakin kosong.
“Ampunilah aku Tuhan, jika aku telah salah dengan perasaan ini. Ampunilah jika aku sangat berharap agar di sisa hidupku ini aku bisa bertemu sekali lagi saja dengan dia. Izinkan untuk menjelaskan kepada Anggita apa yang sebenarnya telah terjadi. Haruskah Anggita pergi dari hidupku dengan cara seperti ini ? Di manakah letak kesalahan ini ? Tuhan, apakah aku bersalah jika aku berniat untuk meluruskan sebuah kesalahpahaman yang pernah terjadi ?” pria itu merapatkan kedua ujung jaketnya dengan tangan.
“Anggita, semoga suatu saat engkau akan tahu, bahwa hari ini aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk datang di sini. Semoga suatu saat kamu akan tahu bahwa hari ini aku benar – benar berjuang agar aku bisa meninggalkan Denpasar demi menemuimu. Semoga suatu saat kamu akan tahu, bahwa sampai detik ini aku pun tidak bisa lagi menghubungi handphonemu. Aku tidak punya lagi nomormu, semua nomor teman – temanku juga hilang. Hpku hilang sejak aku sampai di Bali kemarin.”
“Jika aku diizinkan bertanya kepada Tuhan, aku ingin mengetahui mengapa Tuhan memberiku perasaan ini. Jika benar cinta ini datang di waktu yang tidak tepat, maka cukup aku saja yang menanggung dosa dan perasaan ini. Keinginan dalam hidupku adalah agar dirimu mengetahui bahwa aku sangat mencintaimu, dalam kondisi apapun. Jika pun Tuhan tidak akan pernah mengizinkan kita untuk bertemu, jika pun Tuhan tidak pernah mengizinkan aku untuk bisa memilikimu, ajarilah aku cara untuk memaklumi ya.. Rabbi..” 
Rangga benar –benar terduduk lesu di bangku tunggu, kesedihannya semakin membuncah, ketika tiba – tiba sudut matanya menemukan sebuah benda. Ya, sebuah kue tar yang mungkin beberapa saat lalu sengaja ditinggalkan oleh seseorang di atas sebuah bangku bercat biru toska. Ada sebuah kertas kecil terselip di atasnya. Sederet kalimat yang tertulis sempat dia baca dan seketika pula membuat batinnya tercabik :
JIKA TUHAN MENGIZINKAN, MAKA HARI INI ADALAH HARI YANG SANGAT BERBAHAGIA, KARENA AKU DIBERI KESEMPATAN DALAM SISA HIDUPKU INI UNTUK BERTEMU DENGAN SEORANG YANG SANGAT AKU CINTAI.
Rangga benar – benar tertunduk bisu. Dia paham itu pasti tulisan Anggita.
”Anggita, maafkan aku. Aku tidak pernah berniat membuat hatimu sakit. Percayalah aku tidak akan pernah lupa dengan kata – katamu dulu : setiap malam tiba, tunggulah aku di sana, karena aku akan datang melengkapi mimpi – mimpi indahmu.” 
Malam semakin merangkak larut. Gelap, dan semakin menyekap.
============================
Seperti yang dimuat di :

SEPENGGAL KISAH CINTA PENYAIR "CHAIRIL ANWAR" YANG MENGHARUKAN

Disajikan secara prosais oleh :
Habib Arham



Jika benar cinta adalah kegelisahan, maka gadis cantik bernama SUMIRAT itu telah mengalaminya. Pandangan pertamanya pada seorang pemuda, nyaris menghadirkan benih – benih kerinduan yang meluruh dalam. Tiba – tiba saja sebuah rasa datang dan menyandera kegundahan di hatinya. Semua berawal di satu hari yang cerah, di paruh musim penghujan tahun 1943. Ketika itu dirinya tengah berlibur bersama keluarga, menikmati keindahan Pantai Cilincing di daerah Jakarta Utara. Gadis muda berusia 20 tahun itu dibuat sangat terpesona saat mendapati seorang pemuda duduk bersandar pohon di tepi pantai. Lama Mirat tertegun, angin sejuk tiba – tiba serasa terhenti dan tersenyum di ambang pintu benaknya,
“Ah siapakah pemuda itu ?” gumamnya berkali – kali.

