Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2KkpLVekC

PERUMPAMAAN PASIR DAN BATU

 ( Renungan Persahabatan )



Ada dua orang sahabat tengah melakukan perjalanan menyeberangi padang pasir. Pada suatu tempat, mereka berselisih paham dan terlibat dalam perdebatan. Salah seorang sahabat menampar muka sahabat yang lain. Sahabat yang ditampar hanya terdiam, dia sangat terluka hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, akhirnya ia menulis di pasir :
“HARI INI SAHABAT TERBAIK MENAMPARKU”

Setelah beberapa saat mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan berikutnya, mereka menemukan danau lalu mandi di danau tersebut. Orang yang ditampar tadi terjebak dalam gulungan lumpur dan terlihat mulai tenggelam. Sahabat yang tadi menamparnya pun datang menolong. Dengan bersusah payah akhirnya sahabat yang nyaris tenggelam itu pun berhasil diselamatkan. Dia pun terdiam sesaat, hatinya sangat terharu. Sambil menitikkan air mata, ia menulis kata – kata di atas batu :
“HARI INI SAHABAT TERBAIK TELAH MENYELAMATKANKU”

Sahabat yang menolong berkata, “Tadi saat aku menampar, kamu menulis di pasir. Sekarang ketika aku menolong, tiba - tiba kamu menulis di atas batu, mengapa ?”
Sahabat satunya pun menjawab, “Ketika seseorang melukai hati kita, sebaiknya kita hanya mengingatnya ibarat di atas pasir agar angin maaf segera bisa menghapusnya. Namun, bila seseorang berbuat baik kepada kita, hendaknya kita mengingatnya layaknya mengukir kebaikan itu di batu sehingga angin takkan pernah bisa menghapusnya.”

MENYAPA KEMBALI SUNGAI LUKULO :


Saat Melintasi Kota Lama "Kebumen"




Untuk : Sahabat lamaku yang terpisah jarak dan waktu.

Dalam paruh perjalanan menuju Yogyakarta, di satu pagi yang sarat mengabarkan musim penghujan datang, aku putuskan berhenti sejenak menyapa turunnya kabut di Jalan Deandles Kota Kebumen. Ditemani angin dingin bulan Agustus dan gemerisik pepohonan akasia, aku dapati raut Sungai Lukulo yang sepertinya masih memeluk kantuk.

Tiba – tiba aku temukan kedamaian, saat memandang bentangan ladang menyerupai kanvas luas dengan tumpahan cat warna hijau tegas. Rimbun padi sawah yang merunduk menciumi kening tanah serta gundukan semak rumput yang mirip gugusan pulau kecil di tengah lautan kabut. Semuanya mengingatkanku pada sebuah alenia dari tulisan Fergal Keane, penulis asal Irlandia, dalam bukunya Letter to Daniel :
"…. setiap kali pulang ke Cork pada musim panas, saya tidak dapat menahan keinginan untuk menjenguk St. Declans. Saya akan berhenti di sana selama beberapa waktu, bersandar dalam hangatnya pelukan yang tak terlihat, sambil membayangkan seolah – olah mendengar alunan musik opera dari radio, di tengah jerit suara anak – anak kecil, kemudian seorang wanita memanggil – manggil mereka untuk minum teh…"
Apa yang dirasakan Fergal Keane mungkin sama dengan yang aku rasakan saat ini : kerinduan kota lama !

Mungkin benar bahwa kerinduan adalah ruang batin yang sangat menggelisahkan dalam bahasa apapun. Mungkin benar bahwa kerinduan adalah layaknya kesendirian saat terapung dengan hanya berbekal dayung. Mungkin benar dalam bahasa yang lebih dewasa, kerinduan adalah satu pembelajaran untuk kita jujur tentang keterbatasan sebagai manusia. Kerinduan ibaratnya ujian dalam kubangan lamunan. Kerinduan adalah keharusan untuk terhenyak, menuju pilihan hidup yang lebih bijak.

Menyapa kembali ‘kota lama’. Sepertinya aku harus kembali menyelam, mengenang rentang waktu di tahun – tahun silam. Mengenang bingkai masa muda yang penuh luap harapan, kemanjaan, kebahagiaan, kepolosan, persahabatan, cinta, gurauan bermain, tertawa, menangis sedih, bercita – cita tulus, mendapati senyum ibu, mengaji dengan ayah, dan akhirnya menemukan sebuah garis penentuan yang mengajakku mempercayai sebuah arti kekuasaan Illahi.