Pemuda pencuri hatinya terlihat begitu tenang. Seolah tidak perduli dengan hiruk pikuk dan lalu lalang manusia di sekitarnya. Dia terlalu sibuk membaca buku, bahkan terlalu seriusnya sampai– sampai dia tidak menyadari bahwa Mirat tengah memandanginya secara mendalam.
“Siapakah dia ?” gambaran penasaran kembali terlintas, beterbangan rendah di langit cemas.
Sejak saat itu rupanya bayangan si pemuda harus sering hinggap dan menyita ruang lamunan Sumirat. Bahkan di hari – hari selanjutnya, gadis kelahiran Paron Madiun yang juga murid dari pelukis Affandi itu harus merasakan kegelisahan yang begitu hebat. Setiap dia mencoretkan kuas tinta, di benaknya selalu terbayang sosok pemuda misterius.
Dan babak keajaiban cinta akhirnya datang ! Beberapa minggu setelah kejadian di Cilincing, Tuhan mengabulkan keinginanan Mirat untuk bertemu dan berkenalan dengan pemuda pendiam itu.
Ternyata dia adalah seorang penyair yang bernama ‘CHAIRIL ANWAR. Hanya Chairil muda, belum sebesar seperti saat sekarang. Dia bahkan hanya seorang pemuda miskin dengan penghasilan yang tidak menentu. Dia hanya sesosok perenung kesunyian dengan cibiran banyak rekannya. Dia hanya sosok pemuda dengan masa depan kabur, itulah menurut teman – temannya. Namun Mirat tidak bisa menyanggah kesucian cinta. Walau kondisi Chairil sangat jauh dari gelimang harta, namun hal demikian sama sekali tidak menyurutkan sebuah perasaan suka. Ketertarikan cintanya pada Chairil begitu kuat.

Seiring berjalannya waktu, Mirat akhirnya bisa dekat dengan Chairil. Gayung pun bersambut, karena ternyata sang Penyair mempunyai perasaan yang sama. Kedua insan muda itu mulai terlihat akrab. Mereka seperti telah siap jika harus menjalani romantika cinta yang pedih perih. Bagaimana tidak ? Sepasang kekasih itu hanya beberapa kali saja bertemu. Tidak ada hal – hal besar mereka kabarkan, hanya sesekali berkeliling menaiki sepeda sembari melihat lorong – lorong jalan pelosok dan bibir tebing pesawahan. Dorongan cinta sucilah yang menyebabkan Mirat sangat menikmati perjalanan cinta sangat sederhana. Cinta di hatinya bahkan sama sekali tidak menuntutnya dengan nilai materi.
Keduanya pun seperti sepasang kekasih yang saling mengisi. Mereka terikat pada situasi yang serasi dan bersahabat. Ketika Sumirat melukis dia selalu di temani oleh puisi – puisi karya sang Kekasih. Begitu pun ketika Chairil menulis dia selalu ditemani oleh lukisan – lukisan gadis pujaannya. Mereka sangat lekat, persis seperti tinta dengan kertas, atau cat dengan kanvas.
Tidak berlebihan jika Sumirat sering berkata dengan semangat, “Sungguh ideal kehidupan kami, sungguh menyenangkan”. 

Namun bukan babak dunia, jika dia tidak menghadirkan problematikanya ! Tidak semua keinginan akan menjadi sesuatu yang membahagiakan. Begitu pun dengan kisah cinta keduanya. Ideal bagi Mirat, ternyata sebaliknya bagi orang tuanya. Hal itu pula yang akhirnya menjadi lobang menganga dari kisah cinta mereka. 
Hingga di satu waktu Sumirat pun harus betul – betul meninggalkan Jakarta. Dia diminta pulang oleh orang tuanya di Paron, Madiun, Jawa Timur. Seketika selubung mendung tiba – tiba seperti menggulung. Namun Chairil dengan tatapan penuh semangat tetap berusaha meyakinkan kekasihnya,
“Dalam waktu dekat aku akan menyusulmu ke Madiun. Aku akan datang menemui orang tuamu dan menyampaikan keinginanku untuk melamarmu kekasihku.”