Adalah masa – masa kecil. Ketika dulu aku sering menghabiskan pagi, melewati hamparan sawah yang hanya berjarak ratusan meter di belakang rumah. Berjalan kaki sembari bergelayut di lengan ayah yang terasa bersaraf kesabaran. Saat itu aku senantiasa menyelinapkan berlembar kertas kosong di saku baju. Sesampainya di tempat yang lebih tinggi, selalu kuminta ayah untuk duduk sejenak : menyaksikan lembu – lembu pembajak yang keluar dari arah perkampungan selatan, menyaksikan burung – burung putih terbang mengawang menyerupai perca – perca kertas. Saat itulah aku mulai gemar menulis puisi. Aku sering menyampaikan cita – cita,” aku ingin menjadi seorang Kahlil Gibran atau Victor Hugo.” Namun ayah tidak pernah menjawab, hanya mengangkat bahu dan mengulas senyum. “Kamu terlalu bersemangat nak,” hanya itu kata beliau. Masih juga kuingat ketika setiap sore di musim penghujan, aku sering berlama – lama duduk di belakang jendela. Menyimak dongeng dari ibu sembari mencermati guyuran air hujan yang turun membuncah. Ibu sosok yang sangat penyayang. Dapat aku rasakan setiap beliau berkali mengelus rambutku sembari bertutur pesan tentang kehidupan.

Hal lain yang sangat membekas adalah ketika hari siang selalu berhambur keriangan dari gurauan mereka kawan - kawan sebaya. Mereka begitu polos, mereka selalu tersenyum lepas. Sungguh menjadi begitu terbatasnya jiwa, ketika merasakan ruang usia berjalan begitu cepatnya.

Hingga akhirnya aku tersadar bahwa fase waktu ternyata sudah bergeser begitu jauh. Waktu hanya datang sekali, begitulah kita tidak pernah mampu mengulangnya kembali. Aku tersadar bahwa riak perjalanan telah tersusun oleh Sang Pemahat Keputusan. Manusia hanya bisa berusaha melihat, ketika  garis masa harus berjalan tanpa memberi isyarat. Termasuk ketika Tuhan saat itu menunjukkan, satu pelajaran yang sangat mendewasakan. Kawanku, aku kabarkan : bahwa orang - orang tercinta telah meninggalkan, di saat aku masih dalam pengembaraan.

Cerita itu agaknya telah terlarut dalam wajah ‘kota lama’. Sering membangunkanku tengah malam. Hingga dalam episode perjalanan aku betul -betul menemukan kesimpulan, bahwa kerinduan bukan sekedar kegelisahan. Kerinduan adalah satu kesadaran hati yang menuntut ketegaran dan keikhlasan diri.

Termasuk pagi ini, ketika akhirnya pendengaranku diserbu desis riak Sungai Lukulo. Baiklah, rupanya aku harus menyudahi kontemplasi. Aku harus kembali beranjak, meninggalkan air coklat Lukulo yang terus berkecipak. Pagi ini kuhempaskan nafas silam, menghembuskannya dengan satu filosofi mendalam : jadikan masa lalu sebagai guru. Karena hari ini adalah ikhtiar mawas diri dan hari esok adalah rencana yang lebih elok. Aamiin ya Rabb.

( Aku sempat meraih kertas dan menulis sebuah kalimat :
Untuk sahabat kota lamaku, yang kini terpisah jarak dan waktu. Semoga kita akan tetap berkawan, layaknya langit dan lautan. Kita memang terpisah jauh, namun suatu saat pasti akan bertemu. Karena pada waktunya air laut pasti menguap dan dia akan terbang tinggi ke langit menjadi gumpalan mendung dan awan )
Semoga..

REUNI

Oleh : Habib Arham

( Karena kita tidak pernah ada kemampuan untuk memutar kembali waktu yang telah berjalan.. )

  Jarum jam baru saja menjamah angka enam. Pagi pun masih dicekat gerimis lebat. Tiba – tiba dering telepon menyalak, merampas keheningan yang hampir memuncak.
“Apa kabar kawan ?” seseorang menyapa di loudspeaker.
“Alhamdulillah baik, Rud. Tapi maaf, kemungkinan aku tidak datang di acara nanti,” pria kurus itu menjawab dengan tatap menerawang.
“Aku sangat yakin, kamu pasti akan datang,” suara temannya kembali terdengar namun tidak terlalu jelas, seperti diracaukan tiupan angin keras.
“Kamu tidak sedang memaksaku, bukan ?”
“Aku tidak memaksa. Tapi ada satu hal yang pasti bisa membuatmu berubah pikiran.”
“Satu hal apa ?”
“Admira.”
Pembicaraan itu terhenti sesaat. Nama yang baru saja disebut, membuat lelaki itu seperti mendadak gugup. Rupanya dia perlu mengatur nafas, seolah ingin menyembunyikan benaknya yang cemas.
“Aku yakin kamu sedang berpikir, Arga.”
“Ada apa dengan Admira ?”
“Iya, aku baru saja mendapat kepastian bahwa Admira akan datang di acara reuni,” suara di loudspeaker bersemangat.
“Aku tidak akan berjalan mundur ke masa lalu. Aku sudah punya keluarga, Rud.”
“Setiap orang berkesempatan untuk menghapus ruang silam yang menggelisahkan. Admira adalah bagian terbesar dari sejarah penantianmu. Kamu masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Kamu tentu tidak ingin menyimpan sebuah tanda tanya di sepanjang hidupmu. Aku yakin, pasti kamu akan datang.”
“Kali ini kemungkinan tebakanmu akan salah.”
“Aku masih yakin, bahwa aku adalah satu – satunya pendengar yang baik dari semua ceritamu. Jangan bohongi hati kecilmu ! Kamu pasti ingin bertemu dengan Admira.”
“Aku tidak janji.”
“Sudahlah, sampai ketemu nanti ! O iya, jangan lupa acara dimulai jam delapan tepat,” setelah perkataan itu tiba – tiba terdengar suara telepon yang terputus.

Suasana kembali hening.

***

Di sudut taman, tepatnya di sebuah kursi besi berwarna magenta, Arga duduk sendiri. Sejak beberapa saat yang lalu, pria berambut crew cut itu sengaja menjauh dari hingar bingar acara reuni yang tengah berlangsung di hall. Dia rupanya tidak bisa menikmati riuh canda dan tawa keceriaan dari kawan - kawan lamanya. Pria itu justru lama merenung. Seolah ada ruang hampa yang belum berhasil dia temukan. Seperti ada sebersit harapan di dalam hatinya yang belum mendapati jawaban.

Sebatang anyelir tampak ikut tertunduk. Pucuknya yang menjuntai, sesekali hanya bergerak menjamahi bahu tanah. Gerimis bahkan telah habis. Namun pucuk langit masih disandera oleh gulungan mendung. Angin dingin musim penghujan menghampiri, mengajak angan lelaki itu untuk kembali terpendar ke masa silam.

Di sekolah inilah 15 tahun silam Arga menikmati masa remajanya. Sangat lekat di ingatannya, masa – masa riang ketika dulu masih berseragam putih abu – abu. Dia tidak akan pernah lupa, saat di sela – sela pelajaran, dia sering menyempatkan waktu untuk menyendiri. Menjauhi keramaian untuk sekedar memandangi hijaunya taman.

Rupanya hari ini dia harus memaklumi bahwa fase hidup sudah berjalan begitu jauh.
Rupanya hari ini dia harus kembali mendengar bahwa episode panjang masa remajanya kembali ditayangkan. Berita dan cerita tentang kawan lama kembali hilir mudik. Seolah dia sedang disadarkan, bahwa Tuhan telah menjadikan segala ruang dan peran tanpa ada yang sia – sia.

Begitu banyak cerita tentang kawan – kawan lamanya.

Haris, si Jangkung yang dulu sering mencontek saat ulangan. Sekarang menjadi pengusaha kuliner di Bali. Puluhan merk usahanya bahkan sudah berhasil dia waralabakan.
Ikbal, si Jenius yang dulu selalu rangking di kelas. Sekarang sudah menjadi manager di sebuah perusahaan asing. Dia tetap menjadi sosok yang dominan, terbukti ketika dengan bersemangat dia menceritakan kendaraan SUV four wheel drive keluaran Eropa yang konon baru dibelinya.
Susan adalah ketua kelas yang dulu idealis dan selalu aktif di organisasi. Sekarang dia telah menjadi seorang Kepala Sekolah di sebuah yayasan yang sedang berkembang.
Zulkifli, temannya yang cenderung bandel dan sering membolos ketika jam pelajaran. Sekarang dia telah menjadi ustadz di sebuah pesantren modern. Ternyata Zulkifli telah berhasil merubah penampilannya menjadi pribadi yang sangat bijaksana.
Ada lagi berita tentang Andi, seorang teman yang dulu periang dan selalu membuat teman – temannya tersenyum. Ternyata manusia tidak akan bisa menghindar ketika Sang Rabb telah berkehendak. Andi harus mempunyai takdir usia yang begitu muda karena Tuhan telah memanggilnya pulang dalam sebuah peristiwa kecelakaan.

Masih banyak cerita haru, sisi senang, dan perihal mengejutkan yang sejak tadi dia simak .

***
Begitulah dunia ketika semua berjalan tanpa terduga. Begitu pun dengan kedatangan Arga di acara reuni yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Admira. Entah bagaimana awalnya, karena sangat di luar dugaan ketika sosok itu kini benar – benar telah berada di hadapannya.