Akhirnya janji itu pun benar – benar ditepati oleh Chairil. Dia memberanikan diri untuk menemui orang tua Mirat di Paron Madiun. Walau dengan mudah bisa ditebak, bahwa saat itu Chairil harus diterima dengan pandangan sinis oleh adik – adik Mirat. Tentu mereka dengan jelas akan menilai bahwa yang datang melamar hanya seorang pemuda dengan pekerjaan dan penghasilan yang tidak menjanjikan masa depan. 

Perjuangan Chairil muda memang tidak begitu saja terhenti. Terbukti dalam surat – surat Chairil Anwar kepada HB Yassin pada bulan Maret 1944, dia banyak menceritakan tentang sebagian suratnya yang dikirim ke alamat R.M Djojosepoetro, Paron. Dugaan terakhir, inilah nama ayahanda Sumirat.
”Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal di hari kemudian karena aku akan sanggup membuktikan bahwa karya – karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan putus asa Mirat aku akan terus berjuang untuk memberi bukti” begitulah kata – kata Chairil selalu dengan bersemangat.
Meski tidak bisa dipungkiri, bayang – bayang keraguan kadang berselinap mengiringi semak panjang perjuangan Chairil. Tergambar dari sajak – sajak yang ditulisnya :

Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau rakit hitam
‘Kan terdamparkah
atau terserah
Pada putaran hitam ?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapkah kami atau
Mengikut juga bayangan itu

Bahkan saat melamar Mirat, dia hanya membawa lembaran sajak, keberanian dan keyakian yang kuat akan cinta pada kekasihnya.
Namun kuasa Tuhan harus berbicara, bahwa sesuatu harus berjalan tanpa kita duga. Chairil harus bisa menerima ketika pada akhirnya yang membekas di ingatannya adalah kata – kata orang tua Sumirat :
“Kamu cari kerja dulu yang baik dan tetap, nanti kita bicarakan lagi.“
Seingatnya, kalimat itu pulalah yang akhirnya membuncahkan lelehan air mata di wajah Sumirat. Mungkin di sinilah letak kelemahan manusia, bahwa kita selalu menginginkan lebih dari apa yang seharusnya terjadi. Chairil tersadar bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa melawan sekat tinggi yang seolah akan segera dibangun oleh orang tua Mirat untuk memisahkan cintanya.
“Dia adalah pemuda pilihan hatiku” itu satu – satunya pembelaan dari Mirat kepada orang tuanya yang sempat Chairil dengar. 

Setelah kejadian itu, Chairil pun meninggalkan Paron. Dia pergi meninggalkan setumpuk kertas dan catatan syair yang menjadi kenangan mendalam bagi Sumirat. 
Sejak itu kisah cinta mereka harus terpisah sekat jarak dan waktu. Hanya beberapa kali mereka bisa berkirim surat. Baik Chiaril maupun Sumirat harus merasakan diri mereka terperangkap dalam kesendirian mendalam, tidak pernah mereka menyangka bahwa sebuah perasaan harus benar – benar terampas. 
“Sajak – sajak yang ditulisnya banyak tertuju kepadaku” begitu Sumirat sering bertutur untuk menghibur. 

Chairil Anwar seolah menjadi penyair yang dibesarkan oleh rasa sakit hati. Tidak berlebihan jika dalam salah satu puisinya saat itu, dia menulis dengan sebutan ‘untuk tunanganku, Mirat.’ Sebuah ungkapan yang barangkali hanya bertujuan untuk mengobati kegelisahannya pada perasaan menyesakkan dada.
SAJAK PUTIH – buat tunanganku Mirat
besandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senja


sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku


hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita mati datang tidak membelah


Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…..


Setelah kepergian Chairil, penindasan tentara Jepang mulai berkobar. Kekacauan pun meluas, merambah juga sampai ke Desa Paron. Akibat dari sebuah pertempuran suatu hari terjadi kebakaran hebat di daerah tersebut. Kebakaran itu begitu besar, bahkan ikut membakar rumah Sumirat. Tak bisa dihindari lagi, kopor berisi buku – buku dan berkas tulisan Chairil yang disimpan Mirat ikut terbakar. Kenangan dari pujaan hatinya yang tersisa hanyalah sedikit catatan memori dan sajak yang berhasil diselamatkan, sedang sebagian besar lainnya telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya jangkauan dirinya untuk bisa bertemu dengan Chairil.