“Rudi memberitahuku, bahwa kamu sedang berada di sini,” ucapan itu keluar dari bibir Admira, perempuan berparas cantik yang selalu menyunggingkan senyum.
“Satu kehormatan bisa berbincang dengan Ibu Admira yang terhormat.”
“Berbincang dengan teman lama, mengajak kita untuk mengetahui banyak hal bahwa perjalanan hidup ternyata telah jauh bergeser dan berubah,” kembali wanita itu berucap.

Sejujurnya Arga sudah lama berkesimpulan bahwa Admira adalah perempuan yang tidak pernah menghiraukannya. Seseorang yang akhirnya sering menggugat lamunan. Seseorang yang akhirnya menjadi penantian panjang tanpa sempat dia mampu mendekatinya.
“Ya, waktu memang selalu mengajak kita untuk berubah,” Arga berusaha untuk berkata dengan tenang, “O iya, berapa lama kita telah terpisah ?”
“Mmm.. lima belas tahun,” perempuan di depannya menjawab seraya menerawang.
“Lebih tepatnya lima belas tahun lima bulan,” Arga melengkapi. Seolah dia sangat mempersiapkan kalimat tersebut.

“Boleh aku bertanya sesuatu ?” kat - kata Arga sedikit terbata.
“Tentu boleh. Sangat boleh.”
“Mmm.. menurutmu masa lalu itu apa ?”
Wanita di depannya tidak langsung menjawab, namun sejenak mengambil posisi duduk di kursi yang kosong.
“Menurutku, masa lalu adalah tempat yang teramat jauh, melebihi jauhnya bulan dan bintang. Karena dia telah menjadi sisi senang yang hanya bisa kita kenang, atau bahkan hela nafas yang hanya bisa kita hembus lepas. Jangan berharap dia datang, karena kita akan masuk bayang - bayang. Dan jangan menunggunya dengan waktu banyak, karena kita akan jatuh dan terjebak,” jawab Admira sembari menatap langit.

Arga dipaksa terbengong. Agaknya dia sulit percaya bahwa sebuah keajaiban sedang terjadi. Sesuatu yang menurutnya luar biasa karena ternyata seorang Admira rela meluangkan waktu untuk bertemu dan berbicara dengannya.
“Aku setuju dengan filosofimu. Satu hal yang sekarang aku paham, ternyata dirimu sangat cerdas.” Arga berkilah.
“Hmm.. kata – katamu berlebihan, Arga.”
Begitu sejuk telinga lelaki itu ketika mendengar namanya disebut oleh wanita di dekatnya.
“Boleh aku bertanya lagi ?” seolah ingin segera menuntaskan sebuah beban di batinnya, Arga kembali bertanya.
Admira memberi isyarat anggukan, menandakan bahwa dia tidak keberatan.
“Benarkah di masa lalu kamu pernah membenci seseorang ? Mungkin tepatnya, membenci seseorang yang dulu sering duduk di taman ini ?”

Kali ini Admira benar - benar tersenyum lebar. Sangat jelas pula jika wanita itu tengah menampakkan raut muka heran, “Atas dasar apa kamu berkesimpulan seperti itu ?”
“Ya, sejak lama aku ingin menanyakan hal ini, namun sepertinya aku tidak pernah punya kesempatan. Setahuku hal itulah yang telah terjadi. Aku hanya mendengar dari seseorang yang lebih dekat denganmu.”
“Aneh sekali, ada orang yang mengatakan seperti itu.”
“Tapi, sekarang kamu bebas menjawab, karena aku siap mendengarnya,” kata - kata Arga hampir tercekat.
“Tidak benar. Sama sekali tidak benar. Dulu aku tidak membenci siapa pun,” Admira menggeleng keras, “Justru yang telah terjadi adalah waktu itu aku sangat mengagumi seseorang.”
“Mengagumi seseorang ? Kalau boleh tahu, siapa orang itu ?”
“Dia adalah seseorang yang dulu sering menyendiri di salah satu sudut halaman sekolah ini.”

Arga tidak bisa menyembunyikan ketika wajahnya tiba – tiba memucat. Perasaan sulit percaya dia buktikan dengan berkali menggelengkan kepala.
“Apakah aku tidak salah mendengar ?”
“Aku yakin lambat laun kamu akan percaya. Kadang – kadang kita memang sulit untuk menebak perasaan seseorang. Persis seperti berkaca di cermin yang retak. Tragisnya, ada sebagian orang yang di dalam hidupnya berkeputusan untuk mengingkari kebenaran perasaan dan memilih menjadi pengagum dalam diam,” Admira menegaskan.
“Sungguh, jawabanmu sangat mengharukan,” bibir Arga gemetar, seperti ada langit penyesalan yang runtuh dan memenuhi ruang di dadanya, “Jika saja kamu mengerti, dahulu seseorang pernah menatapmu dengan banyak menggantungkan harapan. Begitu besar harapan tersebut, sehingga dia sering merasa tersakiti dan terpinggirkan, hanya karena hal - hal kecil yang mungkin tanpa sengaja kamu lakukan.”
“Ya.. kalau hal itu yang memang terjadi, aku mohon maaf, Arga. Aku benar – benar mohon maaf. Aku yakin Tuhan tidak pernah salah memberi kita perasaan, walau kadang dia seperti fatamorgana. Sesuatu yang jauh tiba - tiba serasa bisa kita rengkuh, sebaliknya sesuatu yang berada di depan mata kadang harus menjadi ruang penantian yang sangat lama.”
“Ya, terima kasih Admira. Sekali lagi aku terharu dengan kata – katamu. Namun bagaimanapun aku harus menyadari, bahwa kita tidak tercipta untuk masa lalu. Kita telah ditakdirkan untuk masa sekarang.”

Admira tertunduk, ternyata wanita itu sedang menyembunyikan matanya yang sempat berkaca – kaca.
“Setidaknya aku telah mengetahui, bahwa hal menyakitkan di masa lalu terjadi karena kita berada di jalan pikiran yang berbeda.”
“Ya. Terima kasih, Arga.”
“Aku juga mengucapkan terima kasih yang setulus – tulusnya, atas semua jawabanmu tadi.”
“Sama – sama.”
“Salam untuk keluargamu. Semoga dirimu dikelilingi oleh orang – orang yang selalu membuatmu tersenyum bahagia.”
“Amiin. Doa yang sama untukmu, kawan. Semoga dirimu rela untuk menjadi matahari yang selalu bisa menginspirasiku dari kejauhan.”
“Selamat jalan, wahai bagian nyata hidupku ! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”

Angin terhenti, seolah berat menyaksikan langkah keduanya untuk saling menjauh pergi.

***

Arga benar – benar beranjak. Perasaan haru dan lega menggelayutinya silih berganti. Dia mengucap syukur bahwa sebuah tanda tanya yang tersimpan bertahun – tahun akhirnya telah terjawab.
“Maafkan hamba ya Rabb, jika hamba telah salah dengan sebuah keadaan dan perasaan,” tak henti – hentinya dia berucap lirih.

Sesampainya di halaman parkir, pria itu sempat bersandar di dinding. Dia meraih selembar kertas dan menulisinya dengan sebuah catatan :

( Perasaan adalah ruang samar,
dia bukan sejauh yang terlihat kasat mata,
namun sedalam apa yang mampu kita percaya.
Percaya jika dia bukan sebatas mendatangi atau didatangi,
meninggalkan atau ditinggalkan
dan meraih atau diraih.
Tidak ada yang menang atau terbuang,
karena pemenang sejati adalah dia yang lebih tulus menerima
jika kebahagiaan seseorang menyadarkannya untuk melangkah pergi...
Karena hidup adalah bertahan dengan arus cobaan
dan berusaha berprasangka baik untuk mengarungi sisa waktu
demi merengkuh rahasia terindah-Nya )

Mendung mulai bergeser. Matahari yang mengintip dari celah rekahnya menggambar bayang hitam di sisi pohon cemara yang mencuat di halaman parkir. Diiringi hembusan angin paruh musim, Arga segera menyalakan engine sportbike-nya. Ketika terdengar suara mesin yang meraung, dia telah melesat ke jalan raya. Suasana yang lengang memberinya kesempatan untuk menarik trotle gas sampai menyentuh RPM red line. Beban di hatinya sengaja dia lepas, dinikmatinya hembusan alam bebas.

“Seperti halnya perjalanan matahari, ketika aku merasa begitu dekat dengan kehidupan seseorang, merasakan kesedihan dan kebahagiaan di dalam hatinya, maka senjalah yang kembali menyadarkanku bahwa pada saatnya nanti, matahari pun akan tenggelam dan menyimpan segalanya.”

***

Blog : www.habibarham.blogspot.com

PROSAIS PELABUHAN TANJUNG INTAN

Satu sore aku berdiri, menyabung persendian dengan udara dingin Segara Anakan. Bulan telah terbit lebih dini, menyembul di antara lambung – lambung kapal yang menyandarkan bayangan memanjang. Berulangkali denyut nadi keletihan Pelabuhan Tanjung Intan terdengar. Namun tetap saja ketika warna senja menguasai seluruh permukaan laut, kapal – kapal serentak menyalakan lampu suar. Melahirkan satu pemandangan menyerupai miniatur kota yang terdampar.