Tahun demi tahun berjalan dengan rasa menyesakkan. Walaupun keduanya saling menyukai, namun Sumirat telah benar – benar terpisah dengan Chairil. Dia sudah tidak bisa lagi berkomunikasi. Dia hanya bisa sedikit mendengar kabar. Hingga akhirnya pada tahun 1946, raut kesedihan Sumirat harus benar – benar tergambar ketika dia mendengar kabar bahwa Chairil Anwar telah menikah dengan seorang perempuan bernama Hapsah Wiriaredja. Entah ada rahasia apa di balik jalan cerita tersebut, namun seorang Sumirat harus lama belajar tentang bahasa ketegaran.
“Selamat berbahagia bersamanya, kekasih sejatiku,” ucap Mirat dengan mata berkaca – kaca.

Belum berselang lama. Bahkan hanya beberapa tahun berjalan, tepatnya pada 28 April 1949, puncak kesedihan Mirat pun harus benar – benar terlengkapi. Sungguh berat angin musim harus mengabarinya sebuah berita. Di wajah Mirat seperti tergambar bentangan langit yang runtuh ke bumi. Sebuah berita yang merontokkan isi dadanya : Chairil Anwar meninggal dalam usia 27 tahun !
“Aku akan selalu menyayangimu. Selamat jalan pujanggaku. Selalu aku berdoa untukmu,” di depan orang tuanya, Mirat tak kuasa meneriakkan kesedihan itu.
Seorang Chairil adalah sebuah keindahan. Bukan hanya bagi Sumirat, namun juga bagi orang – orang yang mengapresiasi karya – karyanya. Hidup Chairil berjalan sangat singkat, dia pun harus meninggal dalam lilitan kemiskinan. Dia bahkan tidak sempat menikmati kebesaran dari karya – karyanya. Ternyata Chairil pun belum mampu mewujudkan kata – kata indahnya tentang cinta di masa hidupnya yang nyata.

Chairil pun bukan sosok yang punya keistimewaan tentang mencintai. Tidak banyak orang tahu, bahwa dia ternyata tak kuasa melepas nafas panjang masa lalunya. Chairil masih menyimpan kenangan, hasrat dan rasa cinta yang besar pada Mirat, cinta sejatinya. Bahkan pun ketika dia sudah menikah dengan orang lain. Terbukti dari puisi yang terakhir sempat ditulisnya bercerita tentang kerinduannya pada Mirat. Puisi yang sempat ditulisnya di tahun 1949, beberapa waktu sebelum dia tutup usia.
Mungkin saja saat itu Chairil merasakan isyarat kerinduan pada seseorang yang pernah menjadi cinta sejatinya. Barangkali itulah isyarat tentang impian cintanya yang harus benar – benar terrpisah abadi oleh : KEMATIAN. Sungguh mengharukan !

Dan inilah puisi untuk Mirat yang terakhir Chairil tulis :

Mirat Muda, Chairil Muda – 1949 
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
Coba memisah matanya menantang
Yang satu tajam dan jujur yang sebelah


Ketawa diadukannya giginya pada
Mulut Chairil, dan bertanya :Adakah, adakah
Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
Dan tunjukan dengan pasti dimana
Menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan


Dianya pada Chairil makin sehati,
Hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan chairil dengan deras
Menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati.


“Kini Chairil sudah tiada, penyair yang sepanjang hidupnya aku kagumi dan kudambakan, sebagai seorang penyair besar dari zamannya. Dia benar, Chairil telah membuktikan dirinya orang besar, seperti yang selalu dikatakannya kepadaku dulu.” itulah kata – kata Sumirat ketika ingatannya harus terlempar untuk mengenang cintanya pada seorang kekasih.
***
Kita tidak akan menyimpulkan kisah ini.
“Mencintai seseorang, mungkin hal yang mudah. Namun untuk memiliki seutuhnya seseorang yang kita cintai, itu yang tidak mudah !”
Semoga bermanfaat. 
Wassalam.
==========================
fans page : http://www.facebook.com/Catatan.KangHabibArham