Tiba – tiba saja sebuah sisi abstrak menghampiri, mengajakku berkontemplasi. Entah mengapa selalu kutemukan kerinduan yang menggaung di kota ini. Entah mengapa panorama pucuk mangrove seolah menjadi pertanyaan yang sukar aku jawab dengan tepat. Mungkinkah ini menjadi analogi yang selalu sarankan senyuman tulus ? Atau setidaknya mengajakku kembali mengingat, saat suatu hari di salah satu sudut kota seseorang menanyaiku:
‘Mengapa engkau lebih memilih untuk memaafkan dia ?’


Ah, setahuku itulah pertanyaanmu yang sering mengiang begitu dekat.

‘Memaafkan adalah kemenangan yang sulit didapat. Hal itulah yang menyebabkanku selalu berusaha untuk bisa meraihnya. Aku percaya, nilai baik seseorang terkadang lebih tinggi dari sekedar yang kita lihat. Bahkan, kebaikan besar sering pula terselimuti oleh rahasia yang besar. Sehingga sejatinya hanyalah Tuhan yang bisa membaca segala sesuatu dengan adil.’ 

Itulah kata – kataku yang akhirnya disudahi oleh suasana langit yang bersemburat merah saga dan warna pasir yang berangsur dicengkeram gelap.
Seperti juga sore ini, kata – kata itu kembali menyadarkanku : tentang sebuah keterbatasan, tentang kefanaan manusia.

Akhirnya ketika sayup adzan mendekat, aku menyudahi kontemplasi dengan sebuah tulisan :
semoga kita bisa belajar setiap senja menjelang,
karena bulan di langit tidak pernah membatasi atau mengakhiri,
melainkan membantu menerangi jalan,
ketika kita terkadang melangkah di kegelapan.

==========================
Blog lain : www.habibarham.blog.com 

PETUALANGANMU BERAKHIR BUKAN KARENA TERJANGAN BADAI NICOLAS

Mengenang sahabatku : Ld di Cilacap

 

Badai Nicolas sudah bergeser ke arah tenggara, namun langit di atas perairan Samudra Hindia masih digantung rasa gelisah. Bulan hanya tersisa pucat dan sinarnya lebih sering berselinap di awan pekat. Adalah raut cemas yang terus membekas, karena kapal yang membawamu dari Pelabuhan Banjarmasin terpaksa harus berhenti di sekitar Teluk Popoh, Besole, Tulungagung setelah lolos dari terjangan angin dan ombak besar.

Kejadian tersebut adalah gambaran dari surat terakhirmu yang aku terima Pebruari 1999. Kejadian yang menyadarkanku bahwa perjalanan manusia memang selalu dibayangi keterbatasan. Kita menjadi sangat kecil dan fana bila harus berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Terbukti keberanian dan jiwa petualangmu pun tetap luluh lantak ketika harus menemui badai dan ombak yang datang mendadak.

‘Padahal Tuhan menciptaku sebagai pengembara’, itulah retorikamu yang begitu penuh semangat. Kata – kata yang pernah kamu ucapkan sewaktu kita harus tersesat dalam petualangan melelahkan untuk menaklukkan hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat di kawasan Dayeah Luhur. Satu pengalaman berat yang akhirnya menguji kesabaran kita karena detik waktu bergulir penat. Bahkan serasa hampir sepertiga malam harus kita habiskan untuk kembali menemukan arah terang menuju pegunungan Majenang.

Sahabat, kisah pertemanan kita ibarat rangkaian analogi kehidupan yang menyentuh jiwa. Tuhan telah sempurna menggambar keseimbangan dunia, antara siang dan malam, antara baik dan buruk, antara mimpi dan kenyataan, bahkan antara hidup dan kematian.

Bukankah kita selalu percaya, bahwa hidup dan mati adalah perjalanan penuh misteri, karena hanya Illahi yang mengetahui ? Manusia bisa saja menyusun rencana, manusia bisa saja menebak bayang – bayang, namun tetap saja Yang Maha Kuasa akan menggariskan. Apa yang kita banggakan belum tentu menjadi kenyataan membahagiakan.Termasuk apa yang kita takuti juga belum tentu akan datang mengakhiri.

Seperti kisah hidupmu, kawan. Kemirisanmu terhadap badai Nicolas hanya sebatas rasa cemas, karena ternyata keberanian pengembaraanmu justru harus habis dengan peristiwa yang lebih tragis. Bukan karena terjangan badai dan ombak, tetapi karena kecelakaan yang alangkah menyentak.

Sungguh tidak pernah terlintas di benakku, ketika tiba – tiba berita itu datang merontokkan dada. Suatu siang menjelang Idul Fitri 1419 H, di ruas jalan berliku di daerah Lumbir ( sekitar 40 km arah barat Kota Purwokerto ), daerah yang sering kamu kagumi sebagai lukisan alam yang indah, harus menjadi saksi bisu saat kisah hidupmu, mimpi – mimpimu, dan semua rencana panjangmu harus berakhir begitu cepat.

( Sahabat, namun aku selalu ingat satu kalimat yang dulu kita sama – sama percaya : pengalaman pahit tidak untuk diratapi, tetapi untuk dijadikan guru sejati. Hal itulah yang rupanya mengilhamiku untuk menuangkan sedikit cerita pertemanan kita – walaupun dalam setting dan alur berbeda – dalam sebuah novel persahabatan berjudul ‘LA CAUDA’.

Akhirnya, teriring salam dan doaku untukmu : semoga Tuhan memberi ketenangan dan kelapangan. Selamat jalan kawan ! )

=================================

LOVE IS BOULEVARD

( Cerpen Refleksi : ketika kebahagiaan dan tangisan menjadi dua sisi yang berbatas sekat tipis )

Oleh : Habib Arham



Ketika Maulana menguak jendela, udara Subuh masih merajut embun penuh. Hilir Sungai Amandit – salah satu sungai kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan – terus berkecipak, mengantar pergi gelap sekerat demi sekerat. Rimbun gelagah pun masih teracak, seolah belum hilang ingatannya dengan kelelahan petualangan bamboo rafting yang kemarin hari mengantar Maulana melewati rute arum jeram dari Loksado, kota kecil berjarak 130 km di luar Banjarmasin.
 
Pengalaman yang begitu berkesan. Mengarungi arus deras sungai yang lepas, melewati balai – balai Dayak Meratus yang dijumpai di kanan kiri, juga keindahan menakjubkan dari kawasan Gunung Kantawanyang. Belum lagi lukisan alam maha sempurna di daerah Kandangan. Rupanya saat ini semuanya menjadi sangat lekat dan singkat, begitu Maulana sadar bahwa tengah hari nanti rombongannya harus segera kembali menyebarangi Selat Bali.

Detik – detik waktu yang berjalan, nyaris habis menjadi sisa terakhir bagi Maulana untuk bisa menghirupi aroma sejuk Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ini pula sisa waktu terakhirnya bisa menyaksikan raut seseorang bernama Admira, gadis asal Banjarmasin yang telah menemani petualangannya sekitar setengah purnama berkeliling Kalimantan. Satu hal yang akhirnya tidak bisa Maulana menjawab, mengapa saat ini dia begitu berat untuk meninggalkan riak Sungai Amandit ?

Inikah kefanaan harap manusia, ketika mereka terlalu terlena dan merasa berat untuk menghadapi sebuah perpisahan ? Hal itukah yang dialami Maulana hari ini ? Entahlah, hatinya hanya bisa mengawang, bahkan beretorika mengulang.
“Bisakah perasaan terdalam seorang wanita meretas jika seseorang mau mendengar dan menyenangkan hatinya yang dirundung cemas ?”
Sejatinya Maulana tak membutuhkan jawaban, karena hatinya telah terjebak.

Yang dia ingat, cerita dilematis itu terawali ketika suatu sore di sebuah sudut Loksado, dia mendapati seorang Admira termenung dengan kesedihan mendalam dan sudut mata berkaca – kaca. Episode cerita pun terus berjalan, seiring udara bertiupan. Naluri terdalam Maulana selalu menuntunnya, dia ingin menenangkan hati Admira.
“Sungguh , aku tulus,” ucapnya. Namun inilah dunia, ketika semua harus berjalan tanpa teduga. Maulana pun tidak akan pernah berencana saat malam – malam selanjutnya justru menghampiri dengan berlembar misteri. Kegelisahan cinta! Dia tidak bisa menghindar, ketika senyuman – senyuman Admira kini selalu hadir dan membuatnya lama termenung sebelum tidur. Keterbatasan manusia menjeratnya, menyuguhkan taman – taman bunga. 
Entah, maya atau nyata.



***

Malam mulai hening, namun udara jengah belum juga berpaling. Ketika sisa hujan mengering lebih cepat, kini rumput halaman bahkan meluruh ditanggalkan penat. Seperti ada tabir ketakutan datang saat berkali lereng Merapi berkhabar tentang mimpi siang.

Di sebuah rumah di daerah Yogyakarta utara, seorang wanita bernama Safira masih terpaku di bibir ranjangnya. Sinar lampu pijar cukup jelas memperlihatkan sesosok bocah tengah tertidur di sampingnya. Agaknya Sang Bocah diserang rasa lelah karena tidurnya seperti mengandung raut gelisah. Setidaknya beberapa saat yang lalu dia sempat mengigau :
“Bunda.. bunda, ayah sudah pulang ?”

Sudah beberapa sore bocah kecil bernama ‘Lala’ itu selalu berdiri berjam – jam di depan jendela. Seolah sedang mencari sebuah jawaban dari lepas kerinduan di setiap senja menjelang. Selalu dia menyampaikan petanyaan, tidak pernah lupa dia ulangi di setiap petang :
“Bunda, kapan ayah pulang ?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kini menjadi pertanyaan yang sangat sulit bagi Safira untuk menjawabnya.
“Sayang, ayah sudah pulang tadi malam, sewaktu Lala masih tidur. Bahkan ayah sempat tidur di samping Lala, sempat memeluk Lala, terus menyanyikan lagu buat Lala,” entah sudah berapa kali Safira menjawab pertanyaan itu dengan kebohongannya.
“Mengapa ayah tidak membangunkan Lala ?”
“Lala masih tidur, makanya ayah tidak berani membangunkan Lala.”
“Memangnya ayah berangkat kerja jam berapa ?’
“Ya, ayah kerjanya jauh.. Jadi ayah harus berangkat pagi – pagi sekali, sebelum Lala bangun.”
“Ah, kasihan ayah. Kalau begitu nanti malam aku akan menunggu ayah. Lala tidak akan tidur sebelum ayah pulang.”
Sejujurnya Safira selalu dibuat cemas dengan dengan kata – kata Lala. Untunglah, bidadari kecilnya masih bisa percaya dengan cerita dan bujukannya, sehingga dia bisa selalu tidur sebelum gelap betul – betul menjadi sempurna.

Tetapi ada yang berbeda dengan malam ini. Safira betul – betul merasa sesak, hatinya terdesak. Perjalanan waktu seolah berubah menjadi pengembaraan berat. Wanita itu mendadak sangat terharu, sedih luar biasa. Bertumpuk penyesalan menyeruak di dadanya.

Lala adalah sebuah cermin dari Tuhan yang mengetuk dinding perasaannya. Safira merasakan dirinya tedampar dalam senyap. Dia tidak bisa berdusta, dua kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah ketidakjujurannya terhadap Maulana dan bidadari kecilnya, Lala.
Safira betul – betul gelisah, nafasnya habis tertumpah. Dia beranjak, merapat ke koridor jendela. Angannya mengawang, mengembara pekat. Nyaris hanya berteman kehampaan, nyaris hanya lahan gelap dan samudra senyap.

Waktu terus mengalir, semakin jauh bergulir.

Ketika tiba – tiba bumi berguncang, Safira tersentak. Wanita itu memucat. Traumanya terhadap gempa dua tahun silam kembali memuncak. Bergegas di dekapnya tubuh Lala yang masih tertidur, diraihnya, kemudian digendongnya bocah itu keluar rumah.

Suasana di halaman ternyata hanya dipenuhi kesunyian. Hanya terdengar nafasnya yang terengah dan suara bibirnya yang menggumam istighfar. Ucapan – ucapan itu terus mengalir, semakin keras, bahkan sempat membangunkan tidur Sang Bocah dalam dekapannya.
“Kok, bunda menangis ? Kita sedang berada di mana ?” Lala kecil sempat bertanya, rautnya mengggambar ketakutan.
“Sayang, beberapa saat yang lalu ada gempa. Makanya, bunda membawamu keluar dari rumah.”
“Gempa, apakah kita harus takut gempa ? Apakah gempa sama dengan kiamat ?”
“Tentu tidak, sayang. Sudahlah kamu tidak usah takut ya, mudah – mudah tidak terjadi apa – apa.”
“Bunda, aku jadi ingat ayah. Mudah – mudahan ayah tidak takut gempa. Bukankah sebentar lagi ayah pulang. Bunda selalu mengatakan, ayah akan pulang kalau hari sudah malam. Berarti sebentar lagi ayah pulang, Lala akan menunggu ayah.”

Safira tertunduk. Tubuh bocah itu didekapnya lebih erat. Seolah ingin menyembunyikan kesedihan di hati, berulang kali Safira menciumi rambut bidadari kecilnya. Namun tetap saja hati wanita itu betul – betul harus tercabik. Safira tak mampu lagi berkata – kata, ketika akhirnya hanya air bening yang terasa membasahi sudut matanya.

(BERSAMBUNG ke edisi posting selanjutnya..
Salam sastra ! )